Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Reverse Stock Split? Definisi Reverse Stock Split

Kita tahu bahwa situasi pasar selalu berubah-ubah. Maka dari itu, untuk mengontrol hal ini agar tidak berdampak buruk bagi perusahaan, biasanya perusahaan akan mengambil tindakan yang bisa mempengaruhi pasar modal. Dan reverse stock split adalah salah satu contoh tindakan tersebut.

Reverse stock split adalah suatu aksi yang dilakukan perusahaan untuk mengendalikan harga saham. Perusahaan akan menggabungkan saham-sahamnya dan menghasilkan sejumlah kecil saham yang dianggap lebih bernilai dari sebelumnya.

Namun, kebanyakan investor sudah mengetahui bahwa adanya reverse stock splits merupakan sinyal bahwa perusahaan tersebut sedang memiliki masalah keuangan. Meskipun begitu, reverse stock splits bisa dikatakan jarang terjadi di pasaran karena sering menimbulkan kontroversi.

Stock Spilt

Sebelum masuk ke reverse stock split, sebaiknya Anda juga perlu mengenal istilah stock split. Stock spilt atau memecah saham adalah usaha yang dilakukan perusahaan untuk menurunkan harga saham. Penurunan harga saham dilakukan dengan cara membagi saham tersebut menjadi beberapa bagian sehingga jumlah saham menjadi lebih banyak. Dalam praktiknya, antara perubahan jumlah saham dan harga saham akan mengikuti perbandingan yang telah ditentukan sebelumnya

Dibandingkan dengan reserve stock splits, stock spilts lebih sering dilakukan oleh perusahaan. Salah satu tujuan utamanya yaitu untuk meningkatkan likuiditas saham di pasar saham. Peningkatan likuiditas ini dilakukan untuk mempermudah konsumen dalam melakukan proses penjualan dan pembelian saham.  Terutama untuk calon investor yang memiliki ritel kecil, sebab apabila harga saham terlalu mahal, mereka merasa tidak akan mampu membelinya. Dalam menentukan rasio untuk stock splits, perusahaan juga bergantung pada persetujuan dan kenyamanan pemegang saham.

Untuk mempermudah pemahaman Anda mengenai stock split, berikut ini adalah ilustrasinya. Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 100.000 lembar saham dengan harga masing-masing sahamnya Rp.1,000. Untuk menurunkan harga saham, perusahaan tersebut melakukan aksi stock split dengan perbandingan 5:1. Maka jumlah saham saat ini menjadi 500.000 lembar dengan harga masing-masing sahamnya adalah Rp.200.

Perhitungan stock split selalu dilakukan secara proporsional dan mengikuti perbandingan. Jadi, meskipun jumlah dan harga saham berubah, tetapi kapitalisasi pasar atau nilai perusahaan tetap sama. Dalam contoh tersebut, baik sebelum maupun sesudah stock spilt, kapitalisasi pasar adalah 100.000*1,000=100,000,000 atau 200*500.000=100,000,000 rupiah.

Reverse Stock Spilts

Nah, reverse stock split sendiri sebenarnya adalah kebalikan dari stock split. Apabila stock split dilakukan dengan cara menaikkan jumlah saham, maka reverse stock split bekerja dengan cara menurunkan jumlah saham yang beredar di pasar untuk meningkatkan harga saham. Meskipun harga saham yang lebih tinggi umumnya dipandang positif, akan tetapi kenaikan harga yang berasal dari reverse stock split dipandang sebagai sebuah tanda adanya masalah di dalam perusahaan dan hanya merupakan trik akuntansi.

Saat melakukan reverse stock split, sebuah perusahaan akan membatalkan semua saham yang beredar di pasar. Kemudian, perusahaan tersebut akan mendistribusikan saham baru kepada para pemegang sahamnya. Dan jumlah saham baru yang Anda dapatkan berbanding lurus dengan berapa banyak saham yang perusahaan miliki sekarang, yang mana tentunya jumlah saham yang baru akan lebih kecil. Reverse stock split biasanya disarankan oleh manajemen perusahaan namun tetap harus mendapat persetujuan dari pemegang saham melalui hak suara mereka.

Sama seperti stock spilts, reverse stock split juga mengikuti perbandingan yang telah ditentukan. Perbandingan ini disesuaikan dengan kondisi harga saham sekarang dan harga tujuan yang diinginkan. Jadi, apabila harga saham dinaikkan, maka jumlah saham akan diturunkan.

Berikut ilustrasi reverse stock split. Misalkan sebuah perusahaan memiliki 100.000 lembar saham dengan harga masing-masing saham Rp.1,000. Akan dilakukan reverse stock split dengan perbandingan 2:1. Maka, jumlah saham akan menurun menjadi setengahnya yaitu 50.000 dan harga saham akan meningkat dua kalinya yaitu menjadi Rp.2,000. Jadi, baik sebelum maupun sesudah proses reverse stock split kapitalisasi pasar masih tetap sama, yaitu Rp.100,000,000.

Contoh lain, misalnya Anda memiliki saham di sebuah perusahaan sejumlah 1.800 saham dengan harga Rp.3,000 per saham. Apabila perusahaan tersebut melakukan reverse stock split dengan perbandingan 3:1, maka saham baru yang akan Anda miliki sejumlah 600 saham dengan harga baru Rp.9000 per saham.

Secara umum, reverse stock split memang tidak mempengaruhi nilai perusahaan, meskipun begitu aksi ini tetap dilakukan karena saham perusahaan telah kehilangan nilai yang substansial. Konotasi negatif terkait hal ini sering kali justru berdampak negatif terhadap perusahaan itu sendiri.

Mengapa Perusahaan Melakukan Reverse Stock Splits?

1. Memulihkan Harga Saham dan Menarik Investor

Daripada reverse stock split, kebanyakan inverstor lebih suka stock split. Mereka akan mendapatkan saham yang lebih banyak dan gagasan ini dirasa akan memberikan keuntungan di masa mendatang.

Namun, sebaliknya, investor juga kurang tertarik dengan harga saham yang terlalu rendah. Persepsi investor terhadap saham tersebut menjadi kurang baik. Mereka akan beranggapan bahwa saham tidak terlalu bernilai atau dengan kata lain murahan. Maka dari itu, dilakukan reverse stock split untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap saham. Perusahaan melakukan reverse stock split untuk memulihkan harga sahamnya pada tingkat yang optimal, sehingga diharapkan para investor akan tertarik untuk melakukan perdagangan.

Dengan menggunakan reverse stock split,  perusahaan juga dapat membuat spin-off dengan harga menarik. Beberapa contoh perusahaan yang berhasil menggunakan strategi ini adalah Tyco International (TYC), Motorola Solutions (MSI) dan Time Warner (TWX).

2. Mendapatkan Posisi Aman di Pasar Modal

Selain untuk menarik investor, alasan terbesar lain mengapa perusahaan melakukan reverse stock split yaitu supaya tetap terdaftar di pasar modal. Reverse stock split sering dilakukan sebagai upaya penyelamatan agar harga sahamnya tidak terlalu rendah, sehingga mendapat posisi aman di bursa efek besar.

Sebab, apabila harga jatuh sampai ke level yang sangat rendah, saham tersebut akan rentan terhadap tekanan pasar, terlebih apabila bursa efek memiliki batas minimum atau ambang batas persyaratan pencatatan. Apabila sudah kurang dari batas tersebut, saham akan dikeluarkan dari pencatatan bursa efek tersebut atau dengan kata lain di-delisting.

Namun, kejadian demikian hanya terjadi di luar negeri seperti India dan Amerika yang telah memiliki ketetapan harga saham minimum di pasar modal. Misalnya saja bursa efek di New York memiliki peraturan akan menghapuskan saham yang bernilai kurang dari 1 dollar dari pencatatan.

Peraturan ini memaksa perusahaan-perusahaan untuk menaikkan harga saham yang rentan jatuh dengan cara menggabungkan beberapa saham untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi. Atau jika tidak, mungkin perusahaan tersebut terpaksa untuk mendaftar di bursa saham lain yang menerima saham bernilai rendah. Namun setelah itu, saham akan lebih sulit untuk dibeli maupun dijual. Oleh karena itu, reverse stock split dilakukan agar saham dapat bertahan.

Di pasar modal Indonesia sendiri belum ada batas minimum harga saham. Namun, ada juga perusahaan yang melakukan reverse stock split. Dari kasus-kasus yang ada, kebanyakan perusahaan di Indonesia melakukan reverse stock split apabila mengalami masalah besar.  Tujuan dari reverse stock split adalah membuat harga saham menjadi lebih besar dari sebelumnya, sehingga harga ini bisa bersaing dengan harga saham sektor sejenis lainnya.

3. Mengurangi Jumlah Pemegang Saham

Selain dua alasan di atas, mungkin juga ada alasan lain mengapa perusahaan melakukan reverse stock split, misalnya saja mengurangi jumlah pemegang saham. Mengapa? Sebab, dengan mengurangi jumlah pemegang saham, perusahaan dapat lebih mudah dalam mengatur pemegang saham. Seperti yang kita tahu, bahwa arah jalannya perusahaan juga dipengaruhi oleh pemegang saham. Jadi, dengan sedikit pemegang saham, perusahaan dapat lebih mudah menentukan regulasi yang dikehendaki.

Contoh Reverse Stock Spilt

Reverse stock split populer sejak tahun 2000 ketika banyak saham perusahaan yang turun ke level yang sangat rendah. Pada tahun 2001 saja, lebih dari 700 perusahaan melakukan reverse stock split akibat penurunan harga saham ini.

Pada bulan April 2002, perusahaan komunikasi terbesar di AS, AT&T Inc. (T), mengatakan bahwa mereka sedang merencanakan reverse stock split dengan perbandingan 1:5. Saat itu, mereka berencana untuk memutus divisi TV kabelnya dan menggabungkannya dengan Comcast . Aksi reverse split  ini dilakukan karena perusahaan tersebut khawatir bahwa spin-off dapat menyebabkan penurunan yang signifikan pada harga sahamnya dan dapat mempengaruhi likuiditas, bisnis, dan kemampuannya untuk meningkatkan modal.

Selain itu, perusahaan yang telah melakukan reverse stock split dan berhasil adalah rakasa keuangan American International Group . Pada tahun 2009, perusahaan tersebut berada dalam bahaya dan terancam akan ditarik dari bursa efek New York ketika sahamnya di bawah 2 dollar. Rata-rata perusahaan harus menjaga harga saham supaya tetap di atas 1 dollar. Sebagai antisipasi supaya saham tidak keluar dari pencatatan, perusahaan tersebut melakukan reverse stock split dengan perbandingan 1:20. Upaya ini berhasil membuat harga saham naik di atas 20 dollar.

Contoh lainnya adalah perusahaan Citygroup. Pada tahun 2011, perusahaan tersebut melakukan reverse stock split dengan perbandingan 1:10 untuk menaikkan harga sahamnya dari yang tadinya 4,5 dollar menjadi 45 dollar.

Contoh-contoh di atas adalah contoh sukses dari perusahaan yang melakukan reverse stock split. Namun berdasarkan penelitian pada perusahaan yang melakukan aksi reverse stock split, kebanyakan justru tidak mengalami perubahan signifikan pada kondisi perusahaan. Hal itu disebabkan oleh  tindakan perusahaan yang bertentangan dengan kehendak pasar. Dan stigma yang negatif juga memperkuat ketidakpercayaan publik.

Secara umum, reverse stock split dirasa tidak terlalu menguntungkan bagi pelaku pasar. Ini menunjukkan bahwa harga saham telah turun dan manajemen perusahaan berusaha untuk menaikkan harga tanpa proposisi bisnis nyata.

Jadi, apabila Anda adalah seorang investor, saham mana yang akan Anda jadikan sebagai investasi? Dari uraian tersebut, tentu saja Anda sebaiknya memilih saham yang perusahaannya melakukan stock split daripada reverse stock split. Perusahaan yang melakukan stock split dinilai cenderung lebih stabil dan kuat, sebaliknya perusahaan yang melakukan reserve stock split dinilai sedang memiliki masalah. Setidaknya, apabila perusahaan dalam kondisi aman, maka saham Anda juga akan aman.

Nah, mungkin sekian dulu untuk pembahasan kali ini. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca dalam memahami reverse stock split.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu reverse stock split dan definisi reverse stock split, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa itu Unicorn? Definisi Perusahaan Unicorn
Apa itu World Bank? Definisi Bank Dunia
Apa itu Crowdfunding? Definisi Crowdfunding
Apa itu Likuidasi? Definisi Likuidasi
Apa itu Waralaba? Definisi Waralaba
Apa itu Free Cash Flow? Definisi Free Cash Flow
Definisi Contribution Margin Pricing/Strategi Penetapan Harga Kontribusi Margin
Apa itu Capital Expenditure? Definisi Capital Expenditure
Definisi Reksadana Terproteksi
Apa itu Crowdsourcing? Definisi Crowdsourcing


Bagikan Ke Teman Anda