Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Siapa itu Helicopter Parents?

Sebagai orang tua, sudah sepatutnya bila kita selalu ingin melindungi, menemani, serta mengawasi anak dari berbagai hal yang mungkin saja membuatnya terluka. Kita biasa menjamin segala hal pada anak, mengarahkan apa yang boleh dan mencegah apa yang menurut kita tidak boleh. Sayangnya terkadang kita lupa perilaku kita sebagai orang tua yang selalu ingin mengawasi dan melindungi anak terkadang berlebihan dan justru dapat mengganggu tumbuh dan kembang anak itu sendiri.

Orang tua dengan perilaku “melindungi” anaknya secara berlebihan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Helicopter Parents. Meskipun istilahnya terdengar keren, namun ternyata dampak yang ditimbulkan oleh para helicopter parents ini tidak sekeren istilahnya. Pengasuhan anak dengan gaya helicopter parenting justru memiliki beberapa dampak negatif untuk anak-anak.

Apa itu Helicopter Parents?

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Helicopter Parents merupakan sebutan untuk para orang tua yang menerapkan pola seperti helicopter parenting dalam pola asuh anak-anak mereka. Helicopter Parenting adalah pola asuh dimana orang tua selalu ingin terlibat dalam kehidupan anak dan memiliki kecenderungan untuk overprotecting, overcontrolling, serta overperfecting.

Seorang psikolog dan penulis buku Even June Cleaver Would Forget the Juice Box, Ann Dunnewold, Ph.D, mencontohkan pola asuh helicopter parenting cendereng membatasi kebebasan dan kemandirian anak, sebab orang tua cenderung “tidak mengizinkan” anak untuk merasa terluka, marah, kecewa, atau mengalami kegagalan.

Perilaku helicopter parents biasanya mengharuskan anak untuk selalu bersama orang tuanya. Anak tidak boleh pergi terlalu jauh, orang tua memilihkan ekstrakulikuler dan les tambahan, bahkan orang tua juga memilihkan teman atau mainan untuk anak.

Helicopter parents biasanya berasumsi bahwa pilihan orang tua adalah pilihan yang terbaik untuk anak, tanpa meminta persetujuan atau pendapat anak tentang hal-hal yang akan dijalani atau dilakukan oleh sang anak.

Bila tidak segera dihentikan, pola asuh yang diterapkan para helicopter parents ini akan membuat anak menjadi kurang mandiri dan selalu bergantung pada orang tuanya. Padahal, semakin dewasa, anak seharusnya semakin mandiri dan mampu mengatasi tantangan-tantangannya sendiri.

Ciri-Ciri Helicopter Parenting

Pada tahun 2013, Bussiness Horizon menerbitkan sebuah studi penelitian yang menjelaskan bahwa ada 3 tipe orang tua yang merupakan seorang Helicopter Parents. Di antaranya adalah:

  • Orang tua Pengintai

Orang tua tipe pengintai biasanya terlibat secara diam-diam dalam perjalanan karir anaknya. Tipe orang tua pengintai adalah tipe paling umum dari helicopter parents. Perilaku orang tua tipe pengintai biasanya membantu anak mencari pekerjaan setelah lulus kuliah.

Mereka menawarkan diri untuk membantu mengumpulkan informasi tentang pekerjaan atau perusahaan tertentu, membuatkan CV, atau menghadiri jobfair demi sang anak. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak selalu menganggap bahwa orang tua mereka merupakan penasihat karir yang paling penting.

Banyak dari anak-anak muda tidak bisa segera menjawab tawaran pekerjaan yang diberikan kepadanya karena ingin berkonsultasi dengan orang tua terlebih dahulu. Bahkan setelah anaknya berhasil mendapatkan pekerjaan, orang tua tipe pengintai biasanya menawarkan bantuan tertentu dalam menyelesaikan tugas kantor, namun tidak pernah berhubungan langsung dengan atasan atau tempat bekerja anaknya.

  • Orang tua “Terbang Rendah”

Tipe orang tua yang satu ini selalu memiliki taktik untuk terlobat dalam kehidupan anak-anaknya. Berbeda dari tipe orang tua yang sebelumnya, tipe orang tua terbang rendah biasanya melakukan tindakan-tindakan langsung atas nama anak.

Misalnya, dalam sebuah jobfair, orang tua tidak hanya menghadiri jobfair tersebut, tetapi juga memperkenalkan diri kepada perusahaan tertentu dan menceritakan keunggulan anak mereka. Bahkan mereka tidak segan untuk menghubungi atasan atau perusahaan tertentu untuk meminta perusahaan tersebut menerima anak mereka bekerja di sana.

  1. Orang tua “Perang Gerilya”

Dari ketiga tipe helicopter parents, tipe perang gerilya merupakan tipe orang tua dengan keterlibatan yang agresif. Orang tua bertindak secara agresif dalam kehidupan anak-anaknya.

Misalnya, jika anak gagal dalam suatu tes, maka orang tua tidak segan-segan untuk menghubungi pihak-pihak tertentu untuk meminta mereka mengabaikan hasil tes anaknya tersebut. Bahkan, dalam kasus yang lebih ekstrim, di sebuah wawancara pekerjaan pada suatu perusahaan, orang tua kandidat ikut menjawab pertanyaan dari HRD.

Dampak Helicopter Parents

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang tua mengharapkan hal positif untuk anak-anaknya, meskipun terkadang dengan cara yang kurang benar. Seperti halnya helicopter parents ini. Perilaku orang tua yang selalu mengontrol anak atas nama “kebaikan” anak justru membawa dampak-dampak yang kurang baik untuk mereka. Dampak negatif dari perilaku helicopter parents di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Anak menjadi kurang percaya diri dan selalu dihantui dengan ketakutan membuat keputusan yang salah. Anak tidak terbiasa memutuskan sesuatu sendiri, sebab orang tua selalu menentukan segala sesuatu untuk sang anak.
  2. Anak menjadi kurang terampil. Anak yang terbiasa dibantu dalam tugas sekolah, dibereskan barang-barangnya, justru tidak mampu melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dia lakukan di usia dan tahapan perkembangannya.
  3. Anak tidak mampu menghadapi kegagalan karena terbiasa memiliki orang tua yang membereskan dan menyelesaikan masalahnya.
  4. Anak menjadi pembangkang. Di beberapa kasus, anak yang merasa tidak bebas melakukan hal-hal yang diinginkan atau disukainya cenderung menjadi anak yang pembangkang terhadap orang tuanya.
  5. Anak menjadi stress atau depresi. Anak dengan orang tua yang selalu mengatur segala sesuatu untuknya justru rawan merasa tertekan karena tidak memiliki hak untuk memilih apapun. Anak juga akan merasa terbebani dengan mencoba menjadi apa yang diinginkan oleh orang tuanya, sehingga berujung pada stress dan bahkan depresi.

Dari sini bisa kita pahami apa itu helicopter parents dan betapa bahayanya pola asun ini bagi anak-anak kita. Ingatlah, anak itu memiliki sudut pandang berbeda. Apa yang menurut anak penting berbeda dengan kita sebagai orang tua. Anak-anak akan tumbuh dewasa seiring dengan waktunya.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang siapa itu helicopter parents, semoga bermanfaat bagi Anda semua.

Today's Top Picks for Our Readers:
Recommended by Recommended by NetLine


Kiat-kiat Menyiapkan Anak Menjadi Seorang Kaya
Ajarkanlah Tip Keuangan Ini pada Anak Anda!
Skill Keuangan yang Harus Diajarkan Ke Anak
Ajarkan Anak Keterampilan Penting Ini, Keterampilan yang Tidak Diperoleh di Sekolah
Rahasia Anak Pemalas Bisa Menjadi Sukses
Nasehat Bijak tentang Keuangan dari Orang Tua
Cara Memotivasi Anak untuk Mendapatkan Nilai Baik Tanpa Imbalan Finansial
Cara Membesarkan Anak agar Memiliki Mental Entrepreneur
Jangan Beli Mainan Anak-anak Seperti Ini
Cara Mengajari Anak Menabung


Bagikan Ke Teman Anda