Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Itu Brain Drain?

Brain drain adalah sebuah situasi di mana sebuah negara kehilangan sumber daya manusia terbaik mereka. Istilah ini biasanya digunakan pada migrasi sekelompok dokter, tenaga medis profesional, ilmuwan, teknisi, dan ahli keuangan. Fenomena brain drain cenderung terjadi di negara berkembang.

Para ahli atau profesional merasa tertarik untuk mencari pekerjaan di negara yang lebih maju. Misalnya Eropa Barat dan Amerika Serikat. Apakah brain drain bisa menjadi masalah? Tentu saja. Negara berkembang akan kehilangan SDM terbaik mereka. Hal ini bisa berdampak pada kemajuan dn perekonomian negara tersebut ke depannya.

Faktor Penyebab Brain Drain

Fenomena brain drain tidak terjadi tanpa faktor atau alasan tertentu. Berikut beberapa hal yang bisa meyebabkan terjadinya brain drain:

  1. Kesempatan kerja di negara asal sangat sedikit
  2. Gaji yang dianggap tidak sebanding dengan keahlian di negara asal
  3. Kesempatan berkembang secara profesional sangat kecil di negara asal
  4. Kondisi ekonomi yang tidak stabil
  5. Kondisi politik yang tidak stabil.

Kelima faktor di atas bisa sangat berpengaruh pada pendapatan para profesional setiap bulannya. Jika kondisi yang sama terus berlanjut, wajar saja jika mereka mencari peruntungan yang lebih baik di negara lain. Pendapatan lebih besar dan perkembangan karir yang baik biasanya menjadi alasan utama.

Kerugian Akibat Brain Drain

Brain drain bisa sangat merugikan bagi negara yang mengalaminya. Setidaknya negera tersebut akan mengalami kerugian sebagai berikut ini:

  1. Berkurangnya Pendapatan Negara dari Pajak

Para ahli yang melakukan migrasi cenderung berusia aktif, yaitu 25-60 tahun. Pemerja aktif pada rentang usia ini merupakan penyumbang pajak bagi negara. Karena mereka memiliki kewajiban membayar pajak penghasilan. Sementara itu, mereka tidak mendapat tunjangan pensiun atau pendidikan (jika ada).

Jika mereka bermigrasi ke negara lain, tentu negara akan mengalami kekurangan pendapatan dari sektor ini. Apalagi jika dilakukan secara besar-besaran.

  1. Berkurangnya Lingkungan Kerja yang Kompetitif

Karena banyak pekerja ahli dan profesional yang bermigrasi, maka produktivitas kerja pun bisa menurun. Ini pun bisa berpengaruh pada lingkungan kompetitif yang sehat di tempat kerja. Ambisi untuk bekerja bisa menurun. Produktivitas pun tentu bisa sangat terpengaruh.

  1. Kehilangan Calon Pengusaha yang Potensial

Negara yang maju biasanya memiliki banyak pengusaha. Memang tidak semuanya, tapi tenaga ahli dan profesional sangat berpotensi menjadi pengusaha handal. Kehilangan calon pengusaha tentu merupakan kerugian.

Mereka seharusnya bisa membangun bisnis di negara asal yang dapat membantu perkembangan ekonomi. Bisnis semacam ini juga bisa membantu membuka lapangan kerja bagi lebih banyak orang.

  1. Kekurangan Tenaga Ahli

Migrasi penduduk usia aktif bisa dikategorikan ke dalam brain drain jika mereka adalah tenaga ahli dan profesional. Contohnya seperti dokter, perawat, ilmuwan, dan lainnya. Ini bisa menyebabkan negara asal kekurangan SDM yang berkualitas. Jika terjadi secara kontinyu, negara asal bisa mengalami kemunduran ekonomi.

  1. Merubah Cara Berpikir Kaum Muda

Jika brain drain dibiarkan dan terus-menerus terjadi, hal ini tentu saja akan sangat mempengaruhi cara berpikir kaum muda. Mereka akan melihat banyak contoh tenaga ahli dan profesional yang jauh lebih berhasil di negara lain. Kondisi finansial lebih stabil, kehidupan lebih nyaman, karir lebih berkembang.

Tentu hal-hal tersebut cenderung lebih menarik bagi banyak kaum muda. Mereka bisa saja jadi bercita-cita untuk segera bermigrasi begitu menyelesaikan pendidikannya. Bayangkan jika ini terjadi pada banyak ong dalam 1 negara. Tentu tidak menguntungkan bagi negara tersebut.

  1. Berpengaruh pada Perkembangan Sosial dan Politik

Bukan hanya berpengaruh pada kindisi ekonomi sebuah negara. Brain drain juga bisa berpengaruh pada perkembangan sosial dan politik. Kaum muda hanya memiliki sedikit panutan atau representasi tokoh yang sukses di negara mereka. Ini pun akan berpengaruh pada calon minimnya calon pemimpin yang potensial ke depan.

Kontrol korupsi, dijalankannya hukum yang adil, hingga kebebasan menyuarakan berpendapat juga bisa sangat terpengaruh dengan minumnya kaum muda. Terutama tenaga ahli dan profesional. Hal ini bisa mengakibatkan kemunduran pada suatu negara jika terus berlanjut.

Keuntungan Bila Terjadi Brain Drain

Negara berkembang memang bisa mengalami banyak kerugian dari fenomena brain drain. Namun tetap saja ada benefit atau keuntungan yang bisa diambil. Ini dia di antaranya:

  1. Migrasi Cenderung Bersifat Jangka Pendek

Banyak tenaga ahli dan profesional yang berencana untuk melakukan migrasi untuk sementara. Bukannya menetap untuk selamanya di negara yang lebih maju. Bahkan banyak yang hanya melakukan migrasi dalam jangka pendek.

Mereka cenderung bermigrasi untuk mendapat penghasilan yang lebih besar. Jika dirasa sudah cukup, mereka akan kembali ke negara asal. Banyak yang kemudian membangun bisnis di negara asal. Sehingga membantu kemajuan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru bagi penduduk setempat.

  1. Bertambahnya Pengalaman dan Keahlian

Mereka yang bekerja di negara yang lebih maju cenderung akan memiliki pengetahuan tambahan dan pengalaman lebih. Sehingga saat mereka kembali ke negara asalnya, ini akan sangat membantu saat mereka bekerja atau membuka bisnis.

  1. Uang yang Dikirimkan untuk Keluarga

Umumnya, para tenaga ahli dan profesional yang bermigrasi akan mengirimkan uang ke keluarga di negara asal. Terutama kalau mereka sukses secara finansial di negara yang lebih maju. Ini bisa berkontribusi baik pada perputaran uang di negara asal.

Uang yang dikirimkan ini juga bisa dijadikan untuk investasi. Misalnya membeli properti atau membuat bisnis yang dikelola keluarga di negara asal.

Contoh Negara yang Mengalami Brain Drain

Sejak abad ke-20, ada beberapa negara yang mengalami brain drain. Di antaranya adalah:

  1. Negara-Negara di Eropa Tengah dan Timur pada Masa Perang Dunia

Di masa Perang Dunia, terutama Perang Dunia II, bukan hanya negara berkembang di Asia yang mengalami dampaknya. Banyak negara di Eropa yang mengalami dampak langsung akibat perang selama bertahun-tahun. Bahkan negara di Eropa Barat pun menderita akibat perang antara kubu Poros dan Sekutu ini.

Banyak negara di Eropa Timur dan Tengah mengalami dampak yang buruk setelah perang. Terutama karena kondisi ekonomi begara yang tak kinjung membaik. Karena itulah, para tenaga ahli banyak yang memutuskan mencari peruntungan ke negara lain. Baik di Eropa Barat hingga ke Amerika Serikat.

Karena Sekutu memenangkan perang, maka banyak yang menuju ke negara aliansi Sekutu. Baik untuk mencari ilmu maupun pekerjaan. Pada masa ini, Amerika Serikat dikenal sebagai land of opportunity, negara yang memberi banyak kesempatan.

  1. India

Dilaporkan bahwa selama 30 tahun terakhir, imigran asal India tersebar di banyak belahan dunia. Para imigran India tidak hanya tersebar di negara-negara Asia seperti Malaysia dan Singapura saja. Bahkan ada banyak sekali komunitas imigran India di Inggris dan juga Amerika.

Kebanyakan mereka berawal dari menuntut ilmu di negara yang lebih maju. Setelah lulus dan memperoleh gelar dalam bidang yang diinginkan, mereka memilih untuk menetap dan mencari penghidupan di negara itu. Dibandingkan kembali ke negara asal. Karena kesempatan kerja yang lebih luas dan berkembang di negara tujuan.

Di Amerika misalnya. Kawasan Sillicon Valley yang meliputi San Fransisco, California, dan Bay Area merupakan kawasan penghasil teknologi informasi paking besar di dunia. Sebanyak 2/3 ahli IT asal India dilaporkan memilih bekerja di Sillicon Valley dibandingkan di negaranya sendiri.

  1. Afrika Selatan

Tingginya tindak kriminal, AIDS, dan minimnya kesempatan bekerja menjadi kombinasi yang menyebabkan terjadinya brain drain di negara ini. Afrika Selatan telah kehilangan ratusan ribu pekerja. Ditambah lagi dengan 70% tenaga ahlinya beropini bahwa mereka lebih memilih meninggalkan negara asal mereka.

Saat ini, Afrika Selatan sedang berusaha keras menanggulangi masalah ini. Mereka berusaha agar warganya tidak bermigrasi. Mereka juga berusaha menarik para profesional dari negara lain untuk berbisnis di Afrika Selatan.

  1. Iran

Iran sempat menjadi negara tertinggi dalam brain drain pada tahun 2006, menurut data IMF. Saat itu dilaporkan ada 180.000 orang bermigrasi setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan kesempatan kerja yang sulit didapat, Serta kindisi pemerintahan dan sosial yang opresif, hanya berpihak pada kaum yang berkuasa dan keluarga kaya.

Hal ini terutama terjadi pada tahun ’80-90an. Karena kerugian yang diperkirakan mencapai $50 juta per tahun, akhirnya saat ini Iran mulai berbenah. Mereka berusaha menjaga agar para tenaga profesional tetap berada di negaranya. Beberapa yayasan nasional di angun untuk mendukung hal ini.

  1. China

Meskipun China adalah salah satu pemain besar dalam perekonomian dunia, namun China juga mengalami brain drain yang serius. Banyak tenaga ahli dan profesional asal China yang memilih peruntungan di luar negara asalnya. Hal ini diperkirakan karena ketatnya sensor dan kurangnya kebebasan di China.

Sejak tahun 1978, banyak pelajar China yang meneruskan jenjang kuliah di negara lain. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 1 juta orang. Yang kembali ke China? Kurang dari 275.000 orang.

Pemerintah China sudah berusaha menarik perhatian mereka dengan memberi insentif lebih besar pada tenaga ahli. Namun, jumlah pelajar yang memilih menuntut ilmu ke luari neger semakin banyak saja setiap tahunnya.

  1. Meksiko

Imigran asal Meksiko merupakan masalah besar di Amerika Serikat. Karena ada banyak imigran ilegal yang melewati perbatasan Amerika setiap tahunnya. Walaupun begitu, banyak juga imigran asal Meksiko yang masuk ke Amerika dengan legal. Mereka pun saat ini hidup nyaman, sejahtera, dengan latar belakang pendidikan yang baik.

Brain drain di Meksiko disebabkan karena minimnya kesempatan kerja. Banyak tenaga ahli lulusan universitas ternama yang menganggur. Hal ini menyebabkan semakin tingginya jenjang pendidikan warga Meksiko, semakin tinggi pula keinginan mereka untuk pindah ke Amerika.

  1. Malaysia

Tak disangka-sangka, Malaysia juga termasuk negara dengan tingkat brain drain yang tinggi. Saat ini, 2 dari 10 warga Malaysia dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, memilih mencari kesempatan kerja di negara lain. Di tahun 2009 saja, ada 305.000 imigran asal Malaysia yang tersebar di berbagai negara.

Besarnya angka brain drain di Malaysia disebabkan karena kesempatan kerja yang minim. Selain itu korupsi pemerintahan dan kurangnya kebebasan beragama juga memainkan faktor penting. Warganya kehilangan kepercayaan kepada pemerintah.

Di tahun ’90-an, Malaysia membuat kemajuan yang sangat pesat. Namun saat ini perkembangannya menurun menjadi setengahnya. Banyak ahli yang berpendapat bahwa ini disebabkan oleh brain drain.

  1. Inggris

Inggris memang tidak mengalami kehilangan yang besar, karena mereka masih memiliki tenaga ahli yang cukup di negaranya. Namun menarik bahwa bahkan di negara yang maju dan kaya seperti Inggris pun bisa mengalami brain drain.

Selama beberapa tahun belakangan, lebih dari 1 juta lulusan universitas asal Inggris memilih bekerja di negara lain. Mereka memilih negara seperti Australia, Kanada, Amerika, Prancis, dan Spanyol sebagai tempat bekerja. Ke depannya, hal ini juga bisa berdampak bagi kemajuan dan perekonomian Inggris.

Akhir Kata

Brain drain bisa menimbulkan banyak kerugian bagi negara berkembang. Apalagi jika dilakukan secara serempak oleh tenaga ahli dari berbagai sektor kehidupan. Namun jika dilakukan dalam jangka waktu singkat, brain drain bisa jadi malah menguntungkan.

Dengan catatan, para tenaga ahli dan profesional ini bertujuan untuk membangun dan mengembangkan negara asal mereka. Bukan untuk pindah selamanya.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu brain drain, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa Itu Brain Drain?
Asuransi Mobil Allianz
Apa Itu Asuransi Mobil Kombinasi?
Apa itu OPEX (Operating Expenditure)?
Memahami Apa itu Monopoli Alamiah (Natural Monopoly)?
Apa itu Aset Goodwill?
Apa itu CAPEX?
Mengenal Asuransi Mobil Garda Oto, Asuransi dari Astra Motor
2 Tipe Pemimpin Perusahaan: Teori X dan Teori Y
Deretan Ide Bisnis yang Punya Prospek Bagus Saat New Normal


Bagikan Ke Teman Anda