Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Mengapa Negara Dunia Ketiga Jarang yang Maju? Ini Dia Masalah Negara Dunia Ketiga!

Istilah negara Dunia Ketiga marak didengungkan di media massa. Banyak yang menyitirnya meski tidak mengerti dengan betul apa yang dimaksud dengan istilah tersebut. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Dunia Ketiga?

Dewasa ini, frasa Dunia Ketiga ditujukan pada negara berkembang meski mulanya ditujukan untuk negara-negara yang tidak memiliki keberpihakan pada salah satu dari dua negara yang bertikai selama Perang Dingin. Di sini, negara Dunia Ketiga adalah negara yang pandangan negaranya tidak sepaham dengan NATO dan kapitalisme Amerika dan sekutunya, dan juga tidak sependapat dengan komunisme yang dibawakan oleh Uni Soviet atau Rusia. Terminologi Dunia Ketiga dimulai sejak Perang Dingin dan digunakan untuk mengidentifikasi mereka yang tidak bergabung dengan Dunia Pertama – yakni NATO dan kapitalisme – dan Dunia Kedua – yang berarti Uni Soviet dan komunisme.

Seiring dengan perkembangan jaman, negara-negara yang bergabung dalam kelompok Dunia Ketiga ternyata banyak menyimpan masalah sehingga lebih layak dimasukkan dalam kategori negara miskin. Jika beruntung, mereka naik tingkat menjadi negara berkembang. Sulit sekali ditemukan alumni negara Dunia Ketiga yang naik kasta menjadi negara maju. Apa sebenarnya masalah di negara Dunia Ketiga yang membuat mereka sulit naik tahta dan hanya menjadi penonton di era globalisasi ini? Berikut ini adalah masalah-masalah yang mendominasi negara Dunia Ketiga dan menghambat kemajuan mereka.

1. Kemiskinan

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemiskinan merupakan masalah utama dan mendominasi negara-negara tertentu sehingga mereka masuk dalam kategori negara Dunia Ketiga. Ada sekitar 1,3 miliar penduduk di negara Dunia Ketiga yang hidup cukup dengan 1,25 dolar Amerika Serikat per hari (kurang lebih 17.500 rupiah). Walaupun PBB telah menempuh langkah serius untuk memangkas jumlah penduduk miskin antara tahun 1990 hingga 2008, kenaikan harga pangan telah menjadi momok lanjutan sehingga kemiskinan tetap merajalela. Jutaan orang hidup dalam kelaparan dan kurang gizi, baik karena tidak punya uang untuk mengkonsumsi menu bergizi atau karena mereka tidak mampu menyediakan pangan atau menanam bahan pangan mereka sendiri.

2. Kekurangan listrik

Adalah suatu hal yang memprihatinkan bahwa di tengah gelimang gadget dan semarak dunia Internet, terdapat sejumlah negara di dunia ini yang kekurangan listrik. Riset PBB menunjukkan bahwa sekitar seperempat warga dunia mengalami kegelapan total di kala malam karena tidak memiliki akses memadai terhadap listrik. Jika listrik saja mereka tidak punya, maka jangan harap mereka punya media dan perangkat untuk mengakses informasi seperti televisi maupun radio, apalagi komputer atau ponsel.

3. Kondisi pertanian buruk

Lebih dari setengah populasi negara berkembang tergantung pada pertanian untuk bertahan hidup dan harus mengkonsumsi sedikitnya 2 (dua) kali makan. Akan tetapi, ada lebih dari 1,4 miliar orang di dunia ini yang kondisi pertaniannya buruk dan yang paling merana dalam hal ini adalah keluarga yang mendasarkan hidupnya dari bercocok tanam. Meski demikian, PBB dan banyak LSM di dunia ini yang mencanangkan pelatihan guna mengatasi persoalan kondisi pertanian yang buruk tersebut.

4. Air minum dengan kualitas buruk

Anda pernah kehausan, bukan? Tidak sulit untuk membayangkannya. Tapi, bisakah Anda membayangkan tengah kehausan namun tidak mampu menemukan sumber air yang layak dikonsumsi dan menghilangkan dahaga? Sulit, tentunya, untuk berimajinasi seliar itu. Hanya saja, bagi mereka yang hidup di negara Dunia Ketiga, hal tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari. Kelangkaan air semacam ini dialami oleh dan menjadi agenda rutin tahunan sekitar 2,8 miliar orang di seluruh dunia dan berlangsung kurang lebih selama sebulan. Lebih buruk lagi, sekitar 1,8 miliar orang di dunia tidak punya akses ke air minum yang layak. PBB, melalui program Millenium Development Goals, gagal mencapai target agar setengah dari orang-orang ini punya akses ke air minum bersih per 2015.

5. Terorisme

Terorisme telah menjadi bagian dari dunia global dewasa ini. Insiden tersebut tidak hanya ada di Timur Tengah, Amerika Serikat atau Eropa Barat, tapi dimana pun manusia berada. Tidak mudah menuntaskan terorisme karena kompleksitasnya yang begitu tinggi. Lebih buruknya lagi, ada sejumlah negara dunia ketiga yang dipimpin dan dijalankan oleh organisasi teroris. Tak ayal lagi, warganya hidup dalam teror dan ketidakpastian akan nasib di masa depan.

6. Pekerja anak-anak di bawah umur

Beruntunglah mereka yang masa kecilnya bahagia dan dijalani secara normal. Betapa tidak, ada jutaan anak-anak yang kehilangan masa kecilnya karena harus bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Menurut riset yang dikeluarkan PBB, setiap harinya ada sekitar 168 juta anak-anak yang bekerja di ladang dan rumah tangga, direkrut sebagai tentara di medan perang, buruh di pabrik hingga menjadi pengemis di jalanan. Dari angka sebanyak itu, sekitar 85 juta di antaranya terlibat dalam pekerjaan berisiko tinggi dimana mereka terekspos bahan kimia dan pestisida yang karena harus menjadi buruh di lahan pertanian atau pabrik bahan kimia. Anak-anak ini tidak pernah berhasil lolos dari jeratan kemiskinan meski bekerja setiap hari. Kelaparan, kemiskinan, dan sakit adalah masa depan mereka, seberapa keras pun mereka bekerja. Pendidikan adalah hal yang mahal bagi mereka karena tidak ada waktu dan dana untuk memenuhi kebutuhan yang satu itu.

7. Sarana kesehatan yang buruk

Satu hal yang paling akrab dengan negara Dunia Ketiga adalah penyakit seperti HIV/AIDS yang sifatnya pandemik di negara tersebut. Perkiraan PBB menunjukkan sekitar 50 juta orang terkena penyakit HIV/AIDS dan 65 persen di antaranya adalah perempuan. Sekitar 90 persen anak-anak dan 60 persen wanita di selatan Gurun Sahara hidup dengan HIV. Sementara setiap tahunnya di negara Dunia Ketiga lebih dari 11 juta anak-anak meninggal karena diare, pneumonia dan malaria. Lebih buruknya lagi, sekitar 200 juta balita tidak punya akses ke sarana kesehatan paling mendasar sekalipun. Dan itu semua dialami mereka yang hidup di Dunia Ketiga.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang masalah mengapa Negara dunia ketiga jarang yang maju, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Mengapa Asia Timur Lebih Maju Dibandingkan Asia Tenggara?
Apa yang Terjadi ketika Negara Gagal Membayar Utang (Default)?
Mengapa Asuransi Mobil Diwajibkan di Beberapa Negara?
Apa itu Depresi & Great Depression?
Apa yang Terjadi Jika Negara Menolak Melunasi Utang?
Apa itu Resesi Ekonomi? Apa Indikatornya?
Negara-negara yang Dulunya Kaya Raya namun Kini Miskin
Apa Rasanya Tinggal di Negara dengan Hiperinflasi (HyperInflation)?
Agar Bisa Menabung, Hindari Beli Barang Berikut
Membuat Anggaran ketika Sedang Bangkrut


Bagikan Ke Teman Anda