Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Jenis-jenis Cek yang Berlaku di Indonesia

Seiring dengan perkembangan teknologi, pembayaran dalam transaksi bisnis saat ini tak selalu dilakukan secara tunai, tetapi juga non-tunai melalui jasa perbankan. Bahkan, sebagian besar transaksi bisnis kini menggunakan sistem pembayaran non-tunai berupa cek dan bilyet giro. Kedua alat pembayaran non-tunai tersebut dirasa lebih praktis karena tak perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak untuk bertransaksi.

Bicara tentang cek dan bilyet giro, meski tampak sama namun sejatinya berbeda. Keduanya memang berinduk pada rekening giro, namun memiliki sedikit perbedaan pada fungsinya. Baik cek maupun bilyet giro digunakan sebagai alat pembayaran yang memudahkan untuk bertransaksi bisnis. Jika cek bisa dicairkan dalam bentuk tunai dan dipindahbukukan ke rekening lain. Sementara bilyet giro hanya bisa dipindahbukukan saja.

Apa itu cek?

Apakah Anda pernah menerima cek? Tak semua orang familiar dengan alat pembayaran yang satu ini. Cek umumnya digunakan sebagai alat pembayaran untuk transaksi bisnis dan traksaksi lain dengan nominal dalam jumlah besar. Lantas, apa sebenarnya cek itu?

Cek merupakan surat atau dokumen tertulis dari nasabah yang berisi perintah kepada bank untuk membayarkan sejumlah uang sesuai yang tertera di dalamnya kepada orang yang tertentu atau pembawanya. Selain sebagai alat pembayaran untuk transaksi tertentu, cek dapat pula dikategorikan sebagai surat berharga, karena dapat dicairkan secara tunai atau dipindahtangankan kepada pihak lain. Semua orang bisa memperoleh fasilitas cek dan memanfaatkannya, dengan catatan memiliki rekening giro pada lembaga bank.

Sebagai surat berharga, cek tergolong likuid karena bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai. Untuk mencairkannya pun tidak membutuhkan persyaratan. Artinya orang yang namanya disebut dalam cek atau orang yang membawanya dapat mencairkan cek ke bank sesuai dengan waktu yang ditentukan atau selama masa berlakunya cek belum berakhir. Kemudahan lainnya, cek dapat dicairkan di bank mana saja, tak harus selalu bank yang mengeluarkan atau menerbitkan cek tersebut. Hanya saja, prosesnya tidak bisa selesai pada saat itu juga tetapi membutuhkan waktu kurang lebih satu hari, karena harus melalui proses pemindahbukuan rekening antar-bank yang disebut dengan kliring. Jika cek berasal dari luar negeri, maka pencairan cek harus melalui inkaso yang prosesnya membutuhkan waktu lebih lama lagi, yakni kurang lebih satu minggu.

Penggunaan cek sebagai alat pembayaran ini memiliki kekuatan hukum karena telah diatur dalam Pasal 178 hingga 229 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUH Dagang). Dalam aturan tersebut, dinyatakan bahwa suatu cek sah menurut undang-undang apabila memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Terdapat tulsan ‘CEK’ pada surat atau dokumen cek.
  2. Berisi perintah tak bersyarat untuk membayarkan uang dengan nominal sejumlah tertentu.
  3. Tertera nama pihak yang harus membayar (tertarik) dananya.
  4. Menyebutkan lokasi dan tanggal cek dikeluarkan.
  5. Tanda tangan pihak yang mengeluarkan cek.

Sejarah singkat digunakannya cek sebagai alat pembayaran

Untuk memahami tentang cek secara lebih dalam, ada baiknya jika mengetahui sejarah digunakannya cek sebagai alat pembayaran yang sah selain uang. Tahukah Anda bahwa cek sudah digunakan pada masa pemerintahan Raja Harun al-Rasyid di era Khalifah Abbasiyah pada tahun 786? Pedagang muslim pada masa itu telah menggunakan sistem saqq untuk melakukan transaksi dagang, karena dinilai lebih aman tanpa perlu membawa banyak uang selama perjalanan dagang. Istilah saqq kemudian menjadi kata serapan cheque atau check. Namun bukti otentik dari penggunaan cek sebagai alat pembayaran baru ditemukan pada tahun 1500 di Belanda, yang kemudian berkembang ke Inggris pada tahun 1700an.

Sementara di Indonesia sendiri cek telah digunakan sejak lama. Hal ini dibuktikan dengan peraturan perundang-undangan yang menaunginya, yakni KUH Dagang sebagai produk warisan pada zaman penjajahan Belanda. Perumusan KUH Dagang sendiri melalui proses yang cukup panjang, di mana harus dilakukannya keselarasan antara hukum di Indonesia dengan Belanda hingga kitab hukum dagang ini diberlakukan di Indonesia pada tahun 1848. Peraturan tentang cek ini cukup istimewa karena diatur dalam 51 pasal yakni mulai dari Pasal 178 hingga 229. Ini membuktikan bahwa penggunaan cek sebagai alat pembayaran di Indonesia bukan terjadi baru-baru ini setelah teknologi perbankan berkembang pesat. Penggunaan cek justru telah berlangsung mulai masa penjajahan Belanda di Indonesia hingga saat ini.

Jenis-jenis cek yang berlaku di Indonesia

Cek memang mengacu pada surat yang berisi perintah dari nasabah kepada bank untuk melakukan pembayaran sejumlah uang kepada pihak tertentu. Namun, cek yang berlaku di Indonesia tak hanya satu jenis saja, tetapi cukup beragam jenisnya. Setiap jenis memiliki karakteristik dan ketentuan tersendiri dalam pencairannya. Nah, jika Anda menerima cek dari kolega bisnis, sebaiknya perhatikan jenis ceknya sehingga tidak keliru saat mencairkannya. Adapun jenis-jenis cek yang ada di Indonesia dapat disebutkan dan dijelaskan sebagai berikut.

1. Cek atas nama

Jenis cek ini sangat lazim digunakan sebagai alat pembayaran dalam transaksi bisnis di Indonesia. Keterangan yang tertera dalam cek lebih spesifik, sehingga hanya orang yang tertera namanya di dalam cek saja yang bisa mencairkannya. Cek atas nama merupakan cek yang diterbitkan dengan mencantumkan nama seseorang atau badan hukum tertentu secara spesifik di bagian dengan keterangan perintah ‘bayarlah kepada’. Di bagian belakang perintah ini tertera keterangan ‘atau pembawa’, maka coretlah keterangan itu agar cek tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berhak atas cek tersebut. Selain nama spesifik, pada jenis cek ini juga tertera nominal yang harus dibayarkan baik dalam huruf maupun angka, termasuk nomor cek, tempat dan tanggal dikeluarkannya cek, serta tanda tangan dari pihak yang mengeluarkan cek.

2. Cek atas unjuk

Jenis cek atas unjuk merupakan kebalikan dari cek atas nama dalam penggunaannya. Pada jenis cek ini, tidak terdapat pencantuman nama spesifik dari penerima cek, sehingga cek dapat dicairkan oleh siapa saja yang membawanya. Cek jenis ini hanya mencantumkan sejumlah nominal yang harus dibayarkan bank, nomor cek, tempat dan tanggal pengeluaran cek, serta tanda tangan dari pihak yang mengeluarkannya.

3. Cek silang

Cek jenis ini memiliki ciri khas berupa dua garis yang dimaknai sebagai tanda silang ganda di sudut kiri atas surat. Fungsi dari cek jenis ini sedikit berbeda dengan jenis cek lainnya. Jika jenis cek lain bisa dicairkan dalam bentuk tunai, maka jenis cek silang hanya diperuntukkan bagi pemindahbukuan saja. Artinya, penerima cek jenis ini tidak bisa menarik tunai tetapi hanya bisa memindahbukukan nominal pembayaran ke rekeningnya.

4. Cek mundur

Jenis cek ini berisi perintah pembayaran dengan menentukan waktunya secara spesifik yang berselang atau mundur beberapa hari dari waktu berlangsungnya transaksi bisnis yang dilakukan. Dengan ditetapkannya waktu secara spesifik, maka pihak penerima cek hanya bisa mencairkannya pada waktu yang ditetapkan tersebut. Sebagai contoh, transaksi bisnis terjadi pada tanggal 10 Januari 2018 dengan pembayaran melalui cek dengan tanggal 21 Januari 2018.

Dengan begitu, penerima cek baru bisa mencairkan cek secara tunai pada tanggal 21 Januari 2018. Hal ini dimungkinkan jika pada saat transaksi terjadi, pihak yang harus membayar baru memiliki dana pada waktu yang ditetapkan. Pada cek jenis ini, di dalamnya tercantum keterangan tanggal dikeluarkannya cek, tanggal perintah pembayaran, nilai nominal yang harus dibayar, nama orang yang berhak menerima pembayaran, cabang bank, dan tanda tangan dari pihak yang mengeluarkan cek.

5. Cek kosong

Pernah menerima cek kosong? Banyak kasus penipuan dengan menggunakan cek kosong. Sebenarnya apa itu cek kosong? Cek kosong bukanlah surat yang tidak diisi keterangan sama sekali, melainkan pengeluaran cek yang tidak didukung dengan ketersediaan dana yang cukup pada rekening giro pihak yang mengeluarkan cek. Contohnya, PT. A memberikan cek kepada PT. B senilai Rp 25 juta atas pembelian suatu barang. Ternyata, saldo rekening giro PT. A tidak mencukupi untuk melakukan pembayaran senilai Rp 25 juta, karena hanya tersedia Rp 5 juta. Oleh sebab itu, cek yang diterima oleh PT. B merupakan cek kosong.

Penggunaan cek sebagai alat pembayaran bukanlah hal baru. Bahkan dari tahun ke tahun penggunaannya semakin populer di kalangan pelaku usaha. Hal ini tak lepas dari kemudahan, kepraktisan, dan efisiensi yang menempel pada cek itu sendiri. Hanya dengan membawa lembaran cek, Anda bisa melakukan transaksi bisnis di manapun dan kapanpun serta dalam jumlah berapapun asal saldo rekening giro Anda mencukupi.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang jenis-jenis cek yang berlaku di Indonesia, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



5 Bank di Indonesia dengan Kategori BUKU 4
Ingin Investasi Bitcoin? Perhatikan Dahulu Hal-Hal Berikut Ini!
Inilah Bentuk dan Jenis Badan Usaha yang Ada di Indonesia
Jenis-jenis Laporan Keuangan yang Perlu Anda Ketahui
Apa itu Sistem Ekonomi? Ini Dia Jenis dan Macam Sistem Ekonomi!
Jenis Penipuan Scam yang Sering Terjadi di Indonesia
Bagaimana Cara Memilih Bank di Indonesia?
Sebagai Negara Maritim, Mengapa Indonesia Mengimpor Garam?
Inilah Jenis-jenis Standar Akuntansi Keuangan yang Digunakan di Indonesia
Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Tahun 2018


Bagikan Ke Teman Anda