Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Orang Miskin Punya Banyak Anak? Apa Mereka Tidak Mikir?

Ada sekitar 6 miliar manusia di seluruh dunia saat ini, dan angka ini terus meningkat seiring dengan membaiknya akses manusia ke kebutuhan kesehatan. Hanya saja, angka tersebut tidak memiliki distribusi merata ke seluruh negara di dunia. Negara maju cenderung memiliki tingkat pertumbuhan penduduk dan juga jumlah penduduk yang relatif lebih rendah ketimbang negara berkembang atau bahkan negara miskin. Sementara itu, mereka yang masuk dalam kategori negara miskin atau berkembang terus memperbanyak jumlah penduduk tanpa disertai pembekalan yang memadai atau peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Bagi Indonesia, ada terminologi yang santer didengungkan di awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, yakni keberadaan bonus demografi. Membesarnya populasi warga negara Indonesia dipandang sebagai suatu hal yang strategis – menurut kacamata ekonom kapitalis Barat, tentunya. Menurut ekonom Barat atau yang beraliran liberal, tingginya populasi penduduk Indonesia berarti pangsa pasar bagi produk mereka dan juga angkatan kerja untuk penyediaan produk yang bisa dipasarkan di seluruh dunia. Tapi, apakah itu benar adanya?

Di tengah dunia yang makin canggih ini, teknologi sangat berperan dalam penyediaan barang dan jasa. Peran manusia tidak lagi sepenting 2 (dua) dekade lalu, dimana proyek padat karya alias labor intensive industry merupakan hal yang seksi untuk dijalankan negara dengan penduduk besar. Populasi yang tinggi adalah beban, terutama jika tidak disertai oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia dan akses sebagai pelaku aktif di sektor ekonomi – tidak melulu diposisikan sebagai pasar alias konsumen.

Sayangnya, penduduk miskin menguasai persentase yang jauh lebih besar ketimbang yang kaya. Mereka yang miskin ini cenderung memiliki anak lebih banyak lagi ketimbang mereka yang berpendidikan, kaya dan memiliki akses baik ke perekonomian. Jika tidak diantisipasi, Indonesia hanya akan dipenuhi oleh penduduk yang miskin secara intelektual, finansial, maupun kultural. Hal ini mengisyaratkan pentingnya langkah-langkah pembatasan pertumbuhan jumlah penduduk serta serangkaian proses depopulasi yang bisa ditempuh dengan cara penyebaran penyakit tertentu lewat udara, air, maupun makanan.

Hal yang terakhir disebut ini sangat mungkin dilakukan berkat adanya perkembangan di bidang pemetaan genetika melalui human genome project dan juga layak untuk ditempuh karena, bagaimanapun juga, Indonesia layak diisi oleh manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi di tengah perekonomian global. Mereka yang tidak berkualitas cenderung melakukan keonaran secara sosial, memberatkan pengeluaran dan belanja pemerintah, serta merongrong keberlanjutan sumber daya alam nasional secara keseluruhan. Depopulasi, disukai atau tidak, harus segera dilaksanakan dengan cara apapun.

Namun, di luar semua persoalan kependudukan, ada sejumlah hal yang menarik perhatian mereka yang bergerak di ranah sosial. Salah satunya adalah alasan mengapa orang miskin cenderung memiliki banyak anak walaupun mereka sadar bahwa mereka miskin dan tidak sanggup membesarkan anak-anak secara layak. Ada beberapa spekulasi perihal ini, seperti:

1. Seks sebagai satu-satunya sarana hiburan

Tidak ada sarana hiburan yang memadai bagi orang miskin. Satu-satunya hiburan yang tersedia bagi mereka hanyalah berhubungan seksual. Kebutuhan yang satu ini sangat mudah untuk dipenuhi karena tidak memerlukan modal banyak. Tidak pula memakan waktu lama, dan bisa dilakukan berkali-kali.

2. Penolakan terhadap alat kontrasepsi

Mengingat seks hanyalah satu-satunya hiburan yang tersedia bagi mereka, keberadaan alat kontrasepsi – apapun bentuknya – dianggap sebagai penghalang kenikmatan berhubungan seks. Dengan kata lain, alat kontrasepsi dinilai sebagai perusak satu-satunya kenikmatan dan hiburan yang tersisa bagi mereka.

3. Kurang kesibukan yang berarti

Ketika orang miskin disibukkan oleh hal-hal dan aktifitas yang menguntungkan secara perekonomian, maka frekuensi yang bersangkutan untuk berhubungan seks dan menjadikan seks sebagai satu-satunya sarana hiburan akan menurun drastis. Salah satu penyebab tingginya jumlah penduduk miskin adalah rendahnya perhatian pemerintah untuk memberi akses warga miskin ke sektor perekonomian produktif. Mereka yang seharian aktif membanting tulang dan menghidupkan sektor perekonomian otomatis akan mengurangi frekuensinya untuk berhubungan seks.

4. Pemerintah yang terlampau memanjakan

Ada kalanya pemerintah tidak mengerti apa yang dibutuhkan warga miskin sehingga memutuskan untuk mengambil langkah populis dalam mengentaskan kemelaratan dan kemiskinan. Salah satu praktik tidak bijak yang dicanangkan pemerintah adalah dengan memberi bantuan tunai langsung ke warga miskin. Pratik demokrasi one man-one vote turut memperburuk hal ini.

5. Hukum yang lemah

Bagi pasangan suami istri miskin, tidak bermoral, dan tidak bertanggung jawab, keberadaan anak-anak berarti makin ringannya beban ekonomi yang harus mereka pikul. Bagi mereka, anak-anak bisa diberdayakan semenjak balita sekalipun untuk diajak mengemis, sementara kakak atau saudaranya yang lebih tua bisa melakukan pekerjaan yang lebih kasar namun menghasilkan. Praktik semacam ini bukanlah hal yang asing dewasa ini. Tidak hanya di perkotaan, tapi juga di pedesaan dan kota kecil. Hal ini semakin marak dan makin buruk karena tidak adanya sanksi yang tegas dari pemerintah atas praktik nista semacam ini.

Lebih buruk lagi, tidak ada hukum yang tegas bagi ayah dan ibu yang mengkomersilkan anak-anaknya. Bisa jadi, ini ditempuh pemerintah (baca: dibiarkan) karena tidak mau bertanggung jawab menanggung anak-anak dari pasangan miskin ini.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang orang miskin punya banyak anak, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Mengapa Orang Miskin Benci Orang Kaya?
Orang Kaya Lebih Hemat Daripada Orang Miskin
Mengapa Kesenjangan antara Kaya dengan Miskin Semakin Lebar?
Mengapa Orang Miskin Tetap Miskin? Inilah Penyebabnya!
Perbedaan Cara Berpikir Orang Kaya dan Orang Miskin
Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Contoh Keputusan Finansial yang Buruk
Mengapa Orang Yahudi Sukses?
Jangan Beli Mainan Anak-anak Seperti Ini


Bagikan Ke Teman Anda