Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Seputar Redenominasi di Turki

Beberapa tahun belakangan pemerintah gencar mewacanakan redenominasi mata uang Rupiah (Rp). Wacana ini mulai disuarakan sejak masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Joko Widodo juga memiliki sikap kebijakan yang sama seperti presiden sebelumnya.

Redenominasi adalah memangkas nilai nominal mata uang tanpa mengurangi nilai riil atau daya beli mata uang dalam membeli. Tujuannya agar nila mata uang menjadi lebih sederhana. Bagi Pemerintah Indonesia, kebijakan redenominasi dapat meningkatkan martabat bangsa.

Sebagai ilustrasi, uang sebesar Rp 5.000.000 bisa digunakan untuk membeli sebuah laptop. Ketika dilakukan redenominasi atau pemangkasan nol sebanyak tiga digit, maka uang Rp 5.000.000 menjadi Rp 5.000. Uang sebesar Rp 5.000 tersebut tetap bisa digunakan untuk membeli laptop yang sama.

Nilai mata uang yang secara nominal terlalu besar dianggap kurang kredibel. Kepercayaan investor pun rendah terhadap negara dengan nominal mata uang yang terlalu banyak. Di ASEAN, hanya Indonesia dan Vietnam saja yang memiliki nilai mata uang yang mencapai bahkan lebih dari 5 digit.

Selain itu, redenominasi juga bermanfaat bagi sistem ekonomi dan keuangan secara keseluruhan. Akuntansi, pencatatan keuangan dan pembukuan menjadi lebih sederhana dan efisien. Namun, redenominasi mata uang bukanlah perkara mudah. Sejumlah strategi jitu harus diterapkan guna menjaga ekonomi tetap stabil saat proses redenominasi berlangsung.

Salah satu negara yang sukses melakukan redenominasi mata uang adalah Turki yang sukses memangkas 6 digit mata uang Lira. Uang Lira sebesar 1.000.000 berhasil dipangkas menjadi 1 Lira saja. Bagaimana Turki berhasil melakukan redenominasi dengan mempertahankan kestabilan ekonominya? Simak kisahnya di sini.

Belajari dari redenominasi Turki?

Pada tahun 2001, Turki mengalami krisis hebat yang ditandai dengan nilai inflasi yang melambung tinggi. Turki bahkan memiliki nilai mata uang sebesar 20 juta Lira. Nominal mata uang yang terlalu banyak juga menyulitkan Turki dalam melakukan pencatatan keuangan negara. Turki harus mengambil kebijakan redenominasi. Hal ini juga dilakukan untuk bergabung dengan Uni Eropa yang nominal mata uangnya sederhana.

Pengumuman kebijakan redenominasi dilakukan pertama kali pada 31 Januari 2014 di media-media cetak yang dijadwalkan dijalankan pada 1 Januari 2015. Penyederhanaan mata uang ini dilakukan dalam dua tahap.

Pertama, Turki menerbitkan mata uang baru yang dibubuhkan kata ‘Yeni’ yang berarti baru. Mata Turki yang baru ini disebut Yeni Turkish Lira (YTL) yang dikeluarkan beserta uang lugamnya dengan satuan YKr. Satu YTL setara dengan 100 YKr. Sementara, mata uang lama Lira tetap berlaku.

Dengan cara seperti ini, transisi terjadi secara stabil. Mata uang lama ditarik perlahan-lahan pada masa transisi selama satu tahun. Masyarakat tidak perlu dilanda kepanikan untuk menukarkan mata uang lama ke mata uang baru. Pertukaran antara mata uang baru dengan mata uang lama terjadi secara alami di masyarakat. Nilai 1 YTL disamakan dengan nilai 1.000.000 Lira.

Pada tahap kedua, setelah seluruh mata uang lama ditarik dari peredaran, pemerintah Turki menghapuskan kata ‘Yeni’ dan mengembalikan nama mata uang kembali seperti semula menjadi Lira pada tanggal 1 Januari 2009.

Tidak ada gejolak yang terjadi pada masa redenominasi tersebut. Suku bunga bank stabil dan laju inflasi berhasil ditekan. Pada tahun 2008, inflasi di Turki mencapai 10,1%, lalu menurun ke angka di bawah 10% pada tahun 2009.

Inflasi di Turki memang tergolong parah. Pada tahun 1981, inflasi pernah menembus 100%. Oleh karena itu, pemerintah Turki secara teratur mencetak uang. YTL adalah uang yang dicetak untuk kedelapan kalinya sejak Turki menjadi negara republik pada 29 Oktober 1923.

Kebijakan redenominasi Turki banyak diragukan pada awalnya karena negeri ini baru saja keluar dari krisis ekonomi. Namun, Turki terbukti sukses karena mampu menjaga kestabilan harga, pertumbuhan ekonomi yang baik pada saat redenominasi dilakukan dan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah yang tinggi.

Saat ini, pecahan mata uang Turki yang baru adalah 1, 5, 10, 20, 50 dan 100 Lira. Sementara pecahan mata uang Lira berbentu logam terdiri dari 1, 5, 10, 20, 50 Kr dan 1 Lira.

Meskipun redenominasi telah sukses dilakukan, generasi tua di Turki masih terbiasa dengan mata uang yang lama. Seringkali masih ada saja yang mengatakan satu juta Lira untuk menyatakan harga, meskipun yang digunakan adalah uang satu Lira. Sedangkan, generasi muda lebih mudah menyesuaikan diri dan menerima pemberlakuan mata uang baru dengan lebih cepat.

Berkaca dari pengalaman Turki, redenominasi di Indonesia bisa dilakukan saat ini mengingat pertumbuhan ekonomi yang positif selalu berkisar di angka 6-7 persen pada setiap tahunnya. Namun, yang harus diwaspadai adalah pertumbuhan ekonomi tersebut ternyata lebih banyak bersumber dari penjualan sumber daya alam yang dikelola oleh perusahaan asing. Pertumbuhan ekonomi yang baik harus ditopang oleh daya beli masyarakat yang tinggi. Pemerintah perlu mencadangkan devisa yang cukup jika ingin sukses melakukan redenominasi.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang seputar redenominasi di Turki, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apakah Investasi Emas Bagus Saat Redenominasi?
Ada Apa dengan Krisis Ekonomi di Turki?
Investasi Apa yang Cocok Saat Rededominasi?
Apa Dampak Redenominasi pada Rupiah Nanti?
Kesuksesan Belarus dalam Redenominasi
Redenominasi Rupiah, Bagaimana Seharusnya Masyarakat Menyikapinya?
Perbedaan Utama Redenominasi, Sanering, dan Devaluasi
Perbedaan Uang, Mata Uang dan Dampaknya pada Redenominasi
Apa Beda Redenominasi dan Sanering?
Apa Redenominasi Itu? Apa Dampaknya?


Bagikan Ke Teman Anda