Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

6 Tips Mengubah Gaya Hidup agar Lebih Hemat

Di era teknologi canggih seperti saat ini tuntutan hidup semakin tinggi. Siap tidak siap kita harus bisa mengikuti perkembangan teknologi yang begitu pesatnya agar tidak ketinggalan zaman. Saat ini peradaban manusia telah sampai pada kehidupan yang serba modern. Segala sesuatu dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Hal ini tak lepas dari dukungan teknologi yang berkembang di setiap lini kehidupan.

Disadari atau tidak teknologi mengubah gaya hidup. Mulai dari cara berpenampilan yang selalu mengikuti tren mode terbaru, pilihan menu makanan, hingga cara memilih hiburan baik untuk diri sendiri maupun bersama dengan keluarga. Perubahan gaya hidup ini cenderung mengarah pada kehidupan yang konsumtif alias boros.

Sikap boros tentu tak baik bagi kesehatan finansial ke depannya. Orang akan lebih memilih untuk membelanjakan uangnya dibanding dengan menginvestasikannya. Lagi-lagi tanpa disadari sikap boros tersebut justru menjerumuskan dalam kemiskinan dan jeratan utang. Di saat pasak lebih besar daripada tiang, sementara gaya hidup modern nan hedonis seolah telah mendarah daging tentu akan sulit untuk melakukan penghematan. Lantas, apa yang harus dilakukan? Berikut tips mengubah gaya hidup agar lebih hemat.

  • Selalu buat anggaran dan daftar belanja

Anggaran memiliki peran penting dalam mengendalikan pengeluaran. Oleh sebab itu, agar keuangan senantiasa sehat maka buatlah anggaran dan daftar belanja rutin. Namun tentu tak hanya sekadar membuat saja, tetapi juga harus mematuhi anggaran dan daftar belanja yang telah disusun. Anggaran dan daftar belanja berfungsi sebagai draft dari pengalokasian pendapatan yang dimiliki. Jika dipatuhi dengan baik, maka potensi pemborosan bisa diminimalisir bahkan dihindari.

Buatlah daftar sebelum Anda pergi berbelanja yang merinci barang-barang yang dibutuhkan. Ingat ya, yang dibutuhkan bukan yang diinginkan! Tanpa disadari keinginan sering kali membonceng kebutuhan, sehingga pengalokasian dana untuk belanja tidak terkontrol dan berakhir pada pemborosan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Membeli barang-barang yang memang benar-benar dibutuhkan jelas akan lebih memberikan manfaat dibandingkan membeli barang yang hanya sekadar diinginkan saja. Sebab barang yang diinginkan sering kali lebih berfungsi untuk memberikan kesenangan saja yang keberadaannya hanya memenuhi ruangan dan jika sudah bosan hanya akan menjadi sampah.

  • Utamakan membayar dengan uang tunai

Bayarlah dengan uang tunai saat berbelanja apapun kebutuhan Anda. Mengapa? Uang tunai merepresentasikan dana riil yang dimiliki, sehingga pengalokasiannya harus lebih cermat agar terhindar dari pemborosan yang mengakibatkan defisit anggaran. Membayar dengan uang tunai akan menjadi upaya kontrol diri dalam berbelanja. Jikapun membayar dengan non-tunai, sebaiknya menggunakan kartu debit.

Hindari berbelanja dengan kartu kredit. Di awal memang terasa begitu ringan, Anda tinggal gesek dan bisa membawa pulang sekantong bahkan berkantong-kantong barang yang dibutuhkan. Namun tanpa disadari pembayaran dengan kartu kredit akan berat di belakang, di saat Anda menerima tagihan yang nilainya bisa jadi lebih besar dari dana riil yang Anda miliki. Menghindari belanja dengan kartu kredit sama dengan menghindari utang. Kebiasaan berutang memang terasa manis di awal, namun disadari atau tidak akan terasa pahit di akhir. Oleh sebab itu, hindari utang dan bayarlah belanjaan Anda dengan uang tunai. Meski terasa pahit dan berat di awal, tetapi akan terasa manis dan ringan di akhir.

  • Berbelanja di momen tertentu

Setiap toko biasanya menyelenggarakan program promo di momen tertentu, seperti tahun baru, hari raya, hari kemerdekaan, dan lain sebagainya. Selain itu juga di waktu-waktu tertentu juga sering ada promo, seperti akhir, pertengahan, atau justru awal bulan. Gunakan waktu dan momen tersebut untuk berbelanja, karena Anda bisa menghemat puluhan ribu rupiah dari total yang biasanya dikeluarkan untuk belanja normal tanpa diskon. Namun tetap harus diingat, belilah barang yang benar-benar dibutuhkan saja. Jangan mentang-mentang banyak diskon kemudian ‘kalap’ membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, karena perilaku tersebut bukanlah penghematan tetapi justru pemborosan.

Jika Anda memiliki kebiasaan berbelanja setelah menerima gaji, mungkin bisa diubah sesuai waktu atau momen program promo yang diselenggarakan toko. Memang akan terlambat, namun Anda bisa menghemat pengeluaran.

  • Memasak sendiri

Membeli makanan di luar rumah alias jajan memang menyenangkan. Tak perlu repot, lelah, dan berkotor-kotor di dapur, tinggal menunggu sebentar dan langsung makan. Untuk itu, tentu ada harga yang harus dibayar, itupun tidak murah. Anda harus rela merogoh kocek cukup dalam untuk sekali makan. Apabila kebiasaan ‘jajan’ ini diterapkan dalam kehidupan Anda sehari-hari, pastinya akan menghabiskan sebagian besar anggaran hanya untuk makan, belum kebutuhan yang lainnya.

Apa salahnya jika Anda masak sendiri? Memang sedikit repot dan melelahkan, namun ada proses belajar di situ. Anda bisa mencoba berbagai resep makanan. Sekali berbelanja bahan makanan, bisa untuk diolah beberapa kali. Tak hanya itu, sekali masak juga bisa untuk makan satu hari. Tentu jauh lebih hemat. Memasak sendiri, Anda bisa memilih bahan makanan yang segar dan berkualitas. Selain itu, dengan memasak sendiri, Anda juga bisa menjaga higienitas dari makanan yang dimasak sehingga lebih menyehatkan.

  • Makanlah sebelum bepergian

Bepergian dengan perut kosong akan mudah tergoda untuk jajan. Oleh sebab itu, sebelum pergi apalagi jika tujuan Anda ke mal, sebaiknya makanlah terlebih dahulu di rumah. Pergi dengan keadaan perut kenyang setidaknya mampu meminimalisir godaan untuk jajan di mal yang harganya dapat menggagalkan upaya penghematan Anda.

  • Sederhana dalam berpenampilan

Penampilan sering kali diidentikkan dengan produk-produk fashion. Pada produk-produk inilah sering kali terjadi pemborosan pembelian. Banyak yang membeli produk fashion baik pakaian, tas, sepatu, maupun aksesoris bukan karena butuh tetapi ingin, agar penampilannya dapat memukau siapa saja yang memandang.

Tak sedikit orang yang terjebak dalam persepsi bahwa penampilan menunjukkan kelas atau strata sosial. Padahal tidaklah demikian. Banyak orang kaya dengan harta melimpah justru hanya berpenampilan sederhana. Sebut saja Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), Bill Gates (pendiri Microsoft), dan dari Indonesia sendiri ada Bob Sadino. Tidak perlu diragukan seberapa kaya mereka, tapi mereka lebih memilih untuk berpenampilan sederhana. Kekayaannya lebih banyak dimanfaatkan untuk berinvestasi dan mengekspansi bisnis juga berdonasi di lembaga-lembaga sosial, bukan pada penampilan.

Jadi, hematlah pengeluaran Anda untuk mempercantik penampilan. Tak perlu pakaian mahal, tas branded, dan produk-produk fashion lainnya yang serba mewah gemerlap. Belilah sesuai dengan kebutuhan, bukan kemauan. Semakin sederhana akan tampak semakin bersahaja.

Modernitas membawa konsekuensi biaya yang tidak murah. Untuk menikmati kehidupan yang serba mudah dan praktis ada harga yang harus dibayar. Di sini kita harus bijak dalam menyikapinya. Mengikuti arus modernitas dengan menerapkan gaya hidup serba mewah bukanlah tindakan yang bijak, karena hal tersebut justru dapat menjerumuskan dalam praktik pemborosan yang mengakibatkan krisis finansial. Hidup sederhana di tengah hingar-bingar modernitas justru menjadi solusi bagi kesehatan finansial, psikologis, dan juga fisik.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang 6 tips mengubah gaya hidup agar lebih hemat, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Ini Dia Tips Cara Menghemat Ongkos Traveling
Berniat Hidup Hemat? Simak Tips Berikut
Tip Hidup Hemat dan Tidak Boros
Perubahan Gaya Hidup yang Menghemat Uang
Orang Kaya Lebih Hemat Daripada Orang Miskin
Apa Beda antara Pelit dan Hemat?
Siapa itu John Maynard Keynes? Biografi John Maynard Keynes
Siapa Itu Adam Smith? Biografi Adam Smith
Pelajaran dari Krisis Yunani, Cara Bertahan Saat Krisis Ekonomi
Cara Membesarkan Anak agar Memiliki Mental Entrepreneur


Bagikan Ke Teman Anda