Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Faktor-faktor Penyebab Resesi

Otoritas setiap negara senantiasa berusaha menerapkan kebijakan ekonomi yang mendorong gerak roda perekonomian sehingga mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Sebut saja membangun iklim investasi yang kondusif, memberikan insentif ekonomi di sektor riil, menciptakan lapangan kerja, dan lain sebagainya. Namun, pada realisasinya kebijakan ekonomi tak selalu mampu mencapai hasil yang diinginkan. Alih-alih mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang meroket, justru menurun dan terpuruk hingga mengalami resesi.

Apa itu resesi?

Resesi merupakan kondisi perekonomian yang mengalami penurunan secara signifikan dalam beberapa bulan, umumnya selama dua kuartal berturut-turut yang tampak pada nilai PDB (Produk Domestik Bruto) yang negatif. Suatu kondisi ekonomi dikatakan resesi ketika bisnis berhenti berkembang, PDB menurun dalam dua kuartal secara berturut-turut, tingkat pengangguran naik, dan nilai atau harga properti menurun drastis.

PDB menjadi ukuran kondisi ekonomi karena merepresentasikan aktivitas perekonomian yang terjadi di suatu wilayah negara. Semakin berkembang aktivitas perekonomian suatu negara yang ditunjukkan dengan tingginya kegiatan ekspor, proses produksi barang dan jasa, dan rendahnya tingkat pengangguran, maka laju pertumbuhan ekonomi di negara tersebut akan meningkat. Demikian pula sebaliknya.

Ketika PDB mengalami penurunan, tetapi masih positif, artinya kondisi ekonomi tersebut tidak mencerminkan resesi, tetapi tingkat pertumbuhan yang lebih lambat dari kuartal sebelumnya. Namun, apabila PDB riil menurun dan nilainya negatif selama dua kuartal berturut-turut, maka bisa dikatakan perekonomian diambang resesi.

Tanda-tanda terjadinya resesi

Saat resesi menghantam perekonomian suatu negara, maka terjadi kelesuan aktivitas ekonomi hampir di semua sektor. Bisnis stagnan, tidak berkembang, bahkan menurun sehingga harus mengurangi proses produksi, bahkan tak jarang diikuti dengan pemutusan hubungan kerja untuk membatasi risiko kerugian yang lebih besar. Iklim investasi menjadi tidak kondusif sebab tingkat pengeluaran dan investasi tak lagi terukur di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi. Ini jika dilihat secara makro.

Tak hanya makro, tanda-tanda resesi pun terjadi pada tingkat mikro. Salah satu di antaranya adalah turunnya margin perusahaan yang disebabkan oleh rendahnya penjualan atau investasi. Hal ini berimbas pada efisiensi produksi, di mana perusahaan-perusahaan akan memangkas kegiatan produksinya. Secara lebih lanjut, kondisi ini jelas akan berdampak pada pengurangan kompensasi atau upah tenaga kerja, bahkan berakhir pada PHK massal. Akibatnya, daya beli menurun sehingga tingkat permintaan terhadap barang dan jasa pun turun drastis.

Faktor-faktor penyebab resesi

Resesi memang tak datang dengan sendirinya. Ada cukup banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Beberapa di antaranya sebagai berikut.

  •   Inflasi

Faktor yang satu ini sering kali menjadi momok bagi pertumbuhan ekonomi. Memang, ada kalanya inflasi dibutuhkan agar perekonomian tetap stabil. Namun, pada kondisi tertentu inflasi yang terlalu tinggi justru menurunkan daya beli masyarakat. Akibatnya, jumlah barang dan jasa yang mampu dibeli dengan jumlah uang yang sama seperti sebelumnya semakin sedikit. Terjadinya inflasi dipicu oleh biaya produksi yang meningkat, biaya energi yang lebih tinggi, dan utang nasional.

Inflasi jelas mengacu pada kenaikan harga barang dan jasa selama periode tertentu. Ketika inflasi terjadi, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Mereka akan mengurangi pengeluaran dan menabung lebih banyak. Pembatasan pengeluaran ini tentu saja berpengaruh pada pemangkasan biaya produksi oleh produsen barang dan jasa. Artinya, tingkat pengangguran kemungkinan besar meningkat sebagai akibat dari kebijakan perusahaan dalam melakukan efisiensi. Kombinasi dari dampak inflasi inilah yang menyebabkan ekonomi jatuh ke dalam resesi.

  • Hilangnya kepercayaan dalam investasi

Untuk menjalankan roda perekonomian dan mengembangkannya, otoritas setiap negara dituntut mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif baik dari segi keamanan maupun proyek-proyek yang strategis. Tujuannya, agar dapat menarik minat investor untuk berinvestasi. Namun, apa jadinya jika pertumbuhan ekonomi justru memicu hilangnya kepercayaan untuk berinvestasi? Tentu akan banyak investor yang menarik dananya.

Hilangnya kepercayaan dalam berinvestasi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melambat. Bisnis lesu, sehingga banyak produsen yang mengurangi volume produksi. Lagi-lagi hal ini berdampak pada tingkat pengangguran yang meningkat. Jika sudah demikian, maka pemerintah dan bank sentral harus turun tangan dalam menciptakan kebijakan yang mampu memulihkan kembali kepercayaan berinvestasi.

  • Suku bunga tinggi

Faktor yang satu ini memang tak bisa lepas dari sektor ekonomi. Di satu sisi, kenaikan suku bunga dimaksudkan untuk melindungi nilai mata uang. Namun di sisi lain, peningkatan suku bunga yang terlalu tinggi justru membebani para debitur, sehingga mengakibatkan terjadi kredit macet. Kredit macet dalam jumlah besar jelas akan berdampak sistemik pada dunia perbankan. Ketika dunia perbankan kolaps, terjadilah resesi.

  • Jatuhnya pasar saham

Faktor ini memiliki keterkaitan dengan hilangnya kepercayaan berinvestasi. Ketika para investor kehilangan kepercayaannya terhadap kemampuan perusahaan mengelola modal, termasuk terhadap kemampuan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, maka penarikan dana atau modal besar-besaran dari pihak ketiga mungkin saja terjadi. Hal ini bisa berakibat pada jatuhnya pasar saham. Jika hal tersebut sampai terjadi, maka resesi tak lagi bisa dihindari.

  • Jatuhnya harga dan penjualan rumah

Properti baik berupa rumah, tanah, maupun apartemen merupakan aset yang nilainya cenderung naik dari tahun ke tahun. Tak heran jika banyak orang yang menjadikannya sebagai investasi. Namun, ada kalanya nilai properti jatuh sehingga pemilik kehilangan ekuitas. Hal ini memaksa pemilik properti untuk membatasi dan mengurangi pengeluaran, karena kemungkinan kecil untuk mengambil hipotek atau memperoleh pinjaman dengan jaminan aset tersebut.

Jatuhnya harga dan penjualan rumah akibat nilai properti yang terpuruk tak hanya merugikan pemilik properti saja, tetapi juga berimbas pada perbankan. Bank akan kehilangan uang pada derivatif yang didasarkan pada nilai properti. Akibatnya, hal ini bisa berakhir pada penyitaan aset, yang bisa menjadi penyebab dari terjadinya resesi.

  • Kebijakan pemerintah

Sejatinya pemerintah dituntut untuk berupaya menyejahterakan rakyatnya melalui kebijakan-kebijakan ekonomi yang melindungi perekonomian rakyat. Namun, tak selalu kebijakan pemerintah membuahkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Artinya, ada kalanya pemerintah salah dalam mengambil kebijakan ekonomi.

Misalnya saja kebijakan impor bahan pangan yang berlebihan, pembangunan yang mengandalkan utang luar negeri, penghapusan regulasi terkait dengan kelestarian lingkungan, penghapusan pajak barang-barang mewah, dan lain sebagainya. Kesalahan dalam mengambil kebijakan ekonomi akan berdampak pada penerapan strategi yang salah pula. Alih-alih mencapai pertumbuhan ekonomi yang meroket, tetapi justru merosot.

  • Deflasi

Deflasi merupakan kebalikan dari inflasi. Meski demikian, bukan berarti deflasi baik bagi perekonomian suatu negara. Ketika harga barang dan jasa menurun dari waktu ke waktu, dampak yang ditimbulkan bisa jadi lebih buruk dibandingkan inflasi. Dengan turunnya harga barang dan jasa di satu sisi akan lebih mempermudah masyarakat untuk membelinya. Namun, kenyataannya masyarakat justru menunggu turunnya harga barang dan jasa pada titik yang lebih rendah. Akibatnya, permintaan terhadap barang dan jasa tersebut turun, sehingga terjadinya resesi.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang faktor-faktor penyebab resesi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa Itu Stabilitas Sistem Keuangan?
Apa itu Sistem Ekonomi Pasar?
Apa itu Kartel? Apa Dampak bagi Perekonomian?
Mengapa Belajar Ekonomi Penting?
Penyebab Asuransi Jiwasraya Gagal Bayar
Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tutupnya Mal di Berbagai Negara
Sistem Ekonomi di Jaman Pra Sejarah
Apa Itu Kebijakan Moneter dan 5 Instrumennya
Pertumbuhan Ekonomi, Pengertian dan Pengukurannya
Faktor Ini Perlu Menjadi Pertimbangan Sebelum Membeli Rumah!


Bagikan Ke Teman Anda