Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Ini Dia Penyebab Bubble Dotcom di Tahun 2000

Krisis ekonomi dunia datang silih berganti. Apa yang kini kita alami merupakan buah tidak langsung dari krisis yang melanda Amerika Serikat di tahun 2008 lalu. Namun, jauh hari sebelumnya, berlangsung pula bencana ekonomi yang bermula dari kemajuan teknologi Internet. Peristiwa tersebut dinamakan oleh bubble dotcom dan berlangsung sejak awal 1998 dan mencapai puncaknya di pertengahan 2000. Kala itu, sektor bisnis yang berhubungan dengan Internet meraup keuntungan saham hingga 1.000 persen. Di saat yang sama, sektor Internet menguasai sekitar 6 persen kepemilikan dari perusahaan-perusahaan dagang publik Amerika Serikat dan 20 persen volum perdagangan.

Secara praktis, bubble dotcom terjadi sejak berbagai firma venture capital menginvestasikan uang mereka kesegala perusahaan yang berhubungan dengan Internet. Maksudnya tak lain adalah untuk membantu perusahaan-perusahaan baru itu bisa bersaing di pasar (saham). Hanya saja, kerakusan telah membuat para pemodal itu tidak seksama memperhatikan apakah mereka nantinya bisa meraup keuntungan.

Setahun kemudian, berbagai perusahaan berbasis Internet yang tersohor – mirip dengan startup dewasa ini – tidak punya pendapatan sepeser pun, dan saham mereka pun anjlok. Sejumlah ekonom maupun manajer papan atas berpendapat bahwa hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan itu tidak memiliki perencanaan bisnis dan analisis keuangan yang baik.

Jika ditanya tentang penyebab terjadinya bubble dotcom sesungguhnya, maka itu tak lain adalah karena adanya estimasi yang terlampau berlebihan atas saham-saham perusahaan-perusahaan berbasis Internet itu. Tak tanggung, sejumlah pihak menyatakan bahwa ada sekitar 133 startup berbasis Internet kala itu, yang mengikuti sepak terjang Netscape untuk go-public, dan mengalami kelebihan estimasi saham hingga 230 miliar dolar AS. Netscape sendiri go-public di tahun 1995 dan gulung tikar di masa-masa bubble dotcom ini.

Valuasi yang berlebihan merupakan dasar bubble dotcom di awal 2000an. Hampir tidak ada yang bisa memahami bagaimana valuasi tersebut bisa terjadi. Ada kalanya, valuasi korporasi berbasis Internet tersebut bermula dari catatan pendek di selembar kertas. Kegirangan atas kemungkinan komersil penggunaan Internet waktu itu begitu besar sehingga setiap ide yang berbau internet langsung ditanggapi dengan penilaian layak diberi dana hingga jutaan dolar AS.

Pada kebanyakan kasus seputar bubble dotcom ini, prinsip-prinsip paling dasar teori investasi benar-benar diabaikan karena para investor sendiri seakan tak mau ketinggalan meraup keuntungan besar. Bahkan, para investor tersebut menyanggupi penyediaan modal dalam jumlah besar pada startup Internet yang tidak memiliki perencanaan bisnis yang matang. Asalkan berbau Internet dan memungkinkan penggunaan komersil Internet, langsung saja diberi modal.

Tidak tanggung-tanggung, praktik sejenis ini bahkan mendapatkan dalih rasional dengan dikeluarkannya teori dot-com: Agar sebuah startup Internet tumbuh dan bertahan, maka ia tergantung pada ekspansi berbasis konsumen yang tinggi, yang pada banyak kasus berarti kerugian di awal dalam jumlah besar.

Memang, ada kalanya teori tersebut benar, dan dibuktikan oleh kisah sukses Google dan Amazon. Keduanya menuai sukses besar di tahun 2012. Tapi, perlu diingat bahwa baik Amazon maupun Google memerlukan waktu tahunan agar mendapat profit sebesar yang mereka tunjukkan saat itu. Saat itu, banyak juga startup Internet muda yang mengeluarkan ongkos besar secara internal. Karena perhitungan dan valuasi berlebihan atas saham mereka, para karyawan dan eksekutif startup-startup itu yang menjadi jutawan dalam sekejap tak lama setelah IPO.

Malangnya, sudah bukan menjadi rahasia publik lagi kalau startup-startup Internet tersebut doyan menghabiskan uang untuk fasilitas bisnis yang mewah. Tidak ada kesederhanaan dalam startup, pada jaman kapan pun mereka berada. Catatan menunjukkan bahwa pada tahun 1999 sendiri berlangsung 457 IPO di Amerika Serikat, dan sebagian besar merupakan perusahaan alias startup Internet. Sekitar 117 startup bahkan berhasil menggandakan nilai saham mereka dalam hari pertama perdagangan.

Kesempatan semacam ini tidak disia-siakan oleh perusahaan komunikasi seperti operator jaringan mobile dan penyedia layanan Internet. Mereka berlomba-lomba menginvestasikan banyak uang dalam bentuk infrastruktur jaringan hanya karena ingin kebagian kue dalam perekonomian baru ini. Itu artinya, banyak dari mereka yang harus berhutang dalam jumlah besar agar mampu menggunakan teknologi jaringan terbaru serta mengakuisisi paten teknologi jaringan nirkabel terkini.

Dunia dotcom menjadi tidak menguntungkan semenjak 10 Maret 2000 dimana Indeks Harga Saham Gabungan NASDAQ naik 5046,68 poin; naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tapi, keesokan harinya, saham perusahaan berbasis teknologi jatuh terjerembab seiring dengan terjadinya bubble dotcom.

Salah satu penyebab utamanya deflasi saham ini adalah adanya keputusan final atas kasus antitrust terhadap Microsoft yang menyatakan monopoli di awal April 2000. Temuan ini diantisipasi oleh pasar yang tidak menghendaki monopoli, mengakibatkan NASDAQ kehilangan 10 persen nilainya hanya dalam 10 hari terhitung sejak 10 Maret 2000. Sehari setelah bukti atas investigasi terhadap Microsoft diumumkan secara publik, NASDAQ mengalami penurunan kembali dalam jumlah besar.

Hari-hari berikutnya kondisi pasar tidak pulih juga, sehingga para investor yang tadinya berpendapat bahwa startup Internet menguntungkan justru mengatakan sebaliknya; hanya pembawa kerugian. Hanya dalam hitungan setahun setelah deflasi tersebut, para investor akhirnya terpaksa mengikhlaskan dana mereka dan jatuh bangkrut.

Bubble dotcom di awal 2000 tersebut ditandai oleh teknologi baru yang menjanjikan terciptanya pasar baru dengan berbagai barang dan jasa sebagai produknya, serta para investor serta entrepreneur oportunis yang dibutakan oleh perencanaan bisnis yang tergesa-gesa dan penilaian berlebihan atas kemajuan suatu teknologi. Akankah sejarah berulang dengan keberadaan ponsel cerdas dan tablet yang dinyatakan memiliki kemungkinan tiada batas? Kita lihat saja.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang penyebab bubble dotcom di tahun 2000, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa Untung Rugi Belanja Secara Grosir?
Apa yang Harus Dilakukan jika Sertifikat Tanah Hilang?
10 Tips Investasi untuk Pemula
5 Alasan Mengapa Bisnis Baru Sering Gagal
Hal Tabu yang Tidak Boleh Dilakukan Entrepreneur
Cara Mengajari Anak Hidup Sederhana
Cara Merekrut Karyawan Ala Mafia Manager
Aspek Keuangan yang Sering Terlupa dan Harus Diperhatikan
Cara Memotivasi Anak untuk Mendapatkan Nilai Baik Tanpa Imbalan Finansial
Mengapa WeChat & AliPay Popular di China?


Bagikan Ke Teman Anda