Pidato Farewell dari Tempat Kerja, Bagaimana Cara Membuatnya Berkesan?

Bayangkan sekarang adalah hari terakhirmu bekerja. Kolega dan atasanmu sudah berkumpul di ruangan meeting atau di ruangan departemen sambil membawa beberapa hadiah atau kenang-kenangan perpisahan. Mereka bahkan menyiapkan cake dan makanan lainnya.

Di saat seperti ini, mereka menantikan kata-kata perpisahan darimu. Tentu saja kita tidak bisa sekadar berkata “Oke, sampai ketemu!” atau “Makasih, ya!” di saat seperti ini. Supaya meninggalkan kesan yang baik di hari terakhir bekerja, kamu bisa menyiapkan pidato perpisahan yang berkesan. Bagaimana caranya? Coba deh ikuti beberapa langkah membuat pidato farewell dari tempat kerja berikut ini.

Di hari terakhir kerja, mungkin saja kolegamu membuat acara besar-besaran atau acara di departemen sendiri saja. Meski hanya bekerja di kantor kecil dan melakukan acara perpisahan dengan 5 orang, misalnya, tetap saja di saat seperti ini biasanya kamu harus mengucapkan sepatah dua patah kata perpisahan.

Suka atau tidak, kamu harus menyiapkan pidato perpisahan. Bisa saja bukan pidato yang resmi, kok. Ini sebenarnya sangat tergantung dari kondisi kantornya. Pidato perpisahan bisa resmi bisa kasual. Yang jelas, persiapkan pidato ini agar di hari H kamu tak kebingungan dan terbata-bata. Bisa-bisa kamu meninggalkan kesan yang kurang baik lho di hari terakhir kerja.

Kalau kolega dan atasanmu sampai membuat acara khusus di hari terakhirmu bekerja, berarti mereka memiliki kenangan bersamamu. Coba ceritakan pengalaman kerja menarik yang pernah kamu rasakan. Misalnya betapa susahnya sekaligus menyenangkan di saat harus lembur ramai-ramai ketika ada proyek tertentu. Atau kejadian lucu bersama tim saat harus menghadapi klien yang agak menyulitkan.

Pengalaman kerja bersama kolega yang dulunya terasa menyulitkan ini, bisa jadi pembuka pidato perpisahan yang baik. Ini menandakan kamu mengingat banyak kenangan bersama kolega dan akan menjadikannya sebagai pengalaman berharga untuk bekerja di tempat yang baru atau aktivitas apa pun yang akan kamu lanjutkan setelah keluar dari kantor.

Ini bisa dihubungkan dengan anekdot pengalaman kerja bersama kolega di atas. Tunjukkan bahwa kalau kamu bekerja sendiri, berbagai pekerjaan sulit itu tidak akan selesai dengan baik. Katakan bahwa kamu sangat menghargai setiap bantuan yang diberikan kolega dan atasanmu. Dengan dukungan mereka, pekerjaanmu jadi lebih baik.

Untuk atasan yang telah banyak menginspirasi dan memberikan berbagai nasehat, tunjukkanlah rasa terima kasih. Katakan bahwa keahlianmu jadi bertambah karena ilmu yang mereka ajarkan. Dari nasehat mereka, kamu bisa berkembang sebagai pribadi dan karyawan. Dengan begitu, kolega dan atasan akan merasa senang dan bangga.

Saat menyampaikan rasa berterima kasih, pastikan kamu menyampaikannya dengan tulus. Ekspresikan perasaan terima kasih dengan tulus dan tidak berlebihan. Kalau berlebihan, ini bisa jadi malah membuat pidatomu jadi terlihat dibuat-buat.

Berbagai pengalaman yang kamu tuliskan dan perasaan yang kamu sampaikan di pidato juga harus orisinal. Benar-benar merupakan cerita yang kamu alami dan benar-benar merupakan perasaan yang kamu rasakan di saat itu. Pidato yang orisinal akan terdengar lebih menarik. Kolega dan atasan akan lebih memperhatikan dibandingkan dengan pidato farewell yang mencontoh milik orang lain.

Meskipun pengalaman kerja di kantor yang akan kita tinggalkan itu super seru dan banyak yang ingin kita sampaikan saat pidato farewell, tapi pastikan pidatomu nggak terlalu panjang. Pidato yang kepanjangan bisa bikin kolega yang mendengarkan jadi bosan dan kehilangan fokus. Malahan bisa jadi maksud pidatomu jadi tidak tersampaikan dengan baik.

Jadi buatlah pidato farewell yang menarik dan panjangnya pas. Tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Kalau ada hal-hal yang kamu sampaikan kepada beberapa orang tertentu dan cukup panjang, kamu bisa sampaikan secara pribadi. Dengan begitu, kolega atau atasan yang kamu sampaikan pesan pribadi ini pun akan lebih menghargai ucapan perpisahanmu.

Kalau kamu tipe pembicara yang baik, pidato perpisahan mungkin bisa dibuat secara spontan. Tinggal buat draft di kepala dan mudah saja mengembangkannya sendiri saat waktu pidato tiba. Masalahnya, tak semua orang adalah pembicara yang baik di depan umum kan? Karena itu, membuat draft secara tertulis penting juga, lho.

Coba buat poin-poin apa saja yang akan kamu sampaikan. Buat pembukaan, inti pidato, ucapan rasa terima kasih, dan penutupan. Kalau kamu ingin pidato benar-benar sempurna, boleh juga kamu tuliskan dengan lengkap. Di hari H, pidato tidak harus sama persis dengan teks yang sudah dibuat. Tapi setidaknya teks ini bisa jadi panduan supaya tak ada yang terlewat.

Bila masih ragu dengan kualitas pidatomu, kamu bisa minta bantuan kolega di tempat kerja yang paling kamu percaya. Apalagi kalau kamu bekerja di kantor yang ada acara khusus yang cukup besar untuk farewell karyawan. Bantuan dari kolega jadi sangat penting. Perlihatkan teks pidato yang sudah kamu buat pada kolegamu.

Tanyakan padanya apakah pidatonya sudah pantas dan berkesan? Adakah kata-kata atau kalimat yang menyinggung? Adakah elemen yang kurang? Minta pendapat dan masukan dan terima dengan terbuka agar pidatomu jadi lebih baik.

Setelah kolegamu membaca teks pidato, mungkin saja ada beberapa masukan darinya. Coba perhatikan lagi pidatomu dan pertimbangkan masukan kolegamu. Siapa tahu dari situ kamu bisa memperbaiki pidato farewell jadi lebih baik.

Biasanya setelah mendapat masukan dan setelah lewat beberapa waktu dari pertama kali menulis teks, kamu jadi bisa menemukan cela di teks pidato pertama. Nah, ini saatnya mengedit pidato farewell jadi lebih baik dan sempurna di hari terakhirmu bekerja. Semoga sukses!

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang pidato farewell dari tempat kerja, semoga bermanfaat bagi Anda semua.