Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Itu Quantitave Easing? Memahami QE Lebih Lanjut

Istilah Quantitative Easing (QE) mungkin tidak populer di kalangan masyarakat umum, karena memang jarang dibahas dalam ranah publik. Meski demikian, istilah ini tentu tidaklah asing bagi mereka yang concern terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah terutama di bidang ekonomi. Quantitative Easing sering kali menjadi kontroversi, di mana sebagian beranggapan sebagai solusi, tetapi sebagian lainnya justru menganggapnya sebagai masalah. Kok bisa? Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Quantitative Easing itu?

Pengertian Quantitative Easing

Quantitative Easing merupakan kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral untuk meningkatkan jumlah uang beredar guna meningkatkan perekonomian dengan cara membeli aset-aset jangka panjang berupa surat-surat berharga pemerintah maupun bank komersial. Kebijakan moneter ini diambil untuk menciptakan inflasi sehingga mampu mencegah risiko deflasi.

Pada kebijakan moneter Quantitative Easing, bank sentral meningkatkan jumlah uang beredar di pasar dan mendorong bank-bank komersial agar bersedia menggelontorkan pinjaman atau kredit baik usaha maupun konsumtif kepada perusahaan dan juga masyarakat. Oleh sebab itu, dalam kebijakan moneter ini terjadi penurunan tingkat suku bunga jangka pendek hingga mendekati bahkan hingga level 0%. Asumsinya adalah tingkat suku bunga yang rendah akan menarik perusahaan dan masyarakat untuk mengajukan pinjaman atau kredit. Tingkat kredit yang tinggi diharapkan mampu meningkatkan ekonomi baik secara mikro maupun makro. Secara lebih lanjut, tingkat konsumsi masyarakat dan perusahaan juga akan meningkat. Dengan meningkatnya kegiatan usaha masyarakat dan perusahaan secara luas akan mampu memperbaiki bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Negara-negara yang melakukan Quantitative Easing

Cukup banyak negara yang telah melakukan kebijakan Quantitative Easing. Ada yang berhasil, namun ada pula yang tidak. Berikut negara-negara yang pernah melakukan kebijakan Quantitative Easing.

  • Amerika Serikat

Sebagai negara super power, ternyata Amerika Serikat tak lepas dari krisis ekonomi. Untuk menghadapinya, bank sentral Amerika Serikat, US Federal Reserve (The Fed) telah melakukan kebijakan moneter pelonggaran kuantitatif sebanyak 3 tahap. Maka, inilah juaranya dalam penerapan kebijakan Quantitative Easing. Negara adikuasa ini mengalami krisis ekonomi yang disebabkan oleh penurunan tingkat konsumsi dalam negeri, lesunya sektor properti, dan tingginya angka pengangguran. The Fed kemudian mengumumkan pemberlakuan kebijakan Quantitative Easing yang hingga saat ini telah dilakukan sebanyak 3 kali.

  1. Dimulai pada periode November 2008 hingga Maret 2010, bank sentral Amerika Serikat, US Federal Reserve (The Fed) mengucurkan dana total sebesar $1.650 triliun untuk membeli surat-surat berharga jangka panjang.
  2. Tahap kedua dilakukan pada periode November 2010 hingga Juni 2011. Di periode ini, The Fed menggelontorkan dana sebesar $600 miliar untuk membeli surat utang.
  3. Tahap ketiga dilakukan pada periode September 2012. Berselang 2 tahun dari tahap kedua, The Fed kembali meluncurkan dana untuk membeli surat utang sebesar $85 miliar.

Lantas, bagaimana dengan hasilnya? Secara bertahap, kondisi perekonomian Amerika Serikat mulai pulih dari keterpurukan. Kebijakan moneter ini mampu meningkatkan angka pengangguran, mendongkrak kembali sektor properti, peningkatan konsumsi dan investasi dalam negeri. Puncaknya pada tahun 2013, kebijakan moneter ini memberkan hasil yang signifikan, di mana perekonomian Amerika Serikat mulai stabil yang ditunjukkan dengan adanya tren positif dari waktu ke waktu.

  • Jepang

Jepang telah melakukan kebijakan Quantitative Easing lebih dulu dibandingkan Amerika Serikat, yakni pada tahun 2001 hingga 2006. Pada rentang tahun tersebut, Bank of Japan (BoJ) menambah cadangan mata uang dari 5 triliun menjadi 25 triliun yen. Uang tersebut lebih dialokasikan untuk membeli saham dan surat berharga lainnya secara besar-besaran, sedangkan aliran dana untuk pinjaman normal. Di tahun pertama, yen justru melemah terhadap dolar Amerika. Namun di tahun ketiga, perekonomian Jepang mulai stabil dan yen kembali menguat.

  • Uni Eropa

Perekonomian di negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa tengah mengalami kelesuan di awal tahun 2015. Untuk mengatasi hal tersebut, Bank Sentral Eropa (European Central Bank) mengumumkan akan melakukan kebijakan Quantitative Easing dengan mengucurkan dana sebesar €60 miliar setiap bulan guna membeli surat berharga dari sektor publik dan swasta selama periode Maret 2015 hingga September 2016. Kebijakan ini berdampak pada naiknya Indeks Euro Stoxx 50 (SX5E) secara bertahap. Artinya, perekonomian di negara-negara Uni Eropa mulai bangkit kembali.

Alasan perlunya dilakukan Quantitative Easing

Kelesuan dan krisis ekonomi menjadi alasan utama perlunya dilakukan kebijakan Quantitative Easing. Di saat perekonomian krisis, bisnis di beberapa sektor lesu, angka pengangguran tinggi, tingkat permintaan rendah, dan pastinya tingkat pendapatan masyarakat rendah.

Dengan kebijakan Quantitative Easing, jumlah uang yang beredar di masyarakat semakin bertambah diikuti dengan penurunan tingkat suku bunga jangka pendek pada level mendekati 0%. Tujuannya, masyarakat bahkan perusahaan terdorong untuk mengajukan pinjaman jangka pendek dengan bunga rendah tersebut. Pemberian pinjaman kepada perusahaan dan masyarakat tersebut ‘diharapkan’ mampu mendorong tingkat pengeluaran atau konsumsi yang tinggi. Jika hal ini terjadi, artinya tingkat permintaan atau belanja masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan juga semakin tinggi. Adanya permintaan yang tinggi, kegiatan produksi kembali dipacu agar mampu memenuhi permintaan tersebut. Dengan demikian, perekonomian mulai menggeliat dan melaju menuju stabilitas yang diharapkan.

Dampak Quantitative Easing terhadap perekonomian global

Kebijakan moneter Quantitative Easing yang dilakukan oleh negara tertentu memiliki dampak terhadap perekonomian global. Penambahan jumlah uang beredar di pasar yang dialokasikan untuk pembelian surat berharga dan penyaluran pinjaman tak hanya menjangkau pasar nasional saja, tetapi juga merambah pasar internasional, bahkan hubungan bilateral antar-negara pada sektor ekonomi. Pada prinsipnya, Quantitative Easing memberikan pengaruh positif terhadap indeks harga saham.

Banyaknya jumlah uang beredar berpotensi meningkatkan investasi sehingga menyebabkan capital inflow, yakni aliran modal yang masuk berkenaan dengan pembelian surat-surat berharga. Jika tingkat pengembalian yang ditawarkan cukup tinggi, maka capital inflow ini dapat memicu terjadinya inflasi. Tak hanya itu, derasnya arus investasi yang tidak diimbangi dengan peningkatan di sektor riil justru berisiko menimbulkan masalah baru, yakni capital flight, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang Quantitave Easing, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa itu Kebijakan Quantitative Tightening (QT)?
Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Contoh Keputusan Finansial yang Buruk
Mengapa Orang Yahudi Sukses?
Jangan Beli Mainan Anak-anak Seperti Ini
Kesalahan dalam Membeli Mobil
Jangan Menyewakan Rumah kepada Orang Seperti Ini
Skill Penting Wajib Dikuasai agar Sukses
Mengapa Asuransi Mobil Seharusnya Wajib?


Bagikan Ke Teman Anda