Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Mengapa Kesenjangan antara Kaya dengan Miskin Semakin Lebar?

#kesenjangan #orang kaya #orang miskin

Dalam kehidupan akan selalu ada dikotomi, termasuk dalam sektor ekonomi dan sosial yakni ada pembagian kelas atau kelompok antara kaya dengan miskin. Menurut Bank Dunia, kelompok penduduk miskin dikriteriakan dengan tingkat pendapatan yang mampu diperoleh kurang dari $1.90 per hari. Jika dihitung dengan mata uang Indonesia dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika rata-rata Rp 13.500,-, maka penduduk miskin adalah mereka yang pendapatannya tidak lebih dari Rp 26.650,- per hari.

Diakui atau tidak terdapat kesenjangan yang lebar antara penduduk kaya dengan miskin. Jelas tingkat pendapatan berpengaruh terhadap gaya dan pola hidup. Mereka yang masuk dalam kategori kaya bisa mengakses beragam fasilitas, pendidikan, dan teknologi dengan lebih mudah. Sebaliknya tidak demikian dengan mereka yang masuk dalam kategori miskin. Alih-alih bersaing dengan yang kaya dalam hal pendapatan, untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar saja masih bergantung pada bantuan pemerintah.

Ibarat kata yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Sebenarnya, apa yang menjadi penyebab kesenjangan antara kaya dengan miskin semakin lebar? Ternyata inilah beberapa penyebabnya.

  • Perkembangan teknologi dan globalisasi

Tak dipungkiri saat ini dunia telah mengalami globalisasi, di mana akses perdagangan semakin bebas dan terbuka antar-negara. Didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih sehingga makin mempermudah proses komunikasi dan transaksi ekonomi. Mau tidak mau atau suka tidak suka, perkembangan teknologi dan globalisasi ini harus diterima, termasuk negara-negara miskin yang sumber daya manusianya belum siap bersaing.

Apa hubungannya dengan kesenjangan antara kaya dengan miskin? Teknologi tidaklah murah. Artinya untuk bisa mengadopsi teknologi yang terus berkembang secara signifikan, negara membutuhkan dana yang besar. Hal ini tentu menjadi kendala bagi negara-negara miskin. Sementara pasar bebas yang terjadi saat ini membuka peluang bagi produk-produk bahkan tenaga kerja asing masuk ke lintas negara. Jika produk dalam negeri kalah dengan produk luar negeri baik dalam kualitas maupun harga, akibatnya pedagang kecil atau para pengusaha mikro, kecil, dan menengah dalam negeri akan terhempas dan gulung tikar.

Dari sisi tenaga kerja juga demikian. Jika tenaga kerja dalam negeri minim keterampilan, tentu akan berpengaruh pada penekanan tingkat upah. Artinya, justru tenaga kerja asing yang notabene lebih terampil memperoleh tingkat upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan tenaga kerja dalam negeri. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya serikat pekerja yang mengakibatkan lemahnya bargaining power dalam membangun kesepakatan terkait upah dengan perusahaan.

  • Utang dan tingkat suku bunga

Idealnya masyarakat bisa hidup layak dari pendapatan yang diperolehnya. Sayangnya, kenyataan tidaklah demikian. Tak semua orang memiliki pekerjaan dengan penghasilan tetap dan masih banyak pengangguran di mana-mana. Bagaimana mereka hidup? Solusinya dengan mengandalkan utang. Siapa bilang hanya masyarakat miskin yang berhutang? Orang kaya juga memiliki utang. Memang, namun bedanya orang miskin berhutang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, sedangkan orang kaya berhutang untuk mengembangkan dan memperluas usahanya.

Kesenjangan tingkat pendapatan antara kaya dengan miskin berpengaruh pada penilaian kapabilitas dalam pengajuan utang atau pinjaman ke bank. Orang miskin belum tentu bisa mendapat fasilitas pinjaman dari bank dengan alasan kemampuan membayar cicilannya masih diragukan. Jikapun bisa, plafon yang disetujui tidaklah banyak, hanya kisaran jutaan. Berbeda dengan orang kaya yang plafon pinjamannya bisa mencapai ratusan juta bahkan milyaran.

Meski sama-sama berhutang pada bank dengan nomimal plafon yang disetujui jauh berbeda, namun tingkat suku bunga atas pinjaman yang diberikan antara si kaya dengan si miskin sama. Tingkat suku bunga yang tinggi bagi orang kaya bukanlah suatu perkara, karena dari pinjaman tersebut mereka bisa menghasilkan lebih banyak uang. Berbeda kondisinya dengan yang miskin, di mana tingkat suku bunga yang dikenakan justru semakin menjerat leher mereka. Kok bisa? Kembali pada peruntukannya, orang miskin berhutang untuk makan sehingga mereka tidak menghasilkan lebih banyak uang dari pinjamannya tersebut seperti halnya pada orang kaya.

  • Kebijakan pemerintah

Disadari atau tidak kebijakan pemerintah turut andil dalam memperlebar kesenjangan antara penduduk kaya dengan miskin. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa pemerintah yang menentukan upah minimum bagi pekerja. Dalam hal penentuan kebijakan tersebut, pemerintah sering kali dirasa lebih memihak kepentingan pengusaha. Artinya tidak ada penekanan yang tegas terhadap pengusaha terkait dengan pembayaran upah minimum yang telah ditentukan. Jika pengusaha keberatan dengan dalih laba perusahaan tidak mencukupi. Akhirnya upah minimum yang ditentukan pemerintah bagi para pekerja hanya sebagai acuan yang tidak mengikat perusahaan, karena ada adendum ‘bagi perusahaan yang mampu’ sedangkan yang tidak mampu tidak terikat dengan aturan tentang pembayaran upah minimum tersebut.

Demikian pula dalam hal pajak. Setiap warga negara dikenai wajib pajak tanpa memandang status ekonomi kaya atau miskin. Tidak ada bebas pajak bagi warga miskin, tetapi ada amnesti pajak bagi warga kaya.

Pada prinsipnya negara wajib mengentaskan kemiskinan dan menjamin kesejahteraan bagi setiap warga negaranya. Kehadiran negara secara penuh melalui regulasi yang mengutamakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat akan mampu mempersempit kesenjangan antara kaya dengan miskin.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang kesenjangan antara kaya dengan miskin semakin lebar, semoga bermanfaat bagi Anda semua.

Artikel Populer

anak, asuransi, ATM, bank, bisnis, fraud, hidup, Indonesia, investasi, kartu kredit mandiri, kaya, kredit konsumsi, kredit mobil, kredit tanpa agunan, menabung, orang kaya, pengetahuan umum, Redenominasi, startup, sukses, tabungan, tanpa kartu kredit, tidak bisa bayar, tip kartu kredit, tip keuangan, tip KPR, tip kredit, tip KTA, uang, untung,

Bagikan Ke Teman Anda


 





SimulasiKredit.com is a simulation loan estimation tool. You can simulate your monthly loan payments. This tool supports your car or motorbike loan and your house loan.

You can estimate how many period you should pay monthly or yearly. You will know total interest paid and total paid, just input your mortgage amount, interest rate, term and loan start date.

This simulations predict how given payments and interest rate will affect the balance over time. Please note that this simulation is just a simulation. This simulation is intended as a free community service to teach personal finance and the dynamics of compound interest.