Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Perusahaan yang Mati Karena Disruption Teknologi Baru

Tidak ada yang sanggup menolak perkembangan jaman. Apapun itu, mulai dari kekuasaan politik hingga kultur sekalipun, jika telah berhadapan langsung dengan jaman, dan tak dapat bersinergi dengannya, akan langsung tumbang. Sejarah dipenuhi dengan hal-hal semacam itu. Apa yang tadinya mencatat kegemilangan di panggung sejarah, serta-merta hancur dan menyisakan nama jika menolak untuk mengadopsi inti nilai dan semangat jaman itu sendiri.

Faktor yang sama juga berlaku pada dunia bisnis. Para pebisnis yang enggan mengikuti perkembangan jaman dan berbagai turunan yang mengikutinya, dapat dipastikan ambruk dan tercerai-berai. Fakta menunjukkan bahwa semakin tinggi kemajuan teknologi, maka semakin panjang daftar perusahaan yang harus gulung tikar karena tidak sanggup lagi mendulang keuntungan atau bersaing dengan kompetitor yang, uniknya, seringkali berukuran lebih kecil dan modal tidak besar.

Ini kabar baik buat mereka yang merasa ketakutan melawan ‘raksasa’ karena ukuran ternyata tidak menjadi masalah besar untuk memenangkan pergulatan di kancah bisnis. Intinya hanya satu, yakni menguasai perubahan radikal yang tengah berkembang di tengah jaman, yang biasa dikenal sebagai disruption.

Apa saja perusahaan yang harus terjerembab di kanvas sejarah karena dampak perkembangan jaman? Berikut beberapa bisnis yang kandas karena efek disruption.

1. AltaVista

Nama AltaVista begitu mendunia sebagai mesin pencari nomor satu di Internet. Tapi, itu terjadi sebelum Google lahir. Kurang lebih selama lima tahun perusahaan tersebut malang-melintang di jagat Internet dan menarik perhatian banyak orang untuk membeli sahamnya. Di tahun 2002, AltaVista meluncurkan aksi share sale setelah terjadi bubble dotcom. Hanya saja, peristiwa itu gagal terjadi karena tidak banyak peminatnya. Hanya Yahoo! yang bersedia membeli perusahaan tersebut. Sekarang, nama AltaVista tinggal kenangan karena Yahoo! resmi menutup mantan mesin pencari nomor satu itu di tahun 2013.

2. Palm

Ketenaran Palm dimulai di tahun 1996 ketika perusahaan tersebut meluncurkan Personal Digital Assistant (PDA) pertama dengan harga 200 dolar Amerika Serikat. Untuk ukuran jaman itu, PDA sangat membantu dan praktis, karena orang cukup menulis di layar dengan memakai stylus, dapat disimpan di komputer pribadi dan baterainya pun tahan hingga berminggu-minggu. Tak lama kemudian Palm dibeli oleh USRobotics yang merger dengan 3com. Di tahun 1999 penjualannya melampaui 500 juta dolar AS.

Kejayaan itu harus berhenti setelah kedatangan era ponsel cerdas, terutama dengan munculnya Blackberry keluaran RIM di tahun 2002. Sejarah Palm benar-benar berbalik dengan kehadiran iPhone di tahun 2007. Pada tahun 2010 HP mengakuisisi Palm senilai 1.2 miliar dolar AS. Perusahaan yang sama juga menghentikan eksistensi Palm OS setahun kemudian.

3. AOL

Cukup sulit untuk membayangkan bagaimana sebuah perusahaan besar semacam AOL gulung tikar. AOL lah yang banyak mengedukasi jutaan orang akan dial-up Internet dan termasuk yang pertama memperkenalkan e-mail. Hal ini menarik perhatian Time Warner, sebuah kelompok media raksasa dunia, yang membelinya pada Januari 2000. Ternyata itu menjadi awal musibah AOL. Perusahaan yang dulunya senilai 226 miliar dolar AS terpaksa ‘dijual’ ke Verizon dengan harga cuma 4.4 miliar dolar AS di tahun 2015.

4. Netscape

Hingga akhir tahun 90an, hanya ada 2 browser Internet yang menjadi acuan orang: Internet Explorer dan Netscape Navigator. Keduanya sudah almarhum saat ini, kecuali Microsoft yang masih menyisakan IE di dalam sistem operasinya walau menawarkan browser baru yang bernama Edge. Untuk ukuran jaman itu, Netscape menjadi solusi browsing alternatif karena lebih ringan, canggih, dan sifatnya yang open-source. Temuan Marc Andreessen tersebut dibeli AOL di tahun 1998, yang kemudian menjadi akhir eksistensi Netscape. Hanya saja, Mozilla mewarisi ‘nilai’ Netscape dan mewujudkannya dalam bentuk browser open-source bernama Firefox.

5. Myspace

Dulu, nama Myspace menjadi pilihan para selebriti, terutama musisi, untuk memasarkan album atau produk mereka. Hampir tidak ada musisi yang tidak punya akun resmi Myspace yang wujudnya bak media sosial raksasa saat ini, yaitu facebook. Namun, nama Myspace tidak lagi sepopuler dulu. Hal ini berawal dari kebijakan pimpinan Viacom, Summer Redstone, yang memecat Tom Freston, CEO Myspace, karena gagal mengalahkan Rupert Murdoch dalam pembelian saham facebook. Akhir kata, kini Myspace hanya berupa situs musik setelah News Corp menjualnya senilai 35 juta dolar Amerika di tahun 2011.

6. Napster

Bicara lagi soal musik, pengguna Internet di awal tahun 2000 pasti mengerti betul apa itu Napster. Kala itu, cara paling populer untuk menikmati musik adalah dengan menggunakan CD alias compact disc yang harganya cukup mahal. Dan, Napster pun menawarkan solusi alternatif berupa musik digital yang gratis. Tapi ternyata banyak perusahaan rekaman yang menuntut Napster dan mereka yang terlibat dalam penyediaan musik secara gratisan di dalamnya. Di tahun 2001 Napster kalah. Tapi, kekalahan Napster tidak menjadikan industri musik konvensional untung besar, karena semenjak itulah dunia musik digital mengalahkan bisnis musik konvensional.

7. Kodak

Hampir seabad lamanya tidak ada kamera yang selaris Kodak. Soal kualitas, tidak ada yang menandingi. Tidak ada foto maupun film bagus yang dihasilkan tanpa melibatkan Kodak. Tapi, kisah sukses Kodak harus memudar karena kemajuan fotografi digital dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya; mulai dari printer hingga fasilitas file sharing. Meski Kodak melakukan sejumlah manuver bisnis dengan merambah dunia farmasi, memory chip, manajemen dokumen, dan banyak bidang lainnya, kejayaannya tidak pernah terulang.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang perusahaan yang mati karena disruption teknologi baru, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



9 Hal yang Harus Dimiliki Founder Startup Berbasis Teknologi
Trend Teknologi Tahun 2018? Ini Prediksinya!
Apa Itu Perusahaan Pergadaian?
Apa Perbedaan Crowdsourcing vs Crowdfunding?
Ini Dia Trend Teknologi di Tahun 2018
Perbedaan antara Badan Usaha dan Perusahaan
Perbedaan Karakteristik Perusahaan Dagang dengan Perusahaan Jasa
Agar Bisa Menabung, Hindari Beli Barang Berikut
Membuat Anggaran ketika Sedang Bangkrut
Kesalahan Mengatur Keuangan yang Umum Terjadi


Bagikan Ke Teman Anda