Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Itu Gig Worker? Ternyata Tak Sama Dengan Freelancer

Adanya gig worker tak lepas dari pertumbuhan gig economy. Gig economy merupakan sistem tenaga kerja bebas dimana perusahaan hanya mengontrak pekerja independen dalam jangka waktu pendek. Kata gig berasal dari slang Bahasa Inggris yang berarti “manggung”. Dalam istilah ekonomi dapat berarti ‘pekerjaan untuk waktu tertentu’.

Data yang ditunjukkan Bloomberg menyebutkan bahwa sepertiga dari 127 juta pekerja Indonesia merupakan gig worker. Penyedia jasa bagi para pekerja lepas pun dalam setahun terakhir tumbuh hingga 26%. Tentu saja menarik mengulas apa itu gig worker secara lebih jauh.

Serupa Namun Tak Sama dengan Freelancer

Antara istilah gig worker dan freelancer memang sedikit sama jika diartikan secara bebas. Namun keduanya memiliki arti yang tak sama. Gig economy yang sangat berkaitan degan gig worker berarti sebuah sistem yang ada di pasar bebas. Industri pada gig economy sangat bersandar pada pekerja ahli yang terikat pada sistem kontrak jangka pendek.

Maka dari itu gig worker memiliki cara kerja dengan sistem kontrak namun tidak permanen untuk jangka pendek. Dan setelah satu kontrak selesai, pekerja tersebut akan berpindah dengan tugas lainnya.

Sedangkan makna bebas yang ada pada freelance tidak sepenuhnya ada pada gig worker. Untuk mempertemukan antara gig worker dengan institusi/industri, diperlukan platform online maupun agen sebagai pihak penyedia. Maka dari itu “bebas” pada kata freelancer tidak sesuai dengan kondisi demikian.

Secara tidak langsung, gig workers dikendalikan serta dikontrol oleh pihak ketiga. Mereka tidak sebebas freelancer. Bahkan sebagian upahnya mesti disisihkan untuk pihak ketiga.

Pesatnya Perkembangan Gig Worker di Indonesia

Belakangan konsep gig economy berkembang begitu pesat. Di pangsa tenaga kerja Amerika Serikat pun perkembangannya mencapai 15,8% di tahun 2015 lalu. Dalam periode tersebut, perkembangan wiraswasta naik menjadi 19%. Hal ini juga diikuti oleh melonjaknya pekerja independen yang mencapai 21%.

Selain di negeri Paman Sam, gig economy juga berkembang pesat di Nusantara. Pesatnya perkembangan platform online seperti Gojek, Grab, dsb menandai hal tersebut. Animo masyarakat akan kehadiran platform tersebut memang begitu besar. Banyak orang yang akhirnya melamar pekerjaan di wadah tersebut. Website yang menampung para pekerja lepas juga terus bertambah jumlahnya menambah geliat perkembangan gig economy.

Adanya Trend “buruh” Siap Kerja

Meningkatnya jumlah gig worker memang disebabkan oleh sejumlah hal. Salah satu yang paling mencolok adalah meningkatnya on-demand worker atau buruh siap kerja yang saat ini bisa dipesan secara online.

Majalah Forbes memprediksi bahwa di tahun 2030 nanti, generasi milenial tidak akan betah bekerja dengan model berangkat jam 9 pagi, pulang pukul 5 sore. Tentu saat ini model 9 to 5 masih kita nikmati. Namun tidak menutup kemungkinan model tersebut akan dianggap kuno dan membosankan untuk sepuluh tahun mendatang.

Bagi perusahaan, menggunakan gig workers memiliki keuntungan tersendiri. Perusahaan akan lebih bebas menunjuk staf yang akan menangani suatu proyek pada saat tertentu saja.

Selain itu, perusahaan pun akan lebih mudah mengeksplorasi pegawainya. Tentunya dengan kondisi kontrak jangka pendek, perusahaan akan lebih mudah menilai langsung pekerja yang berpotensi dijadikan andalan untuk merampungkan pekerjaan. Sedangkan untuk yang tidak layak akan langsung terlihat.

Di pihak pekerja, adanya sistem tersebut akan memudahkannya menyelesaikan pekerjaan dimanapun dan kapanpun, tanpa mesti hadir secara fisik.

Gig Workers Menarik Bagi Perusahaan Besar

Di Asia Tenggara, terdapat 100 juta pekerja yang berada di sektor jasa. Kebanyakan masih menggunakan cara tradisional untuk mencari pekerjaan baru. Dengan adanya sistem gig workers, tentunya akan lebih memudahkan para pekerja tersebut mendapatkan peluang.

Tak hanya dicari oleh perusahaan kelas startup hingga menengah, gig workers juga menarik di mata perusahaan besar. Samsung yang merupakan raksasa teknologi Korea saat ini mencari banyak talent di berbagai bidangnya. Mulai dari IT, desainer, hingga penjualan.

Jumlah proyek yang mencari gig workers pun mengalami peningkatan hingga 26% dalam setahun terakhir. Gig workers dinilai menarik karena selain tidak memakan banyak biaya pada perekrutan, berbagai ide segar pun dimiliki oleh para pekerja lepas ini.

Tantangan Menyatukan Gig Worker dengan Internal Worker

Adanya perubahan kebiasaan perusahaan dalam merekrut pekerja tentu mesti diiringi dengan penyesuaian ekosistem. Menyatukan tenaga kerja internal perusahaan dengan para gig workers pun menjadi tantangan besar. Tentunya hal tersebut tidaklah mudah. Bagi para pekerja lepas, mereka akan mudah bekerja dimanapun dan kapanpun secara fleksibel.

Namun bagi yang kurang memiliki ketrampilan tentu akan kesulitan mencari pekerjaan. Meskipun faktanya demikian, sistem semacam ini dinilai mampu mengurangi ketidaksetaraan yang terjadi di dunia tenaga kerja. Pekerja yang telah berpengalaman menyelesaikan proyek besar tentu akan dikategorikan khusus sehingga bayarannya lebih besar.

Namun bagaimana masa depan pekerja 9 to 5 jika trend gig workers terus berlanjut? Sebenarnya tidak perlu khawatir. Sebab banyak pihak yang meyakini kehadiran pekerja lepas tidak akan berpengaruh pada pekerja internal. Sebab, peran gig workers bukanlah sebagai pengganti, melainkan pelengkap.

Terlebih para pekerja lepas hanya akan dicari untuk sejumlah proyek tertentu saja. Berarti untuk saat ini, perusahaan masih memerlukan karyawan 9 to 5. Sebab, adanya karyawan internal sangat berperan membentuk karakter perusahaan beserta budayanya.

Perkembangan teknologi dan zaman yang semakin menggeliat tentu mengharuskan kita untuk mampu beradaptasi sehingga tidak tergerus olehnya. Hanya saja, apakah gig worker adalah perkembangan yang sesuai dengan kemajuan teknologi? Kita nantikan saja.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu gig worker, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa Itu Gig Worker? Ternyata Tak Sama Dengan Freelancer
Inilah 27 Trik Agar Kamu Terlihat Pintar Saat Rapat
Untung Rugi adanya Ketimpangan (Inequality)
Mengapa Harga Obat Bermerek Lebih Mahal?
Lunasilah Hutang-Hutang Bila Kamu Masih Kerja, Begini Caranya
Untung Rugi Menaikkan Upah Minimum
Apa itu Throw Away Society?
10 Superfood yang Mudah Ditemukan di Sekitar Kita
Apa Itu Refinancing Kredit
Isu Resesi Menyeruak Akibat Pandemi Corona, Ini 6 Tandanya!


Bagikan Ke Teman Anda