Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Mengapa Orang Pintar Gagal Mengembangkan Potensi Mereka?

Katanya orang yang pintar sudah pasti sukses hidupnya. Benarkah? Mengapa kenyataan berkata sebaliknya? Kini anda bisa menemukan banyak pengangguran yang ternyata orang pintar. Jika menurut anda kata pengangguran agak kasar, kita ganti dengan kata karyawan biasa.

Saat ini banyak sekali orang pintar yang hanya menjadi karyawan biasa. Padahal jika kemampuan yang dimiliki bisa dikembangkan, orang pintar tersebut bisa menjadi orang besar yang namanya dikenal dimana-mana. Nah sebenarnya apa alasan orang pintar gagal mengembangkan potensi mereka? Jika anda penasaran, simak penjelasan di bawah ini.

1. Ingin bahagia

Alasan pertama adalah karena orang pintar ingin bahagia. Masuk akal kah? Bukankah mengembangkan potensi bisa membuat seseorang meraih kebahagiaan? Ya, jawaban ini masih masuk akal karena pernah terjadi pada seseorang yang dahulu dijuluki anak ajaib yaitu Kim Ung Yong.

Kim Ung Yong merupakan salah satu anak jenius Korea Selatan yang dulu bisa mengerjakan kalkulus dan berbicara lima bahasa padahal umurnya belum ada lima tahun. Saat usia delapan tahun pun, Kim Ung Yong sudah mengerjakan matematika di NASA. Dia mendapat gelar Ph.D. saat usianya belum ada 15 tahun. Keren kan?

Namun ternyata semua itu bukan keinginannya sendiri. Inilah yang membuat Kim Ung Yong tidak merasa bahagia. Dia merasa seperti mesin yang mengerjakan sesuatu sesuai perintah, bukan dari keinginannya sendiri.

Karena itulah setelah meraih banyak penghargaan dan bekerja di NASA, Kim Ung Yong memutuskan untuk berhenti dan tidak lagi mengembangkan potensinya. Saat ini Kim Ung Yong menjadi profesor di suatu universitas. Di mata sebagian orang, menjadi profesor sudah termasuk mengagumkan.

Namun jika mengingat potensi yang dimilikinya, sebagian orang menganggap ia termasuk orang gagal. Dengan kejeniusannya, dia seharusnya bisa mengubah dunia dengan temuan-temuannya yang spektakuler. Dari cerita tersebut, kita bisa mengambil satu kesimpulan yaitu tidak semua orang pintar itu bahagia dengan apa yang dijalaninya.

Sebagian dari mereka memutuskan untuk tidak mengembangkan potensinya karena ingin hidup sederhana dan bahagia. Tidak ingin menjadi raja dunia. Jika alasannya berhubungan dengan kebahagiaan, apakah anda berhak menghakiminya?

2. Pendidikan yang Tidak Sesuai Umur

Alasan kedua orang pintar gagal mengembangkan potensinya mungkin karena pendidikan yang didapat tidak seperti anak pada umumnya. Banyak anak yang pintar dan jenius mengikuti jalur akselerasi karena mereka sudah terlalu pintar mengikuti materi pelajaran yang diajarkan.

Ada juga mengikuti jalur akselerasi karena keinginan orang tua agar anaknya tambah pintar, terkenal, atau lulus di usia muda. Padahal hal ini tergolong tidak baik. Anak sebaiknya melewati semua tahapan perkembangan sesuai usianya.

Anda bisa misalkan pada dua anak berumur tujuh tahun yang sama-sama pintar. Anak yang pertama harus belajar terus-menerus agar meraih peringkat pertama. Anak yang kedua, belajar secukupnya, bersosialisasi secukupnya, dan bermain secukupnya. Nah apa yang terjadi pada dua anak ini?

Anak pertama tentu akan mendapat peringkat pertama seperti yang ditargetkan. Anak kedua tidak, dia tidak belajar rutin jadi kemungkinan peringkatnya di bawah anak pertama. Namun anak kedua unggul di kemampuan bersosialisasi nya. Anak kedua juga cukup bersenang-senang di masa kecil.

Dari permisalan tersebut, menurut anda anak mana yang nanti bisa mengembangkan potensinya? Jawabannya tentu anak kedua. Melihat dari banyaknya cerita perjalanan hidup, saat dewasa anak pertama berpeluang besar untuk memberontak karena dia menjalani hidup yang penuh kekangan dan paksaan.

Untuk anak kedua, kemungkinan memberontaknya sangat kecil karena sedari dulu dia bisa menentukan pilihannya sendiri dan mendapatkan cukup kebebasan. Namun semuanya tetap tergantung pada sifat kedua anak dan perhatian orang di sekitarnya, jadi tidak hanya terpaku pada pendidikan yang didapatkan saat masih kecil.

3. Sifat Orang yang Berbeda

Sedikit disinggung di atas bahwa sifat itu mempengaruhi pengembangan bakat seseorang. Hal ini sangat benar. Dua orang yang sama-sama jenius tidak akan sama tingkat pengembangan potensinya jika yang satu pemalas dan yang satu gigih.

Ada pula orang yang cuek dengan keadaan sekitar dan ada yang terlalu peduli. Orang pintar yang peduli pasti akan mencoba membuat inovasi untuk membantu lingkungan atau warga sekitar. Sedangkan yang cuek tidak sama sekali.

Namun jangan serta merta menyalahkan mereka yang pemalas dan yang cuek karena pada dasarnya itu adalah sifat bawaan. Memang bisa diperbaiki menjadi lebih baik, tapi lama-kelamaan akan kembali lagi ke sifat aslinya.

Bukan berarti menganggap orang pemalas tidak akan bisa rajin. Orang yang malas bisa rajin jika dia membiasakannya, tapi tingkat rajinnya tentu berbeda dengan mereka yang sudah bawaan rajin sedari kecil.

Sifat yang berbeda ini tidak hanya terbatas pada rajin dan gigih. Masih banyak sifat lain yang bisa memicu pengembangan potensi seseorang. Jadi jangan mengkritik orang sembarangan karena kita tidak tahu bagaimana sifatnya dan kehidupan seperti apa yang pernah dijalaninya.

4. Harapan yang Terlalu Tinggi

Saat anda berharap tinggi pada kesuksesan anak pintar, ada dua hal yang kemungkinan bisa terjadi. Hal pertama anak tersebut akan semangat dan termotivasi. Hal kedua adalah anak merasa tertekan dengan harapan anda dan akhirnya memberontak.

Agar tidak terjadi hal kedua tersebut, anda harus menganggap orang pintar sebagai manusia biasa, bukan dewa yang bisa segalanya. Jadi saat mereka pernah gagal, yang harus dilakukan adalah menghibur dan memberikan masukan positif. Bukan malah memarahi dan mengharuskan dia memenuhi target.

5. Perhatian dari Orang Sekitar

Seseorang yang cuek sekalipun butuh perhatian. Jadi jika anda punya anak atau adik pintar yang masih kecil, pastikan anda perhatikan mereka. Jangan sampai mereka menyalahgunakan kepintaran yang dimiliki. Karena sebelumnya pernah ada anak jenius yang berakhir menjadi teroris.

Sangat tragis bukan? Kepintaran yang seharusnya digunakan untuk membantu orang lain, malah berakhir menjadi ancaman. Karena itulah perhatian dari seseorang, khususnya keluarga itu sangat diperlukan.

Demikian tadi sedikit jawaban dari pertanyaan mengapa orang pintar gagal mengembangkan potensi mereka. Melihat dari jawaban di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa perhatian dan pendidikan yang diberikan pada anak pintar saat kecil itu sangat berpengaruh pada pengembangan potensinya saat sudah dewasa. Pendidikan yang dimaksud tidak hanya pendidikan akademik, tapi juga pendidikan karakter.

Jadi jika memiliki anak pintar, pastikan anda mendidiknya dengan baik dan tidak mengekangnya agar kelak dia bisa mengembangkan potensi dengan maksimal serta menjadi anak yang sukses. Sekian, semoga ulasan ini bermanfaat.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang alasan mengapa orang pintar gagal mengembangkan potensi mereka, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



5 Alasan Mengapa Bisnis Baru Sering Gagal
Negara yang Gagal Rededominasi
Mengapa Kamu Gagal Mengelola Uang?
Adakah Negara yang Gagal Membayar Utang Negara? Ini Dia Daftarnya!
Tipe Orang yang Akan Gagal Mengelola Uang
Faktor Apa yang Menyebabkan UMKM Gagal?
Mengapa Banyak UMKM yang Gagal?
Ide-ide Startup yang Sering Gagal
Apa itu Bank Gagal Berdampak Non-Sistemik?
Inilah Hal-hal yang Menyebabkan Bisnis Gagal dalam 5 Tahun


Bagikan Ke Teman Anda