Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Inilah yang Terjadi Jika Perang Dunia Ke-3 Meletus

Perang Dunia I dan II menimbulkan banyak kerugian pada negara-negara yang terlibat. Tak hanya materi, tetapi juga ribuan bahkan jutaan nyawa melayang, bukan saja dari militer melainkan pula masyarakat sipil. Meski menimbulkan traumatik, namun pasca perang tersebut masing-masing bangsa dan negara berbenah menciptakan peradaban baru.

Kini ketakutan akan terjadinya Perang Dunia III mencuat sejak Rusia berkonflik dengan Ukraina. Keinginan Ukraina untuk bergabung menjadi anggota NATO (The North Atlantic Treaty Organization) memicu kemarahan Rusia, karena dianggap mengancam keamanan nasional negara Beruang Merah tersebut. Ukraina bergeming, sehingga Rusia memutuskan untuk melakukan operasi militer ke negara yang sebenarnya masih serumpun itu.

Serangan Rusia terhadap Ukraina bertujuan untuk melucuti senjata militer negara itu dan mencegah Ukraina memperoleh senjata nuklir dari negara ‘sekutunya’, terutama Amerika Serikat. Ketegangan semakin besar, ketika Vladimir Putin selaku presiden Rusia tidak mau menghentikan serangan dan bahkan tidak takut akan sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat dan Eropa. Inilah yang menimbulkan kekhawatiran akan meletusnya Perang Dunia III.

Jika berandai-andai konflik Rusia dengan Ukraina ini meletuskan Perang Dunia III, maka apa yang akan terjadi pada dunia dan peradabannya? Perang Dunia III mungkin dampaknya tidak akan ‘mematikan’ seperti perang dunia sebelumnya. Saat ini, peradaban dunia sudah semakin baik dan modern. Secara ekonomi pun, kondisinya sudah jauh berbeda. Pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan masyarakat global mengenal sosial media dan aset digital. Selain itu, ekonomi dunia semakin mengglobal dan terkoneksi satu sama lain. Mesti dampaknya tak ‘mematikan’, namun tetap saja membawa kerugian bagi ekonomi global.

  • Lonjakan harga berbagai komoditas

Perang dunia mendorong negara-negara yang terlibat lebih fokus pada strategi dan persenjataan, sehingga mengabaikan kegiatan ekonomi produktif. Hal ini akan mendorong terjadinya krisis sehingga memicu kenaikan harga berbagai komoditas di pasar global, seperti minyak dan gas, makanan dan pupuk, serta logam dan manufaktur.

Minyak dan gas merupakan sumber energi penting yang dibutuhkan oleh setiap negara. Namun tak semua negara dapat menghasilkan minyak dan gas karena tidak memiliki sumber daya alam tersebut. Alhasil, mereka harus mengimpor dari negara lain penghasil minyak dan gas.

Bicara tentang konflik Rusia dengan Ukraina membawa dampak pada lonjakan harga minyak dan gas, terutama di wilayah Eropa. Sebab, kebutuhan minyak wilayah Eropa dipasok dari Rusia sebesar 30% dan gas alam dipasok dari Ukraina sebesar 35%. Dengan terjadinya konflik antara kedua negara tersebut, jelas logistik sumber energi tersebut terganggu bahkan terputus.

Tak hanya minyak dan gas, operasi militer Rusia ke Ukraina juga mengakibatkan harga berbagai komoditas pangan melonjak tajam. Salah satunya adalah gandum. Tentu saja, sebab baik Rusia maupun Ukraina merupakan produsen gandum terbesar di dunia. Meski terdapat negara penghasil gandum lainnya, seperti Australia, India, China, namun konflik Rusia dengan Ukraina mengakibatkan berkurangnya pasokan gandum di pasar global.

Selain lonjakan harga komoditas pangan, konflik Rusia dengan Ukraina juga mengakibatkan kelangkaan pupuk. Rusia memasok amonia, kalium, urea, dan fosfat di pasar dunia yang banyak dibutuhkan oleh negara lainnya. Hilangnya produk Rusia ini tentu memicu kenaikan harga.

Logam dan manufaktur tak lepas dari komoditas yang ikut terdampak atas konflik yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. Berkenaan dengan logam, Rusia menguasai pangsa ekspor nikel sekitar 49%, paladium 42%, aluminium 26%, platinum 13%, baja 7%, dan tembaga 4%. Gangguan pasokan nikel dari Rusia dengan adanya konflik ini jelas terjadi. Akibat lebih lanjut, produk-produk yang berbahan baku nikel mengalami tekanan besar pada harga. Sebut saja peralatan dapur, ponsel, peralatan medis, transportasi, bangunan, listrik, elektroda, elektronik, mesin, dan lainnya.

  • Perang nuklir tak terhindarkan

Secara histori, peradaban manusia telah mengalami perkembangan yang signifikan hingga sampai pada kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun, peradaban dunia terancam hancur apabila perang dunia ketiga meletus. Bagaimana tidak? Industri persenjataan saat ini sudah semakin canggih seiring dengan kemajuan teknologi. Tak sedikit negara yang memiliki senjata nuklir yang siap digunakan sewaktu-waktu.

Perang nuklir bisa saja tak terhindarkan. Akibatnya, akan banyak memakan korban jiwa. Belum lagi, radiasi yang ditimbulkan oleh ledakan nuklir memicu berbagai penyakit menular, yang proses normalisasi radioaktifnya bisa jadi memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Korban perang lemah dan mudah terjangkit penyakit, karena minimnya kebersihan. Hal ini diperparah dengan kurangnya pasokan obat-obatan, keterbatasan tenaga medis dan juga bahan pangan.

  • Perang dunia maya

Andai perang dunia ketiga meletus, medan perang tidak hanya di dunia nyata saja, tetapi juga di dunia maya. Perang di dunia maya ini tentu saja melibatkan para hacker atau peretas andal dari berbagai negara. Jangan dianggap remeh, karena kerusakan yang ditimbulkan oleh perang di dunia maya ini tidak kalah parah dengan perang di dunia nyata. Sebab, peretas bisa saja melakukan beberapa hal berikut.

    • Mematikan sistem GPS nasional, perdagangan, dan perjalanan udara.
    • Mematikan jaringan listrik nasional.
    • Menghancurkan pasar dan menghapus informasi rekening bank.
    • Mengatur ledakan bom dari jarak jauh.

Salah satu contoh ‘perang di dunia maya’ pernah terjadi melalui penyebaran virus komputer yang bernama Stuxnet. Virus ini disebar oleh Amerika Serikat dan Israel yang ingin menghentikan proyek uranium Iran. Kedua negara tersebut bersekutu, namun tidak mau berperang secara terbuka dengan Iran, sehingga menciptakan virus komputer tersebut.

Pada mulanya virus Stuxnet disebar ke seluruh dunia dan menginfeksi jutaan komputer. Virus ini bekerja mendeteksi jenis komputer tertentu. Jika menyerang jenis komputer normal, maka virus ini pasif atau tidak melakukan apa-apa. Namun, ketika sang virus menemukan komputer Iran yang digunakan dalam fasilitas pengayaan uranium, maka ia akan merekam data fasilitas selama beroperasi. Setelah beberapa minggu, virus ini mulai mengubah rotasi sentrifugal dan merusak uranium. Stuxnet merupakan virus komputer yang mempengaruhi dunia nyata secara fisik dengan cara yang signifikan.

Militer pun akan menyukai perang di dunia maya. Tanpa perlu merusak bangunan fisik dengan menembakkan rudal, kehancuran ekonomi dan infrastruktur musuh bisa dilakukan dengan menyebarkan virus komputer. Dilihat dari sisi biaya, ini akan jauh lebih murah, efektif, dan sederhana dibandingkan dengan perang fisik. Melalui teknologi komputerisasi dan digital dengan jaringan internet, militer dapat menonaktifkan kapal induk, menembakkan rudal ke luar angkasa, atau merusak komunikasi nasional musuh dengan lebih mudah.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang perang dunia ke-3, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Dampak Invasi Rusia ke Ukraina pada Kondisi Perekonomian Dunia
Memahami tentang Gini Ratio
Apa Itu Staycation dan Mengapa Begitu Ngetrend
Apa Itu MoU dan Bedanya dengan Perjanjian Kerja Sama?
Biosolar B30 dan Pengaruh terhadap Harga Minyak
Apa Itu Crazy Rich?
Ternyata Ini Penyebab Harga Gandum Melonjak Tinggi
Memahami Tentang Studi Kelayakan Bisnis
Apa Itu Influencer? Keuntungan Hingga Alasan Dibutuhkan
Mengenal Apa Itu SID, Kegunaan Hingga Cara Mendapatkannya


Bagikan Ke Teman Anda