Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Elastisitas Permintaan dan Penawaran?

Teori mengenai permintaan dan penawaran (supply and demand) merupakan hal yang penting untuk memahami ekonomi. Telah banyak pula pendapat yang menyatakan bahwa harga dan kuantitas produk yang diminta dan ditawarkan memiliki hubungan tertentu, sedangkan faktor ekonomi lainnya lebih cenderung konstan.

Apa yang dimaksud dengan elastisitas?

Elastisitas merujuk pada derajat respon permintaan atau penawaran yang berpengaruh pada perubahan harga. Derajat ini menunjukkan sejauh mana permintaan dan penawaran bereaksi atas perubahan harga suatu produk.

Semakin elastis sebuah kurva, maka perubahan harga sekecil apapun akan menyebabkan perubahan besar terhadap kuantitas produk yang dibeli di pasaran. Sebaliknya, bila sebuah kurva tidak elastis, maka perlu perubahan harga yang lebih besar untuk memengaruhi perubahan kuantitas produk di pasaran.

Bila digambarkan melalui grafis, elastisitas ini dapat ditunjukkan melalui kurva permintaan dan penawaran. Kurva yang lebih elastis akan berbentuk horizontal, sedangkan yang tidak elastis akan lebih miring atau cenderung vertikal.

Saat berbicara soal elastisitas, istilah “datar” atau flat merujuk pada kurva yang horizontal. Semakin datar elastisitas sebuah kurva, maka semakin dekat kurva tersebut pada bentuk horizontal. Kurva yang sangat elastis akan berbentuk horizontal, yang semakin tidak elastis akan berbentuk vertikal, namun kedua kondisi ini menunjukkan situasi yang ekstrem.

Produk yang tidak elastis

Elastisitas ini tentu bervariasi antara satu produk dan produk lainnya, karena sebuah produk bisa jadi lebih penting atau dibutuhkan oleh konsumen ketimbang produk yang lain. Permintaan akan produk yang dianggap sebagai kebutuhan cenderung kurang sensitif terhadap perubahan harga karena konsumen akan tetap membeli barang-barang tersebut meski harganya naik.

Produk-produk tersebut dianggap sebagai tidak elastis. Misalnya barang untuk kebutuhan sehari-hari seperti bahan bakar kendaraan/bensin.

Produk yang elastis

Di sisi lain, kenaikan harga pada suatu produk (barang maupun jasa) yang bukan merupakan kebutuhan umum/pokok akan membuat konsumen menjauh karena opportunity cost untuk membeli produk tersebut akan menjadi terlalu tinggi.

Produk seperti ini dianggap amat elastis dan biasanya mudah ditemukan; misalnya tersedia di supermarket, konsumen mungkin tidak selalu memerlukannya dalam kehidupan sehari-hari, serta produk tersebut dianggap memiliki subtitusi atau pengganti.

Misalnya bila harga minuman berkarbonasi merek X mengalami kenaikan harga, orang akan berpindah haluan dan lebih memilih merek Y untuk memenuhi dahaga mereka.

Rumus elastisitas

Untuk menentukan elastisitas permintaan dan penawaran suatu produk, kita dapat menggunakan rumus sederhana berikut ini:

Elastisitas = (% perubahan kuantitas : % perubahan harga)

Bila angka elastisitas lebih atau sama dengan 1, maka kurvanya dianggap sebagai kurva yang elastis. Namun bila kurang dari dari 1, kurva tersebut dianggap sebagai tidak elastis.

Elastisitas permintaan

Hukum permintaan menyatakan bahwa bila faktor lain tetap stabil, maka semakin tinggi harga suatu barang, semakin rendah permintaan akan barang tersebut. Konsumen akan cenderung menjauhi produk tersebut, mereka akan cenderung mengalihkan konsumsi pada barang yang dianggap lebih penting. Sehingga kurva permintaan berbentuk downward slope alias miring menurun.

Dengan kurva permintaan yang seperti itu, maka bila sebuah produk diturunkan ke pasaran sesuai dengan jumlah permintaan namun dibarengi dengan kenaikan harga sedikit saja, maka kurva permintaan akan nampak datar atau semakin horizontal. Artinya produk tersebut semakin elastis.

Elastisitas penawaran

Seperti hukum permintaan, hukum penawaran menunjukkan kuantitas yang akan dijual dengan harga tertentu. Namun tidak seperti hukum permintaan, kurva penawaran ini berbentuk miring ke atas atau upward slope, yang berarti semakin tinggi harga maka semakin banyak pula jumlah penawaran akan suatu produk. Produsen akan menyuplai barang lebih banyak dengan harga tinggi karena meningkatkan kuantitas produk saat harga naik akan meningkatkan pendapatan mereka.

Namun elastisitas penawaran sama dengan elastisitas permintaan. Bila perubahan harga memengaruhi jumlah penawaran, maka kurva penawaran ini akan nampak datar dan dianggap elastis. Di sisi lain, bila perubahan harga hanya berdampak kecil pada kuantitas produk yang ditawarkan, maka kurva akan berbentuk lebih curam, yang berarti tidak elastis.

Faktor yang memengaruhi elastisitas

1. Adanya barang pengganti

Pada umumnya semakin banyak barang pengganti yang tersedia di pasaran, maka permintaan akan barang tersebut semakin elastis. Misal bila harga secangkir kopi favorit konsumen naik, maka akan ada kecenderungan konsumen beralih pada merek atau secangkir minuman lain yang lebih murah.

Namun bila kenaikan harga tersebut berasal dari harga bubuk/biji kopi yang memang naik, maka bisa jadi tidak ada perubahan terhadap penjualan kopi, karena konsumen akan kesulitan untuk mencari pengganti kafein.

2. Kebutuhan

Seperti yang telah kami bahas, bila suatu produk dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, konsumen akan tetap membelinya meski harganya naik. Misalnya bila seseorang perlu naik motor untuk berangkat ke kerja setiap hari, maka meski harga bahan bakar naik, ia akan tetap membelinya karena bahan bakar merupakan kebutuhan yang tidak dapat diganti.

3. Waktu

Kita ambil contoh seorang perokok berat yang dapat menghabiskan satu pak rokok setiap harinya. Meski harga rokok yang biasa mereka beli naik, mereka akan cenderung tetap membelinya sebagai konsumsi sehari-hari.

Hal ini menunjukkan bahwa tembakau merupakan produk yang tidak elastis karena perubahan harganya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kuantitas permintaan. Namun bila perokok tadi merasa bahwa tidak mampu lagi bila harus mengeluarkan Rp20.000 setiap harinya untuk membeli satu pak rokok, maka bisa jadi ia akan mulai mengurangi konsumsi rokoknya seiring dengan berjalannya waktu. Sehingga elastisitas harga rokok bagi konsumen tersebut menjadi elastis dalam jangka panjang.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang elastisitas permintaan dan penawaran, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa itu Devisa?
Bagaimana Modus Rekrutmen Perusahaan Palsu?
Kesalahan yang Sering Dilakukan di Bandara
Kesalahan Umum Pengusaha UMKM
Definisi Too Big to Fail
Sifat-sifat Umum yang Dimiliki Orang Kaya
Kesalahan Umum Pembeli Rumah Pertama
Apa Itu Cumlaude vs Summa Cumlaude vs Magna Cumlaude?
Definisi Return On Assets (ROA)
Bagaimana agar Tetap Termotivasi untuk Bekerja Keras?


Bagikan Ke Teman Anda