Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Ambil Pelajaran dari Krisis di Venezuela

Setiap negara pernah mengalami krisis ekonomi, lepas dari parah tidaknya keterpurukan yang melanda. Dari catatan sejarah perekonomian dunia, ada beberapa negara yang dihantam badai krisis ekonomi begitu dahsyat. Salah satunya Venezuela.

Sebagai salah satu negara di Amerika Latin, Venezuela dikenal sebagai negara makmur yang kaya akan minyak. Bahkan hampir 100 persen pendapatan negara tersebut bersumber dari penjualan minyak mentah. Dengan kekayaan yang melimpah tersebut, pemerintah pada masa kepemimpinan Hugo Chavez menjamin kehidupan yang layak bagi rakyatnya dengan membangun perumahan dan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan.

Venezuela dihantam krisis ekonomi pada tahun 2014 seiring dengan anjloknya harga minyak dunia. Hal tersebut jelas berdampak pada pendapatan negara yang menurun drastis, sehingga tak mampu membayar utang luar negeri. Ekonomi terus terpuruk diikuti dengan inflasi yang tinggi. Kebijakan pemerintah mencetak uang baru justru semakin memperparah tingkat inflasi hingga tak terkendali. Kondisi semakin kacau karena terjadi kelangkaan barang kebutuhan pokok sehingga memicu kelaparan. Krisis ekonomi terus berlangsung hingga tampuk kepemimpinan negara beralih ke Presiden Nicolas Maduro pada tahun 2013 sampai saat ini.

Krisis ekonomi yang berkepanjangan di Venezuela sebenarnya dapat memberikan pelajaran bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia agar tidak mengalami kondisi yang sama. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan pemerintah Venezuela hingga mengakibatkan krisis ekonomi seharusnya bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi negara lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Lantas, apa pelajaran yang bisa diambil dari krisis Venezuale?

  • Pentingnya diversifikasi sumber pendapatan negara

Sebab utama terjadinya krisis ekonomi di Venezuela adalah pendapatan negara yang turun drastis karena anjloknya harga minyak dunia. Celakanya, minyak merupakan satu-satunya kekayaan alam yang menjadi sumber pendapatan negara tersebut. Dari sini pelajaran yang bisa dipetik adalah pentingnya diversifikasi sumber pendapatan negara. Artinya, negara melalui pemerintah harus mampu menggenjot sektor-sektor ekonomi sehingga mampu menggerakkan perekonomian secara produktif dan mampu memberikan sumbangsih terhadap pendapatan negara.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki beragam kekayaan alam yang dikelola dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran seluruh rakyatnya. Mulai dari pertanian, pertambangan baik migas dan non-migas, perkebunan, hingga industri manufaktur. Meski Indonesia kaya akan sumber daya alam, namun apabila salah dalam pengelolaannya bukan tidak mungkin mengalami kondisi yang sama dengan Venezuela. Untuk mengantisipasi dan mencegahnya, Indonesia harus mampu mengelola sumber daya alam tersebut dengan baik sehingga bisa terus produktif dalam meningkatkan pendapatan negara.

  • Mengendalikan utang luar negeri

Hampir semua negara di dunia memiliki utang luar negeri, termasuk Venezuela meski dikenal sebagai negara kaya dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Dalam menjalankan ‘operasional’ kehidupan negara, utang atau pinjaman luar negeri diperlukan dan hal itu tak bisa dipungkiri. Namun, bijak dalam mencari pinjaman luar negeri juga menjadi kewajiban kepala negara. Artinya, jangan sampai nilai utang luar negeri tak terkendali sehingga sulit bagi pemerintahan negara untuk membayarnya. Sebab, jika utang luar negeri tak terkendali, maka akan berisiko pada hilangnya kedaulatan.

Meski tak sampai kehilangan kedaulatan, Venezuela terbukti tak mampu membayar utang-utangnya, termasuk utang obligasi. Kekayaan dari hasil penjualan minyak mentah seakan melenakan pemerintah negara tersebut sehingga abai terhadap cadangan devisa yang rendah. Akibatnya, pemerintah gagal membayar utang-utangnya karena kekurangan uang. Kondisi ekonomi yang terus memburuk menjadikan pemerintah semakin sulit untuk mendapatkan pinjaman luar negeri. Investor tak lagi percaya untuk menanamkan modalnya di Venezuela sebab pemerintah tak mampu memberikan jaminan apapun. Bahkan ketika harga minyak dunia mulai membaik, Venezuela tak mampu menggenjot produksi minyaknya, karena ketiadaan modal untuk mengadakan peralatan yang dibutuhkan.

Jika direpresentasikan dengan kondisi Indonesia, pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya mengendalikan utang luar negeri. Sebagaimana diketahui bahwa nilai utang luar negeri Indonesia sudah cukup mengkhawatirkan yakni lebih dari 5000 triliun. Nilai yang cukup membuat pusing pemerintah untuk membayar pokok dan bunganya ketika mendekati jatuh tempo. Bahkan, utang ini telah menggerus sebagian besar cadangan devisa negara yang saat ini kian menipis. Anehnya, di saat utang luar negeri semakin tinggi, pemerintah Indonesia justru rajin impor komoditas pangan di saat pasokan pangan nasional mengalami surplus. Di sisi lain, ekspor justru lesu. Akibatnya penerimaan negara pun menjadi kurang maksimal, bahkan mengalami defisit.

Dari kondisi ini, Indonesia seharusnya bisa belajar dari Venezuela. Menutup defisit anggaran dengan memperbanyak utang luar negeri bukanlah solusi terbaik. Bahkan bisa jadi mengancam kedaulatan negara karena pihak asing yang memberikan pinjaman akan merasa memiliki hak untuk mengintervensi hukum, peraturan, bahkan pemerintahan di Indonesia.

  • Tegas dalam memberantas korupsi

Korupsi seolah menjadi tindak kejahatan internasional yang terjadi di banyak negara. Tindak korupsi ini dapat diibaratkan sebagai penyakit yang dapat mematikan atau menghancurkan negara. Inilah salah satu penyebab terpuruknya ekonomi di Venezuela. Maraknya tindak korupsi di negara yang beribukota di Caracas ini sudah pada taraf mengkhawatirkan. Tak hanya dari kalangan pejabat publik tetapi juga pengusaha yang bekerjasama dengan pemerintah sebagai pelaksana program pemerintah. Aksi memperkaya diri sendiri dan kelompok dengan cara korupsi ini jelas merugikan negara, di mana kas negara berkurang sehingga tak mampu menyejahterakan rakyat dan membayar utang luar negeri.

Di Indonesia pun kasus korupsi terjadi begitu marak. Utamanya dilakukan oleh para pejabat publik mulai dari tingkat kepala daerah hingga anggota parlemen yang terhormat. Kas dan aset negara seolah menjadi bancakan bagi segelintir oknum pejabat dan kelompoknya saja. Rakyat berjibaku dengan peluh agar memperoleh penghasilan yang dapat mengimbangi harga-harga kebutuhan pokok yang merangkak naik. Sungguh, tindak korupsi ini merupakan kejahatan yang imbasnya begitu menyengsarakan rakyat.

Sayang, pemberantasan korupsi di Indonesia seolah mati suri, tak lagi garang terhadap para koruptor. Penanganan kasus korupsi seolah hanya jalan di tempat seakan sulit untuk menemukan titik terang keadilan. Jika pemerintah serius membangun kehidupan bernegara yang bersih, seharusnya mampu tegas dalam menindak pelaku kejahatan korupsi dengan memberikan dukungan penuh dan tidak mengintervensi. Tak pandang bulu siapapun pelakunya, semua sama di mata hukum.

Malapetaka ekonomi yang melanda Venezuela seharusnya sudah cukup memberi pelajaran agar tidak terjebak dalam permasalahan yang sama. Bangun negara dengan pemerintahan yang bersih dan pro-rakyat sehingga mampu menjamin rasa keadilan dan memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang pelajaran dari krisis di Venezuela, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Pelajaran dari Krisis di Zimbabwe
Bagaimana Bersiap Menghadapi Krisis Ekonomi
6 Tip Mempersiapkan Krisis Ekonomi yang Dapat Dicoba
Belajar dari Krisis di Venezuela
Apa Rasanya Tinggal di Negara dengan Hiperinflasi (HyperInflation)?
Hal-hal Berikut Seharusnya Diajarkan di Sekolah
Cara Bertahan dari Krisis Finansial
Pelajaran Apa yang Akan Diperoleh di Sekolah Bisnis?
Mengapa Financial Management (Manajemen Keuangan) Harus Diajarkan di Sekolah
Perbedaan Kebijakan Fiskal vs Kebijakan Moneter


Bagikan Ke Teman Anda