Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Mengenal Empty Nest Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Tak bisa dipungkiri bahwa peran dan tanggung jawab orang tua dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya sangatlah penting. Kerepotan dan kelelahan mengurus anak-anak ketika kecil, akan begitu dirindukan orang tua saat anak-anak mulai menginjak dewasa. Bagaimana tidak? Di saat anak-anak telah tumbuh dewasa, waktu kebersamaan dengan orang tuanya akan berkurang. Anak-anak tak lagi punya waktu untuk berkumpul dengan orang tuanya, bahkan hanya sekadar untuk sarapan bersama. Anak-anak telah memiliki dunianya sendiri, sibuk dengan sekolah, pekerjaan, dan urusannya masing-masing. Apalagi ketika anak-anak telah menikah, dan tak lagi tinggal bersama orang tuanya. Pada tahap ini, orang tua sering kali mengalami empty nest syndrome.

Apa itu empty nest syndrome?

Empty nest syndrome atau sindrom sarang kosong yaitu suatu kondisi emosional yang dialami oleh orang tua ketika anak-anak mereka meninggalkan rumah untuk menjalani kehidupan dan dunianya sendiri.

Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh dewasa dan menjalani kehidupan yang mandiri. Namun, proses melepaskan anak-anak jauh dari perhatian dan jangkauan mereka sering kali dirasakan begitu sulit dan pahit secara emosional. Orang tua mungkin akan merasa kesepian dan sedih ketika anak-anaknya meninggalkan rumah (sarang), entah itu untuk hidup sendiri, belajar atau memulai karir di kota lain, atau mengejar hubungan mereka sendiri. Biasanya ibu (perempuan) lebih menderita daripada ayah (laki-laki), dan perasaan sedih tersebut bisa jadi lebih terasa pada orang tua yang memiliki hubungan yang begitu erat dengan anak-anaknya, dalam arti orang tua yang memenuhi segala kebutuhan sehari-hari dari anak-anaknya.

Secara klinis, empty nest syndrome yang dialami oleh banyak orang tua ketika anak-anaknya telah beranjak dewasa bukanlah suatu kelainan mental, atau penyakit psikologi klinis. Kondisi ini mencerminkan ambivalensi emosional dari masa transisi kehidupan normal. Sebenarnya, sindrom ini bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan. Sebab, apabila orang tua mampu mengolah emosi dengan lebih baik dan menyadari bahwa suatu saat anak-anak memang harus pergi untuk mengejar mimpi atau menjalani kehidupannya sendiri, orang tua bisa saja tetap terlibat dengan membangun hubungan yang lebih dewasa dengan anak-anak mereka.

Gejala empty nest syndrome

Meski bukan penyakit mental yang berbahaya, namun empty nest syndrome sering kali ditekankan pada aspek emosional negatif, di mana orang tua mengalami perasaan kehilangan, kesedihan, kecemasan, dan bahkan ketakutan. Berikut tanda-tanda paling umum yang muncul ketika orang tua mengalami empty nest syndrome.

  • Kehilangan tujuan

Sebagai orang tua, hari-hari Anda dulu disibukkan dengan mengantar dan menjemput anak di sekolah, tempat les, teman bermain, pertemuan orang tua di sekolah, pesta ulang tahun, dan lain-lain. Hari-hari Anda diisi dengan hiruk-pikuk mengurus dan membesarkan anak. Kini, terlepas dari teman, keluarga, pekerjaan, dan aktivitas lainnya, hari-hari Anda mungkin masih terasa sedikit kosong.

Melepaskan tugas aktif sehari-hari mengasuh anak bisa menjadi transisi yang sulit dilakukan, terutama jika orang tua mendedikasikan dirinya dalam semua peran mengasuh anak saat tinggal di rumah. Ketika aktvitas itu telah berkurang bahkan tidak ada sama sekali karena anak-anak sudah meninggalkan rumah, maka rasa kehilangan tujuan akan muncul.

Namun setelah masa transisi dan periode penyesuaian selesai, orang tua dapat menemukan tujuan baru dalam hidupnya. Tujuan baru ini dapat ditemukan apabila orang tua menggunakan waktunya untuk melakukan hobi baru atau mengatasi tantangan baru.

  • Tekanan emosional

Banyak orang tua yang menangis ketika menyadari mereka tidak lagi bisa menyambut anak-anak yang pulang dari sekolah atau bermain. Hal tersebut sebenarnya normal. Namun sering kali situasi atau kondisi tertentu justru memicu emosional sehingga menjadi masalah yang lebih besar. Kesendirian dan kesepian bagi kebanyakan orang tua merupakan tekanan emosional yang sulit untuk dihindari. Tekanan emosi tersebut memicu rasa sedih mengapa anak-anak begitu cepat dewasa, marah pada diri sendiri karena dulu tidak banyak meluangkan waktu untuk anak-anak terutama bagi orang tua yang bekerja, ketakutan akan usia yang semakin menua, dan frustrasi karena tidak berada di tempat yang dibayangkan saat berada pada fase tersebut.

  • Kecemasan tentang anak

Wajar jika orang tua mencemaskan kondisi anak-anaknya. Namun orang tua yang mengalami empty nest syndrome sering kali memiliki kecemasan yang berlebihan terhadap anak-anaknya. Mereka khawatir apakah anaknya baik-baik saja di luar sana, apakah anaknya makan dengan teratur, apa yang mereka makan, bagaimana jika ada orang yang berniat jahat pada mereka, dan lain sebagainya.

Sebenarnya kecemasan tersebut tidak perlu muncul apabila orang tua mampu menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya. Mereka bisa menelepon atau mengirim pesan teks, memeriksa akun media sosial untuk mengetahui bahwa anak-anak dalam keadaan baik-baik saja dan menjalani kehidupan secara normal meski jauh dari orang tua.

Penyebab empty nest syndrome

Empty nest syndrome tidak akan terjadi apabila orang tua memiliki kesadaran dan kesiapan sejak awal bahwa anak-anak akan memiliki kehidupannya sendiri dan suatu saat akan meninggalkan rumah untuk menjalani kehidupannya tersebut. Jadi, wajar bagi anak-anak untuk meninggalkan rumah orang tua, ketika mereka telah mencapai tahap perkembangan tertentu.

Jika orang tua selama proses mengasu dan membesarkan anak-anaknya telah membangun ikatan yang stabil dan hubungan yang sehat dengan anak-anak mereka, maka empty nest syndrome bukanlah suatu hal yang menakutkan. Meski tidak lagi tinggal bersama, toh orang tua tetap bisa memantau kondisi anak-anak mereka melalui komunikasi yang intens.

Sebaliknya, empty nest syndrome akan dirasakan begitu menyiksa apabila orang tua memiliki hubungan yang buruk dengan anak-anaknya, selalu berkonflik, dan bermusuhan. Inilah sebenarnya penyebab dari empty nest syndrome. Baik orang tua maupun anak akan mengalami gejolak emosional setelah anak meninggalkan rumah. Hubungan buruk tersebut menimbulkan konsekuensi buruk secara berkelanjutan. Anak tidak akan peduli dengan orang tuanya, karena mereka menganggap orang tuanya tidak menyayanginya. Sementara orang tua juga akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan anak, karena tidak memiliki akses kepada anak-anaknya.

Cara mengatasi empty nest syndrome

Kehidupan setiap manusia melalui siklus kedewasaan, di mana seseorang dapat memperbarui identitasnya seiring dengan perkembangannya. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa tentu akan diikuti dengan perkembangan fisik dan kemampuan berpikir, bersikap, serta mengambil keputusan yang semakin baik.

Anak-anak tumbuh dan beranjak dewasa tentu merupakan hal yang normal. Mereka melalui masa perkembangan yang seharusnya bisa diterima oleh setiap orang tua. Namun, ketika orang tua mengalami empty nest syndrome, di mana selalu merasakan kesedihan dalam kesendirian tanpa keributan dan keonaran yang sering diperbuat oleh anak-anak dulu, maka orang tua butuh bantuan.

Terapi dengan praktisi perawatan kesehatan berlisensi mungkin bisa menjadi pilihan untuk mengurangi bahkan mengusir kesepian, depresi, atau kesedihan yang dirasakan orang tua. Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan adalah tentu saja dengan mencari kesibukan, misalnya dengan ikut terlibat aktif dalam kegiatan sosial, mengikuti kelas kebugaran, hadir dalam kajian keagamaan, atau bahkan travelling.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang empty nest syndrome, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Rumus Pendapatan Per Kapita, dari Pengertian Hingga Cara Menghitungnya
Mengenal Apa Itu One Stop Shopping
Mengenal Apa Itu Ground Staff Bandara, Tugas dan Gajinya
Bagaimana Caranya Membuat Brand Kecil yang Mudah Diingat?
Mengenal Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
15 Cara Jadi Miliarder Sukses di Usia Muda
Cara Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang
Apakah Penyebab Resesi?
Cara Mengajari Anak Mengatur Uang
Cara Membuat Anggaran Keuangan Untuk Keluarga


Bagikan Ke Teman Anda