Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Rush Money dan Mengapa Berbahaya bagi Dunia Perbankan?

Dalam dunia perbankan internasional rush money disebut dengan bank run atau bank panic. Kedua konsep ini sama, yaitu saat banyak nasabah memutuskan untuk menarik uang mereka dari bank tempat mereka menabung secara besar-besaran.

Para nasabah ini merasa ketakutan bahwa bank tempat mereka menabung akan mengalami kebangkrutan, sehingga mereka berbondong-bondong pergi ke bank dan menarik habis uang mereka dalam waktu singkat guna menghindari kerugian.

Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah ketakutan atau kepanikan para nasabah; ketidakpercayaan mereka pada kemampuan bank untuk mengelola bisnisnya. Dalam hal ini, bank justru akan semakin mengalami risiko kebangkrutan bila semakin banyak nasabah yang menarik uangnya. Sehingga apa yang semula hanya berupa kepanikan masal dapat berubah menjadi kebangkrutan yang sebenarnya.

Untuk memahami apa yang terjadi saat rush money atau bank run dan apa saja implikasinya, mari kita pahami dulu bagaimana institusi perbankan dan deposit kostumernya bekerja.

Cara Kerja Bank

Saat Anda mendepositkan sejumlah uang dalam bank, uang tersebut akan menjadi demand deposit atau simpanan giro. Menurut UU Perbankan No.10 tahun 1998, giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, saran perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.

Dengan simpanan ini, Anda berhak mengambil uang Anda sewaktu-waktu. Namun berlawanan dengan hak nasabah, pihak bank tidak perlu menyimpan seluruh uang milih nasabah dalam satu brankas. Faktanya, banyak institusi perbankan yang menyimpan aset mereka dalam bentuk tunai dalam jumlah kecil. Sedangkan sisanya diputar oleh bank dan diberikan pada nasabah dalam bentuk pinjaman atau menginvestasikannya dalam bentuk aset berbunga lainnya.

Meski begitu, setiap bank wajib memiliki sejumlah minimum uang tunai di tangan mereka, yang tentu saja jumlahnya teramat kecil bila dibandingkan dengan total simpanan seluruh nasabahnya, yaitu sekitar 10%. Sehingga bank hanya dapat membayarkan penarikan uang nasabah dalam jumlah kecil dari total depositnya.

Terjadinya Rush Money

Cara kerja bank tadi tentunya dapat berjalan dengan baik dan perputaran uang dalam suatu institusi dapat berjalan dengan mulus. Namun sedikitnya jumlah uang tunai yang dipegang oleh bank menyebabkan mereka harus meningkatkan uang tunai tersebut untuk memenuhi tuntutan nasabah yang membutuhkannya.

Bila ada banyak nasabah yang memutuskan untuk mengambil uang mereka dalam jumlah yang besar dalam sekali waktu atau dalam kurun waktu singkat, maka bank harus mencari cara untuk menyediakan uang tersebut. Salah satunya adalah dengan menjual aset-aset yang dimilikinya. Terkadang aset tersebut harus dijual dengan harga yang rendah agar cepat laku dan kerugian yang diderita oleh bank dalam penjualan asetnya inilah yang justru dapat menyebabkan bank bangkrut.

Risiko terjadinya hal semacam ini memang kecil, kecuali para nasabah amat yakin bahwa uang mereka sudah tidak lagi aman dikelola oleh bank tempat mereka menabung. Seringnya, kebangkrutan sebuah bank merupakan isu yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan memang berniat memrovokasi, sehingga menimbulkan kepanikan nasabahnya.

Contoh Rush Money

Pada skala internasional, rush money atau bank run pernah terjadi pada tahun 1929 di Amerika Serikat saat terjadi The Great Depression alias depresi ekonomi besar-besaran. Kejadian ini merupakan efek domino karena berita mengenai sebuah bank yang mengalami kebangkrutan menakuti para nasabah bank lain dan mendorong mereka untuk turut menarik seluruh uang mereka dari sana.

Ada pula bank run yang merupakan hasil dari rumor yang disebarkan oleh seorang nasabah. Pada Desember 1930, warga kota New York meninggalkan sebuah bank setelah pihak bank melarang ia menjual saham yang dimilikinya. Ia lantas menyebarkan kisah ini pada orang lain dengan mengatakan bahwa bank tersebut tidak mau atau tidak dapat menjual sahamnya. Hal ini menimbulkan desas-desus dan kepanikan nasabah lain yang mengartikan pengalaman tersebut sebagai tanda-tanda kebangkrutan bank tadi. Ribuan nasabah lantas mengantri dan dalam hitungan jam menarik uang dengan total $2 juta (jumlah yang fantastis pada masa itu) dari bank tersebut.

Efek Negatif Rush Money

Penarikan uang yang tidak terkontrol justru dapat menyebabkan sebuah bank yang sebenarnya dalam kondisi stabil mengalami risiko kebangkrutan, karena sesehat apapun bank tersebut pastilah akan kerepotan bila harus memenuhi tuntutan massal nasabahnya. Lebih jauh, hal terburuk yang dapat terjadi dari fenomena ini adalah resesi ekonomi.

Rush money tidak hanya memiliki imbas negatif pada dunia perbankan namun juga pada nasabah itu sendiri. Alih-alih menghindari kerugian, rush money justru dapat merugikan para nasabah yang, misalnya, melakukan penarikan simpanan deposito berjangka. Bila deposito tersebut belum jatuh tempo, maka nasabah akan dikenai penalti.

Bank pun dapat menghindari terjadinya hal ini dengan membatasi jumlah penarikan uang tunai yang dilakukan oleh nasabahnya dalam sekali waktu, bisa juga dengan menangguhkan penarikan sekaligus. Ada pula bank yang meminjam uang tunai dari bank lain atau bank pusat untuk memenuhi tuntutan nasabahnya.

Hal-hal tersebut ditempuh guna menghindari ketidakstabilan ekonomi yang dapat berimbas secara sistemik. Tidak hanya memengaruhi spirit keuangan nasabah, namun lebih jauh dapat meluas pada sektor rill dan yang akan pertama kali terkena efeknya sudah pasti adalah masyarakat miskin.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang Rush Money dan mengapa berbahaya bagi dunia perbankan, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Good Corporate Governance (GCG) Perbankan dan Cara Kerjanya
Pentingnya Mengenali Nasabah dalam Sektor Perbankan
Apa Itu ‘Bank Stress Test’?
Perbedaan GPN, Visa, dan Mastercard Serta Dampaknya pada Perdagangan Internasional
Analisis CAMEL untuk Kesehatan Perbankan
Apa itu Rasio Kecukupan Modal – Capital Adequacy Ratio (CAR)?
Perbedaan Transfer Uang Via LLG, RTGS, dan ATM Bersama
Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Contoh Keputusan Finansial yang Buruk


Bagikan Ke Teman Anda