Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Definisi Psychological Pricing / Strategi Penetapan Harga Psikologi

Pengaruh alam bawah sadar memang seringkali menjadi faktor yang ikut menentukan keputusan tindakan seseorang, termasuk dalam keputusan belanja. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar yang berkaitan dengan belanja adalah harga psikologis, atau psychological pricing.

Memang, psikologi adalah ilmu pikiran yang cakupan ilmunya sangat luas. Bahkan ilmu psikologi bisa diadopsi dalam ilmu perdagangan terkait dengan penentuan harga. Harga psikoligis atau psychological pricing adalah strategi penetapan harga berdasarkan teori bahwa harga tertentu dapat memiliki dampak psikologis pada seseorang.

Biasanya, harga psikologis diberlalukan oleh para pedagang dengan cara menetapkan harga ganjil pada produknya. Penetapan harga ganjil ini akan membuat efek pada pembeli bahwa harga yang ditawarkan lebih murah. Hal ini dikarenakan alam bawah sadar manusia memproses harga ganjil lebih murah daripada harga genap. Selain itu, seseorang juga akan cenderung membulatkan harga ganjil tersebut ke digit yang lebih rendah dengan mengabaikan beberapa digit terakhir.

Misalnya, suatu produk diberi label harga sebesar Rp 19.999. Alam bawah sadar seseorang secara cepat akan memproses bahwa harga produk tersebut adalah sebesar Rp 19 ribu rupiah. Hal ini disebabkan orang-orang cenderung mengabaikan angka-angka pada digit terakhir. Padahal angka Rp 19.999 tersebut lebih dekat jika dibulatkan pada angka Rp 20 ribu.

Penerapan penetapan harga psikologis tercatat sudah diterapkan pada tahun 1997. Hal ini sesuai dengan penelitian yang diterbitkan dalam Buletin Pemasaran pada tahun tersebut. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa pada tahun 1997 terdapat sekitar 60% dari harga produk dalam iklan memiliki akhiran angka 9,30% memiliki akhiran angka 5,7% memiliki akhiran angka 0, dan 3% sisanya berakhiran dengan tujuh digit gabungan yang tersisa.

Dalam penerapannya, harga psikologis memerhatikan beberapa teori di bawah ini:

1. Kerugian Terasa Lebih Berarti daripada Keuntungan

Konsumen akan cenderung berfikir lebih mengenai kerugian yang akan ia terima daripada keuntungan yang akan ia dapatkan. Rasa rugi akan memberikan efek sakit yang membuat seseorang akan cenderung lebih mudah teringat dan cenderung menghindari mendapat kerugian. Hal ini membuat seseorang akan mencari keuntungan walau sangat sedikit dalam keputusannya membeli sesuatu.

Misalnya, pada label harga Rp 19.999, seseorang akan berfikir bahwa harga acuan dari nominal tersebut adalah sebesar Rp20.000, sehingga ia akan memiliki keuntungan sebesar Rp 1. Ini sangat berarti bagi seorang pembeli, walaupun keuntungan yang ia rasa telah ia dapatkan adalah sebesar 1 rupiah saja. Pemanfaatan unsur mendapatkan keuntungan dan kerugian ini sangat efektif dalam strategi penetapan harga.

2. Pembeli Cenderung Mengabaikan Beberapa Digit Terakhir pada Label Harga

Hal ini telah diterangkan pada pembahasan sebelumnya, bahwa pada contoh harga Rp 19.999, pembeli cenderung mengabaikan tiga digit terakhir pada label harga sehingga pembeli akan membulatkan angka tersebut menjadi Rp 19 ribu. Harga yang lebih murah ini akan membuat pembeli akan lebih tertarik untuk membeli produk tersebut.

Berkaitan dengan teori ini, Keith Coulter, Associate Professor Marketing di Graduate School of Management, Clark University, menyarankan satu teknik label harga yang dinilai efektif. Profesor tersebut menyarankan untuk mencetak digit pecahan terkecil dengan ukuran yang lebih kecil. Misalnya, harga Rp 19.999 lebih baik ditulis dengan Rp 19.999.

3. Menetapkan Diskon Lain di Samping Menetapkan Harga Psikologis

Salah satu cara untuk memaksimalkan fungsi dari harga psikologis adalah dengan menggabungkan harga psikologis dengan diskon yang lain. Penggabungan dua elemen ini akan membuat pembeli berfikir bahwa ia akan mendapatkan banyak keuntungan dengan membeli produk yang dipasarkan. Misalnya, penjual bisa menggabungkan harga psikoligi dengan promo beli satu gratis satu. Atau pembeli juga bisa memberlakukan diskon 50%, di samping dengan menerapkan harga psikologis.

4. Harga Komparatif

Dalam pengambilan keputusan dalam berbelanja, seseorang seringnya juga memerhatikan harga barang lain dari produk sejenis sebagai harga komparasi. Harga komparatif berfungsi sebagai harga acuan pembanding untuk satu merk produk yang akan dibeli. Teknik penerapan harga komparatif adalah dengan cara meletakkan merk produk yang berbeda di samping dengan merk produk yang menjadi target. Hal ini akan menimbulkan efek bahwa pembeli adalah pihak yang memegang kendali dalam pengambilan keputusan berbelanja karena pembeli memiliki banyak pilihan merk dari produk yang sama.

Dalam penerapannya, penetapan harga psikologis memiliki sejumlah keuntungan, diantaranya:

  1. Membuat pembeli lebih tertarik untuk membeli. Hal ini dikarenakan harga psikologis menimbulkan efek bahwa harga yang ditawarkan oleh penjual terasa lebih murah.
  2. Label harga bisa dibandingkan, sehingga pembeli dapat memiliki banyak pilihan dalam keputusan belanjanya.
  3. Bagi penjual, akan lebih mudah menerapkan diskon saat menetapkan harga psikologis. Penjual bisa saja menyebut harga Rp 19.999 sebagai harga diskon sebesar 50%. Padahal di sisi lain, hara tersebt bukanlah harga diskon yang sebenarnya. Karena dari efek harga psikologis yang membuat harga tersebut terlihat lebih murah, maka terasa akan baik-baik saja jika penjual menyebut harga tersebut sebagai harga yang telah didiskon.

Dengan keuntungan-keuntungan yang tersaji oleh harga psikologis, tentu penetapan harga psikologis bukanlah hal yang tidak ada salahnya untuk dicoba. Bahkan perusahaan Internasional sekelas ABC juga menerapkan harga psikologis ini. ABC International melakukan penyelidikan terhadap harga pesaing dari mobil produksinya. Para pembeli mobil menggunakan layanan belanja harga on line untuk mengevaluasi harga mobil, dimana pada layanan itu ditampilkan harga mobil-mobil yang tertera adalah pada kisaran $ 10.000. Atas dasar itu, ABC memutuskan untuk memberi harga kendaraan pada $ 19.999. Untuk memposisikan dirinya dalam pasar mobil, ABC juga menetapkan rentang harganya sebesar $ 10.001 – $ 20.000.

Walaupun dinilai efektif dan memberikan banyak keuntungan, penetapan harga psikologis juga memiliki kerugian tersendiri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembeli, bahkan yang masih berusia sangat muda, bisa dengan sadar mencerna harga sebenarnya dari harga psikologis. Para pembeli bisa berlaku rasional dengan mencerna harga sebesar Rp 19.999 sebagar Rp 20.000, bukan sebesar Rp 19.000.

Itulah penjelasan mengenai definisi harga psikologis lengkap beserta dengan teori-teorinya. Pada hakikatnya, semua strategi penetapan harga memiliki kekurangannya masing-masing. Namun, apa salahnya menerapkan harga psikologis dalam penjualan?

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang definisi psychological pricing / strategi penetapan harga psikologi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa itu Remunerasi? Definisi Remunerasi
Apa itu Jurnal Penyesuaian? Definisi Jurnal Penyesuaian
Apa itu Gold Standard? Definisi Gold Standard
Apa Itu Underwriting? Definisi Underwriting
Apa Itu Corporate Credit Card? Definisi Corporate Credit Card
Tip Tawar Menawar Harga di Tempat Wisata
Apa itu Bank Investasi? Definisi Bank Investasi
Apa itu Variable Cost? Definisi Variable Cost
Apa itu Cash Advance? Definisi Cash Advance
Apa itu Grace Period? Definisi Grace Period


Bagikan Ke Teman Anda