Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Prediksi Krisis Ekonomi 2020 dari Nouriel Roubini

Salah satu hal yang dihindari dan sangat tidak diinginkan adalah krisis ekonomi. Krisis ekonomi telah menjadi momok menyeramkan bagi suatu negara. Seperti yang telah terjadi pada tahun 1998, krisis ekonomi di Indonesia telah berhasil membuat negara gunjang-ganjing. Bisa dibayangkan jika krisis ekonomi terjadi lagi.

Namun, seorang ahli ekonom telah memprediksi bahwa pada taun 2020 akan terjadi krisis ekonomi. Ekonom itu adalah Nouriel Roubini. Lantas, bagaimana prediksi krisis ekonomi dari Nouriel Roubini?

A. Siapa itu Nouriel Roubini?

Sebelum lebih dalam menyelami tentang prediksi yang disampaikannya, tentu tidak afdol rasanya jika tidak mengenail terlebih dahulu Nouriel Roubini. Nouriel Roubini merupakan ekonom asal Amerika. Ia lahir di Turki pada 29 Maret 1958 dan dibesarkan di Italia. Ia mengajar di Stern School of Business Universitas New York dan menjadi ketua perusahaan konsultan ekonomi bernama Roubini Macro Associates LLC.

Ketika Nouriel Rousini masih bayi, keluarganya tinggal sebentar di Iran dan Israel. Dari tahun 1962 hingga 1983 ia tinggal di Italia. Ia bersekolah Yahudi di Milan, dan kemudian meneruskan pendidikannya di Universitas Bocconi. Dari sana, ia memeroleh gelar B. A. demgan hasil summa cum laude di bidang ekonomi. Kemudian, ia meneruskan pendidikannya di Universitas Harvard pada tahun 1988 dan berhasil meraih gelar Ph. D dengan predikat cum laude di bidang ekonomi internasional. Di samping kemampuan ekonomi yang mengagumkan, ia juga memiliki kemampuan bahasa yang mengagumkan juga. Ia bisa berbicara Bahasa Inggris, Persia, Italia, Ibrani, dan Prancis.

Nouriel Roubini memiliki karier yang cemerlang di dunia ekonomi. Dimulai pada tahun 1990-an, ia menggabungkan penelitian akademik dengan pembuatan kebijakan dengan mengajar di Yale dan kemudian di New York. Pada saat yang bersamaan, ia juga dipekerjakan di Dana Moneter Internasional, Federal Reserve, Bank Dunia, dan Bank Israel. Saat ini, ia adalah profesor di Stern School of Business di New York University.

Banyak prediksi-prediksi yang terlahir dari buah pikir Nouriel Roubini. Salah satunya adalah pada awal 2017, Roubini berspekulasi bahwa terpilihnya Donald Trump sebagai presiden dapat meramalkan pergeseran geopolitik dari globalisasi dan lebih ke arah isolasionisme. Hal tersebut merupakan suatu perubahan yang menurutnya dapat menyebabkan ketidakstabilan global dan meningkatnya konflik militer di antara negara-negara lain.

B. Dr. Doom

Pada 7 September 2006, Nouriel Roubini berdiri di depan audiensi para ekonom di Dana Moneter Internasional dan mengumumkan bahwa sebuah krisis sedang terjadi. Dalam bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang, ia memperingatkan Amerika Serikat kemungkinan akan menghadapi kegagalan perumahan sekali seumur hidup, kepercayaan konsumen yang menurun tajam, hingga akhirnya resesi yang dalam. Perkembangan tersebut  selanjutnya dapat melumpuhkan atau menghancurkan bank investasi, dan lembaga keuangan besar lainnya seperti Fannie Mae dan Freddie Mac.

Para audiens tidak percaya dan bahkan meremehkan pendapat dari Nouriel Roubini tersebut. Bahkan ekonom benama Anirvan Banerji memberikan tanggapan pada Nouriel Roubini bahwa prediksinya tidak menggunakan matematika. Namun, Nouriel Roubini terbukti benar. Pada tahun berikutnya, pemberi pinjaman subprime mulai memasuki kebangkrutan, pasar saham anjlok, ada sebagian pekerjaan yang menurun, dan dolar memburuk. Pada akhir musim panas, Federal Reserve bergegas menyelamatkan keadaan dengan membuat intervensi-intervensi ortodoks yang pertama dalam banyak perekonomian, termasuk memotong suku bunga pinjaman sebesar 50 basis poin dan membeli puluhan miliar dolar AS dalam sekuritas yang didukung hipotek.

Alhasil, pada September 2008 saat ia menyampaikan pidato keduanya di DMI yang memprediksi krisis solvabilitas yang terus meningkat yang akan menginfeksi setiap sektor sistem keuangan, tidak ada audiens yang meremehkannya.

Pada bulan Februari, ketika kebijakan konvensional menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan investasi terkemuka di Wall Street akan tahan terhadap krisis, Roubini memperingatkan bahwa satu atau lebih dari mereka akan berakhir buruk. Enam minggu kemudian, Bear Stearns runtuh.

Karena prediksi-prediksinya yang jahat namun akurat itu, Nouriel Roubini telah menjadi tokoh utama dalam debat publik tentang ekonomi. Dia telah dipanggil untuk berbicara di depan Kongres, Dewan Hubungan Luar Negeri dan Forum Ekonomi Dunia di Davos.

Dia sekarang menjadi penasihat yang dicari, menghabiskan banyak waktunya bolak-balik antara pertemuan dengan gubernur bank sentral dan menteri keuangan di Eropa dan Asia. Nouriel Roubini Bahkan menyandang gelar “Dr. Doom” karena ketepatan pediksinya pada tahun 2008 tentang krisis finansial.

Saat itu, Nouriel Roubini berhasil memprediksi krisis keuangan 2008 pada saat hampir tidak ada ekonom atau analis lain yang mengharapkan bencana keuangan terjadi. Atas prediksinya yang terkesan pesimis namun benar tersebut, ia mendapat gelar “Dr. Doom”.

C. Alasan Kondisi Sekarang Menjadi Petunjuk Krisis Ekonomi

Dr Doom atau Nouriel Roubini kembali membawa berita yang tidak mengenakkan dengan menyatakan prediksinya tentang krisis finansial dan resesi global yang akan terjadi pada 2020. Prediksi tersebut terdapat pada kajian yang ia tulis bersama Brunello Rosa berjudul  The Makings of a 2020 Recession and Financial Crisis (Pembentukan Resesi 2020 dan Krisis Keuangan).

Dalam kajian tersebut, ia menyebutkan bahwa ekonomi dunia akan terlebih dahulu melakukan ekspansi pada 2019, seiring dengan kebijakan Amerika Serikat (AS) untuk menjalankan defisit anggaran secara masif. Sementara itu,  China menerapkan kebijakan fiskal dan kredit longgar dan Eropa masih berada dalam tahap pemulihan.

Namun, pada tahun berikutnya, keadaan tidak sama lagi dan krisis ekonomi akan terjadi. Roubini bahkan menjabarkan 10 faktor yang akan memicu resesi dan bahkan krisis ekonomi secara global. Faktor-faktor tersebut adalah:

  • Faktor Pertama

Kebijakan stimulus fiskal yang saat ini mendorong tingkat pertumbuhan A.S. tahunan di atas 2% potensinya tidak berkelanjutan. Pada tahun 2020, stimulus akan habis dan hambatan fiskal sederhana akan menarik pertumbuhan dari 3% menjadi sedikit di bawah 2%.

  • Faktor Kedua

Karena stimulusnya tidak tepat waktu, ekonomi AS sekarang terlalu panas, dan inflasi naik di atas target. Federal Reserve AS akan terus menaikkan suku bunga dana federal dari 2% saat ini menjadi setidaknya 3,5% pada tahun 2020, dan itu kemungkinan akan mendorong kenaikan suku bunga jangka pendek dan jangka panjang serta dolar AS.

Sementara itu, inflasi juga meningkat di negara-negara utama lainnya, dan kenaikan harga minyak berkontribusi pada tekanan inflasi tambahan. Hal tersebut menandakan bahwa bank sentral utama lainnya akan mengikuti The Fed menuju normalisasi kebijakan moneter, yang akan mengurangi likuiditas global dan memberi tekanan pada suku bunga.

  • Faktor Ketiga

Perselisihan perdagangan Trump dengan Cina, Eropa, Meksiko, Kanada, dan lainnya hampir pasti akan meningkat. Perselisihan-perselihan tersebut  mengarah pada pertumbuhan yang lebih lambat dan inflasi yang lebih tinggi.

  • Faktor Keempat

Kebijakan AS lainnya akan terus menambah tekanan stagflasi, mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi lagi. Administrasi membatasi investasi masuk dan keluar dan transfer tekhnologi, yang akan mengganggu rantai pasokan.

Hal tersebut membatasi para imigran yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan seiring bertambahnya populasi AS. Tentunya hal tersebut menghambat investasi dalam ekonomi hijau. Di sisi lain, AS tidak memiliki kebijakan infrastruktur untuk mengatasi kemacetan di sisi pasokan. Setelah koreksi terjadi, risiko illiquidity dan undershooting akan menjadi lebih parah.

  • Faktor Kelima

Pertumbuhan di seluruh dunia kemungkinan akan melambat. Hal ini dikarenakan negara-negara lain akan membalas proteksionisme A.S. Cina harus memperlambat pertumbuhannya untuk mengatasi kelebihan kapasitas dan leverage yang berlebihan. Di sisi lain, pasar negara berkembang yang sudah rapuh akan terus merasakan sejumput dari proteksionisme dan pengetatan kondisi moneter di AS.

  • Faktor Keenam

Eropa juga akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat, karena pengetatan kebijakan moneter dan gesekan perdagangan. Selain itu, kebijakan populis di negara-negara seperti Italia dapat menyebabkan dinamika utang yang tidak berkelanjutan dalam zona euro.

“Doom loop” yang masih belum terselesaikan antara pemerintah dan bank yang memiliki hutang publik akan memperkuat masalah eksistensial dari serikat moneter yang tidak lengkap dengan pembagian risiko yang tidak memadai. Di bawah kondisi ini, penurunan global lainnya dapat mendorong Italia dan negara-negara lain untuk keluar dari zona euro.

  • Faktor Ketujuh

Pasar ekuitas AS dan global sudah melambung tinggi. Rasio harga terhadap pendapatan di AS adalah 50% di atas rata-rata historis, penilaian ekuitas swasta menjadi berlebihan, dan obligasi pemerintah terlalu mahal, karena imbal hasil rendah dan premi berjangka negatif.

Kredit dengan hasil tinggi juga menjadi semakin mahal sekarang karena tingkat leverage perusahaan AS telah mencapai titik tertinggi dalam sejarah. Selain itu, leverage di banyak pasar negara berkembang dan beberapa negara maju jelas berlebihan.

Real estate komersial dan perumahan terlalu mahal di banyak bagian dunia. Koreksi pasar berkembang dalam ekuitas, komoditas, dan kepemilikan pendapatan tetap akan berlanjut ketika awan badai global berkumpul. Dan ketika investor berwawasan ke depan mulai mengantisipasi perlambatan pertumbuhan pada tahun 2020, pasar akan menilai ulang aset berisiko pada tahun 2019.

  • Faktor Kedelapan

Setelah koreksi terjadi, risiko illiquidity dan fire sales akan menjadi lebih parah. Aktivitas pembuatan pasar dan pergudangan oleh broker-dealer akan berkurang. Perdagangan frekuensi tinggi yang berlebihan akan meningkatkan kemungkinan flash crashes.

Sementara itu, instrumen pendapatan tetap telah menjadi lebih terkonsentrasi dalam dana kredit perdagangan khusus yang diperdagangkan di bursa. Dalam kasus risk-off, pasar negara berkembang dan sektor keuangan ekonomi maju dengan kewajiban dalam denominasi dolar yang besar tidak akan lagi memiliki akses ke The Fed sebagai pemberi pinjaman terakhir.

Dengan meningkatnya inflasi dan normalisasi kebijakan yang sedang berlangsung, hambatan yang disediakan oleh bank sentral selama tahun-tahun pasca krisis tidak dapat lagi dihitung.

  • Faktor Kesembilan

Politik domestik AS bisa menjadi salah satu pemicu. Trump sudah menyerang The Fed ketika tingkat pertumbuhan baru-baru ini berada pada tingkat 4%.

Jika ditilik lebih dalam, Trump juga akan melakukan hal yang serupa saat tahun pemilihan presiden 2020,  ketika pertumbuhan kemungkinan akan turun di bawah 1% dan banyak orang kehilangan pekerjaan. Godaan bagi Trump untuk membuat krisis kebijakan luar negeri akan tinggi, terutama jika Demokrat merebut kembali Dewan Perwakilan Rakyat tahun ini.

Karena Trump telah memulai perang dagang dengan Cina dan tidak akan berani menyerang Korea Utara yang bersenjata nuklir, target terbaik terakhirnya adalah Iran.

Dengan memprovokasi konfrontasi militer dengan negara itu, ia akan memicu goncangan geopolitik stagflasial yang tidak berbeda dengan lonjakan harga minyak pada tahun 1973, 1979, dan 1990. Dengan kata lain, itu akan membuat resesi global yang akan datang semakin parah.

  • Faktor Kesepuluh

Begitu badai sempurna (perfect storm) yang diuraikan di atas terjadi, alat kebijakan untuk mengatasinya akan sangat kurang. Ruang untuk stimulus fiskal sudah dibatasi oleh utang publik besar-besaran.

Kemungkinan untuk kebijakan moneter yang lebih tidak konvensional akan dibatasi oleh neraca yang membengkak dan kurangnya ruang untuk memangkas suku bunga kebijakan.

Sementara itu, dana talangan sektor keuangan tidak akan dapat ditoleransi di negara-negara dengan gerakan populis yang bangkit kembali dan pemerintah yang hampir bangkrut. Di AS khususnya, anggota parlemen telah membatasi kemampuan The Fed untuk menyediakan likuiditas kepada lembaga keuangan non-bank dan asing dengan kewajiban dalam mata uang dolar.

Di Eropa, bangkitnya partai-partai populis menjadikannya lebih sulit untuk mengejar reformasi di tingkat Uni Eropa dan menciptakan lembaga-lembaga yang diperlukan untuk memerangi krisis dan penurunan keuangan berikutnya.

Nouriel Roubini menyatakan bahwa krisis pada tahun 2020 nanti akan lebih parah dibanding krisis tahun 2008. Tidak seperti pada 2008 ketika pemerintah memiliki alat kebijakan yang diperlukan untuk mencegah jatuh bebas, pembuat kebijakan pada tahun 2020 akan terikat dengan level utang yang lebih tinggi dibanding dengan krisis 2008.

D. Penyebab Krisis Ekonomi 2020

Mengapa krisis ekonomi akan terjadi pada tahun 2020 bukannya terjadi pada tahun ini atau tahun sebelumnya? Nouriel menjelaskan bahwa ada tiga alasan utama yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi 2020:

  1. Perang Dagang AS dan Gesekan Perdagangan antara AS dan Eropa serta Negara-Negara NAFTA.Nouriel Roubini berpendapat bahwa kebijakan AS pada akhirnya akan mengarah pada inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.
  2. Harga Aset Melambung. Penilaian saham sangat rata-rata di atas rata-rata historis, kredit mahal, real estat membosankan secara global, dan harga aset pasar berkembang sudah dalam koreksi. Rata-rata historis rasio CAPE sejak 1818 adalah sekitar 16,9. Jadi, dapat dikatakan bahwa pasar saham AS diperdagangkan 96% di atas rata-rata historisnya
  3. Donald Trump. Donald Trump menyerang The Fed pada saar PDB turun di level 4%. Donald Trump juga diperkirakan akan menyerang The Fed lagi saat ekonomi AS tumbuh satu persen pada tahun 2020.

E. Perang Dagang Menyebabkan Resesi

Perang dagang antara AS dan China bisa sangat mengganggu sehingga mulai memisahkan ekonomi global dan akhirnya dapat menyebabkan resesi.

Menurut Nouriel Roubini konsekuensi dari perang dagang dan perang dingin tersebut adalah awal dari de-globalizaion dan decoupling ekonomi global. AS dan China baru-baru ini mencapai gencatan senjata dalam perang dagang mereka selama setahun setelah kedua negara mematok tarif barang miliaran dolar masing-masing.

Namun Nouriel Roubini pesimis bahwa dua negara ekonomi terbesar di dunia itu akan membuat kesepakatan jangka panjang dalam waktu dekat. Nouriel Roubini juga menyatakan bahwa perang dagang dan teknologi antara AS dan China akan semakin buruk. Manufaktur sudah dalam resesi global. Sektor teknologi juga mengalami perlambatan.

F. China & Iran Penyebab Resesi

Menurut Nouriel Roubini, perselisihan Amerika dengan Cina dan Iran berisiko memecah dunia dan memicu resesi global tahun 2020. Dia menyatakan bahwa gangguan dalam perdagangan AS-Cina dan eskalasi dalam konflik AS-Iran dapat memecah jaringan perdagangan global menjadi dua kubu, sehingga  memberikan dampak ganda terhadap pertumbuhan dunia.

Jika meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran pecah menjadi perang, gangguan pada pasokan minyak dapat menaikkan harga energi. Baik perang dagang AS-Cina dan konflik AS-Iran mengancam akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi. Hal tersebut berarti bahwa ekonomi global menghadapi dua ancaman stagflasi.

Nouriel Roubini juga meramalkan bahwa gencatan senjata sementara antara AS dan Cina akan runtuh dalam beberapa bulan. Kedua belah pihak gagal untuk menyetujui persyaratan perdagangan, transfer teknologi, geopolitik, dan masalah lainnya. Perang dingin yang dihasilkan dapat menyebabkan gangguan luas, memisahkan rantai pasokan global, dan membagi dunia menjadi dua blok perdagangan.

Yang memperburuk keadaan, bank-bank sentral sudah dalam masalah ketika resesi melanda. Masalah tersebut adalah banyak yang telah memangkas suku bunga, menumpuk utang, menyuntikkan dana ke dalam perekonomian, dan memberi jaminan industri dalam beberapa tahun terakhir.

G. Cryptocurrency Penyebab Bubble

Nouribel Roubini di konferensi Salt di New York menyatakan bahwa “cryptocurrency adalah ibu dan ayah dari semua penipuan dan bubble”. Hal itu sama artinya dengan cryptocurrency merupakan penyebab utama dari bubble.

Nouriel Roubini menyatakan kekhawatiran awalnya tentang bubble cryptocurrency telah muncul pada akhir 2017. Hal tersebut dikarenakan harga bitcoin mencapai level tertinggi hingga mendekati $ 20.000. Roubini memperingatkan bahwa hype seputar cryptocurrency mungkin sangat berbahaya.

Hal tersebut dikarenakan hype seputar cryptocurrency menarik orang-orang yang memiliki tingkat literasi keuangan rendah serta mendorong seseorang yang tidak bisa membedakan saham dan obligasi untuk masuk ke dalam dunia bitcoin dan crypto.

Nouriel Roubini mengkritik scammers di komunitas cryptocurrency karena menarik investor dengan aset scammy yang awal mulanya berada di puncak dan kemudian jatuh. Para ekonom menggambarkannya dengan fenomena pada tahun 2018 dimana nilai bitcoin dan token digital lainnya telah jatuh. Fenomena tersebut dikenal dengan kiamat crypto atau Crypto-Apocalypse.

Banyak ekonom terkemuka termasuk Nouriel Roubini mengemukakan perasan negatif mereka terhadap token digital. Investasi dalam cryptocurrency dan Initial Coin Offerings (ICO) sangat berisiko dan spekulatif. Meskipun demikian, masih ada kelompok pendukung mata uang digital, termasuk orang-orang yang percaya bahwa cryptocurrency terus berevolusi untuk menangani masalah-masalah yang telah mengganggu industri.

Itulah penjelasan lengkap mengenai prediksi krisis ekonomi dari Nouriel Roubini. Sebagai individu yang melek ekonomi, sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri jika prediksi tersebut benar adanya.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang prediksi krisis ekonomi 2020 dari Nouriel Roubini, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Bagaimana Bersiap Menghadapi Krisis Ekonomi
10 Krisis Perbankan Abad 21
Ada Apa dengan Krisis Ekonomi di Turki?
13 Tip Agar Bisnis Kecil UKM Bisa Bertahan Saat Krisis Ekonomi
Mengambil Hikmah dari Krisis Yunani
Apa Rasanya Tinggal di Negara dengan Hiperinflasi (HyperInflation)?
Ambil Pelajaran dari Krisis di Venezuela
6 Tip Mempersiapkan Krisis Ekonomi yang Dapat Dicoba
Belajar dari Krisis di Venezuela
Pelajaran dari Krisis di Zimbabwe


Bagikan Ke Teman Anda