Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Efek Pertumbuhan Ekonomi Cina Melambat

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Cina telah mengalami transformasi yang luar biasa. Cina yang awalnya sebagai negara berkembang dengan populasi terbesar di dunia, kini telah menjadi negara super power kedua setelah Amerika Serikat dalam tiga dekade ini.

Pertumbuhan ekonomi Cina melaju pesat dengan kecepatan rata-rata 10% per tahun. Tak heran jika Cina menjadi ‘raksasa’ yang memiliki pengaruh baik secara ekonomi maupun politik di kawasan Asia Pasifik, bahkan Amerika dan Eropa.

Keberhasilan Cina memacu ekonominya bertumbuh secara signifikan sehingga menjadikannya negara adidaya di kawasan Asia, agaknya kurang menyenangkan bagi Amerika Serikat. Masuk akal, karena otomatis Cina akan menjadi pesaing Amerika Serikat dalam ‘mengatur’ perekonomian dunia. Rivalitas yang muncul memicu terjadinya perang dagang diantara kedua negara ini.

Perang dagang dengan Amerika Serikat diakui atau tidak berpengaruh terhadap perekonomian Cina. Tak sedikit kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang ‘menghantam’ ekonomi Cina, sehingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi negeri panda tersebut melambat. Dari pertumbuhan ekonomi yang melaju 10% per tahun, melambat ke 6% saja.

Tak seperti negara lainnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina memiliki efek sistemik pada ekonomi global, terutama di kawasan Asia Pasifik. Sebab, Cina bukan lagi negara berkembang yang lemah secara ekonomi, tetapi telah menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia. Berikut efek dari pertumbuhan ekonomi Cina yang melambat.

  • Turunnya laju pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik

Cina merupakan pangsa pasar ekspor bagi sebagian besar negara-negara di kawasan Asia Pasifik, seperti Australia, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Indonesia, dan lain sebagainya. Tingkat konsumsi Cina terhadap komoditas ekspor awalnya begitu tinggi hingga mampu menyumbang naiknya PDB di negara-negara pengekspor. Namun, perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina yang terjadi sejak 2011 cukup ‘menghantam’ laju pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut.

Negara-negara yang bergantung pada ekspor komoditas akan merasakan efek dari perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina. Sebab, permintaan atas komoditas menurun. Hal ini mengakibatkan harga komoditas lebih rendah dalam jangka panjang. Meski demikian, efek tersebut bisa sedikit beratasi dengan mengekspor komoditas ke negara-negara lain yang mengonsumsi komoditas tersebut.

  • Pertumbuhan ekonomi global turut melambat

Tak bisa dipungkiri bahwa perekonomian Cina berpengaruh terhadap perekonomian global. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia, Cina merupakan faktor kunci yang menentukan prospek perekonomian global, terutama untuk seluruh kawasan Asia Pasifik.

Pertumbuhan ekonomi Cina yang melesat selama dekade terakhir ini mengakibatkan pangsa Cina untuk PDB dunia meningkat tajam dari 5% di tahun 2005 menjadi 15% pada 2015. Imbasnya, Cina menjadi pasar ekspor yang semakin penting bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Tak hanya itu, Cina juga menjadi mesin utama bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

  • Perubahan struktur ekonomi global

Pertumbuhan ekonomi Cina yang melambat mendorong adanya perubahan struktural dan transformasi di hampir semua sektor, terutama sektor manufaktur. Sektor ini mengalami penyesuaian dan rasionalisasi karena memiliki kapasitas berlebih di beberapa industri utama. Kelebihan kapasitas tersebut tidak diimbangi dengan meningkatnya daya saing.

Di sisi lain, turunnya konsumsi turut andil dalam perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina. Padahal, konsumsi merupakan salah satu variabel penting yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, sebab menyumbang setidaknya 50% dari pertumbuhan PDB. Berkenaan dengan hal tersebut, pengeluaran untuk konsumsi didorong untuk tumbuh pada sektor-sektor jasa, baik jasa keuangan, perawatan kesehatan, perdagangan ritel, dan logistik. Upaya ini diharapkan dapat membangkitkan tingkat konsumsi di Cina, sehingga akan menjadi pendorong pertumbuhan bagi ekonomi global.

Inovasi dan perubahan baru yang dilakukan Cina menjadi faktor kunci yang berpengaruh tergadap struktur ekonomi global. Cina akan terus berbenah diri dengan meningkatkan daya saing dan kualitas produknya.

  • Menimbulkan gelombang kejut ekonomi

Meski memiliki ekonomi terbesar di Asia, harus diakui bahwa ekonomi Cina masih memiliki banyak ketidakseimbangan, termasuk perlambatan konstruksi perumahan, kapasitas beberapa sektor industri utama yang berlebih, dan pinjaman perbankan yang meningkat pesat. Akumulasi ketidakseimbangan ini bisa berisiko pada terjadinya hard landing di Cina. Secara lebih luas, risiko tersebut berpotensi menjadi risiko utama yang dihadapi ekonomi dunia.

Jika Cina mengalami hard landing dengan pertumbuhan PDB yang melambat di bawah 5%, maka hal ini akan menimbulkan gelombang kejut ekonomi di seluruh kawasan Asia Pasifik. Dampaknya tentu akan dirasakan oleh negara-negara yang ekonominya paling rentan, seperti Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Hong Kong, Thailand, termasuk juga Indonesia.

  • Risiko geopolitik semakin tinggi

Melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina bisa berefek pada semakin tingginya risiko geopolitik. Kekuasaan Cina di kawasan Asia Pasifik akan tetap menjadi tantangan utama. Gesekan dan sengketa terkait dengan ‘perebutan’ wilayah masih berpotensi menimbulkan ketegangan politik dan militer di kawasan tersebut. Sebut saja sengketa teritorial di Laut Cina Selatan antara Cina dengan negara-negara ASEAN seperti Filipina dan Vietnam. Tak hanya itu, Cina juga berkonflik dengan Jepang terkait dengan klaim kekuasaan atas kepulauan Senkaku di wilayah Laut Cina Timur.

Meski Cina telah memperkuat kerjasama ekonomi di sebagian besar negara-negara Asia, namun sengketa teritorial akan tetap menjadi ‘konflik terpendam’. Bukan tidak mungkin konflik tersebut justru akan meningkatkan ketegangan yang dapat mengancam masa depan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Tak hanya itu, konflik terpendam itu juga tidak menutup kemungkinan dapat menggagalkan kerjasama regional yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya.

Seluruh otoritas negara-negara di Asia harus membangun arsitektur politik regional baru melalui diplomasi dan dialog politik tingat tinggi secara berkesinambungan guna mendukung perdamaian dan kerjasama regional. Tujuannya untuk memastikan bahwa ketegangan geopolitik regional dan potensi konflik yang ada tidak akan mengganggu pembangunan ekonomi di kawasan Asia.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang efek pertumbuhan ekonomi cina melambat, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



5 Alasan Mengapa Bisnisman Tidak Naik Pesawat Kelas Ekonomi
Apa itu Resesi Ekonomi? Apa Indikatornya?
Apa itu On Demand Economy?
Apa itu Fundamental Ekonomi?
Waspada Fintech P2P Ilegal dari Cina
Ongkos Ekonomi Menggunakan Jet Pribadi
Mengapa Belajar Ekonomi Penting?
Ini Dia Cara Praktis Belajar Ekonomi yang Mudah, Efektif dan Efisien!
Apa itu Hukum Permintaan?
Apa itu Ekonomi Perang?


Bagikan Ke Teman Anda