Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Kartu Kredit di-Decline, Apa Sebabnya?

#fraud #tidak bisa bayar #tip kartu kredit

Kendati memiliki kartu kredit merupakan salah satu hal terindah yang dapat kita rasakan di bumi, tidak selamanya dunia bersikap baik terhadap kita. Terkadang, transaksi kartu kredit pun dapat menjadi bencana bagi kita, termasuk ketika kita telah menjadi nasabah lama kartu kredit.

Ada kalanya saat kita hendak mengincar promosi tertentu yang melibatkan kartu kredit dan yakin kartu kredit tidak ada masalah, kita pun langsung kalap dan menyerbu tempat yang mengadakan promosi tersebut. Kita pun langsung membeli beberapa barang di dalamnya. Saat menuju mesin EDC, eeeh… Kok ada notifikasi kalau transaksi ditolak.

Galau? Pasti! Namun, jangan sampai galau terus-menerus tanpa mengetahui penyebab galaunya. Supaya tidak terburu merasa dunia runtuh, berikut ini adalah alasan mengapa kartu kredit bisa ter-decline saat bertransaksi:

1. Salah Input Kode PIN Maupun CVV

Naah… Ini biasanya terjadi pada orang-orang yang terlampau yakin dengan dirinya sendiri, termasuk kapasitas kartu kreditnya. Boleh saja sudah membayar tepat waktu dan mencatat seluruh buktinya secara lengkap, tapi, yang namanya kode tetap saja hal sensitif yang tidak boleh dilewatkan. Adapun kode-kode yang dimaksud adalah kode PIN dan CVV.

Begitu sensitifnya kode-kode ini, semua pihak bank penerbit selalu mengingatkan nasabahnya untuk membuat kode PIN yang tidak mudah dihafal atau diketahui orang lain dan juga menerbitkan CVV yang tidak sama antar satu kartu nasabah dengan kartu nasabah lainnya. Biasanya, kita terlalu sibuk dengan keunikan kode-kode rawan ini, hingga tanpa sadar kita memasukkan kode yang salah karena susah menghafal.

Solusi untuk hal ini tentu saja adalah meminta reset PIN, yang biasanya dapat dilakukan lewat SMS. Pada saat reset PIN, masukkan kode yang sekiranya mudah dihafal dan catat baik-baik kode tersebut di tempat yang hanya dapat kita ketahui sendiri. Untuk masalah kode CVV, kita dapat membalik bagian belakang kartu kredit. Bisa juga kita menyampaikan request kode lewat SMS untuk jenis-jenis kartu dari bank tertentu, seperti kartu kredit virtual BNI.

2. Lupa Update Informasi Data Diri

Berkebalikan dengan kode PIN dan CVV yang sifatnya sensitif, informasi data diri lebih terlihat “remeh” pada awalnya. Apalagi, pengisian informasi data diri seringkali berhenti hanya sebagai formalitas belaka. Beberapa orang menyimpan informasi data diri yang sama hingga waktu berkepanjangan, hingga ia tidak sadar kalau ia seharusnya meng-update informasi sesuai dengan keadaan yang saat ini terjadi.

Beberapa komponen krusial mengenai informasi data diri terkait kartu kredit adalah nama lengkap dan alamat rumah. Meskipun jarang terjadi, ada saat di mana orang ganti nama karena menikah atau alasan tertentu. Ada juga saat di mana orang berpindah rumah atau domisili, namun semua ini lupa disampaikan ke pihak bank penerbit kartu kredit. Jangan salah, kealpaan yang terlihat remeh ini dapat menyebabkan bermacam-macam hal terjadi pada kartu kredit termasuk kartu kredit di-decline saat bertransaksi.

Ketika hal tersebut terjadi, solusi paling baik adalah menghubungi call center bank penerbit detik itu juga untuk memberitahu informasi data diri sekarang. Dengan menghubungi call center, kita akan memperoleh solusi dan penanganan yang lebih efisien. Kita pun dapat menikmati manfaat belanja dari kartu kredit tanpa harus ribut-ribut mencari kantor bank di tengah-tengah aktivitas belanja.

3. Overlimit Yang Belum Dibayar

Hayo, yang suka belanja. Kebanyakan penghobi belanja, khususnya yang berdomisili di kota-kota besar, biasanya selalu merasa uangnya cukup. Kalau ada yang bilang limit, saldo, uang, atau apapun itu, tidak mencukupi, biasanya ngeyel.

Ini terjadi terutama bagi ibu rumah tangga atau nasabah-nasabah yang sudah kepepet dalam hal belanja. Namanya juga overlimit atau kartu kredit telah berada di ambang batas transaksi, pasti tidak dapat digunakan untuk bertransaksi.

Biasanya begitu tahu ada overlimit, pihak bank akan membebankan denda overlimit berdasarkan persentase selisih limit atau tagihan keseluruhan atau jumlah rupiah tertentu. Kalau hingga jatuh tempo denda ini belum juga dibayar, yang muncul justru surat tagihan atau wajah staf perbankan yang datang ke rumah sebagai ganti dari transaksi perbelanjaan yang dilakukan. Jelas saja, keadaan demikian membuat kartu kredit seseorang di-decline saat bertransaksi.

4. Gagal Melunasi Hutang-Hutang Kartu Kredit

Ini juga merupakan penyebab yang berbahaya. Bagaimanapun juga, memiliki kartu kredit adalah tanda orang telah siap bertanggungjawab dengan kondisi keuangan pribadinya. Kalau gagal, maka harus siap dalam menerima konsekuensinya.

Bukan hanya peringkat debitur atau nama kita yang terpengaruh di mata Bank Indonesia, namun kartu kredit juga ikut bermasalah. Kegagalan melunasi hutang-hutang kartu kredit akan membuat kartu kredit menjadi ter-decline saat bertransaksi. Meskipun tulisan kegagalannya bisa saja bukan menyatakan nama yang telah masuk blacklist, namun staf yang menjaga mesin EDC biasanya tahu betul akan hal ini dan memasang muka tidak enak kepada kita yang melakukannya.

Solusi yang dapat kita ambil adalah segera melunasi hutang-hutang dengan bunga dan seluruh denda-dendanya. Meskipun kita sebenarnya juga bisa memanfaatkan “jalan pintas” lain seperti mediasi BI atau menyewa pengacara untuk dapat tetap menggunakan kartu kredit kita, namun alangkah baiknya apabila hutang-hutang itu dibayar lunas terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kartu kredit kita tidak ter-decline saat melakukan transaksi.

5. Ada Indikasi Transaksi Fraud

Ini dia yang paling menakutkan. Bagaimanapun juga di dunia keuangan, fraud itu identik dengan tindakan kriminal. Nah, sekarang siapa yang mau dicap kriminal?

Kenyataannya, ada juga orang-orang yang nekad bertransaksi menggunakan kartu kredit palsu. Meskipun kartu kredit asli dan palsu sering tidak bisa dibedakan secara fisik, namun hal ini akan ketahuan dari saat kartu kredit tersebut digunakan untuk bertransaksi. Terlebih, kartu kredit palsu biasanya biayanya tidak masuk akal. Hanya untuk keperluan ilustrasi saja: Bagaimana mungkin kartu kredit Citi atau Standard Chartered level Premium total biaya tahunannya di bawah 50 ribu rupiah?

Ada juga saat-saat di mana bukan orang tersebut yang sengaja melakukan fraud transaction atau transaksi fraud, namun merchant-nya lah yang melakukan fraud. Kalau fraud-nya berasal dari merchant, bentuknya bisa beda-beda lagi. Mulai dari yang paling jelas seperti meminta detil kartu kredit yang sensitif seperti PIN dan mencuri identitas secara diam-diam lewat mesin EDC atau sistem informasi penjualan sampai dengan double sweeping yang kelihatannya normal, tapi sebenarnya itulah upaya merchant melakukan fraud transaction dengan pembelinya.

Mungkin bukan kita yang sengaja melakukan, mungkin juga bukan salah merchant sepenuhnya dalam transaksi yang terindikasi fraud. Beberapa bank dan merchant otomatis akan men-decline kartu kalau kartu tersebut telah ter-decline beberapa saat sebelumnya, karena dikhawatirkan ada transaksi fraud. Jika itu yang terjadi dan pihak bank menghubungi, maka kitalah yang harus menjelaskan kalau kita melakukan transaksi tersebut dengan itikad yang baik tanpa upaya melakukan fraud sedikitpun.

Lima alasan di atas merupakan alasan yang sering kita jumpai untuk kejadian kartu kredit yang di-decline saat bertransaksi. Sekarang, kita telah mengetahui semua penyebab mengenai kartu kredit ter-decline saat bertransaksi. Jadi, masih mau bilang galau?

Artikel Terkait

Demikianlah hal-hal yang bisa membuat transaksi anda ditolak atau di-decline oleh merchant.

Artikel Populer

anak, bank, bisnis, deposito, fraud, hidup, investasi, kartu kredit bca, kartu kredit mandiri, kaya, kredit konsumsi, kredit mobil, kredit motor, kredit tanpa agunan, menabung, modus penipuan, orang kaya, pengetahuan umum, Redenominasi, startup, sukses, tabungan, tanpa kartu kredit, tidak bisa bayar, tip kartu debit, tip kartu kredit, tip keuangan, tip KPR, tip kredit, tip KTA,

Bagikan Ke Teman Anda


 





SimulasiKredit.com is a simulation loan estimation tool. You can simulate your monthly loan payments. This tool supports your car or motorbike loan and your house loan.

You can estimate how many period you should pay monthly or yearly. You will know total interest paid and total paid, just input your mortgage amount, interest rate, term and loan start date.

This simulations predict how given payments and interest rate will affect the balance over time. Please note that this simulation is just a simulation. This simulation is intended as a free community service to teach personal finance and the dynamics of compound interest.