Strategi "Buy and Hold" Emas: Bukan Sekadar Simpan di Lemari
Banyak orang mengira investasi emas hanyalah soal membeli saat punya uang dan menjualnya saat butuh. Padahal, jika kita melihat dinamika pasar logam mulia Antam di Indonesia, ada beberapa variabel teknis yang menentukan apakah Anda benar-benar untung atau justru "boncos" termakan inflasi dan biaya admin.
Memahami Spread (Selisih Harga)
Salah satu musuh utama investor pemula adalah Spread. Spread adalah selisih antara harga beli dan harga buyback. Biasanya, spread emas Antam berkisar antara 7% hingga 11%. Artinya, begitu Anda keluar dari butik emas, aset Anda secara teknis langsung "minus" sebesar nilai spread tersebut. Inilah alasan mengapa emas dikategorikan sebagai instrumen jangka menengah dan panjang (minimal 2-5 tahun).
Faktor Pajak dan Regulasi
Berdasarkan PMK No. 34/PMK.10/2017, setiap transaksi buyback emas dengan nilai di atas Rp 10 juta akan dikenakan PPh 22. Jika Anda memiliki NPWP, potongannya adalah 0,45%, sedangkan tanpa NPWP dikenakan 0,9%. Angka ini terlihat kecil, namun untuk nominal besar, ia akan sangat mempengaruhi angka Net Profit yang akan Anda terima di rekening.
Kapan Waktu Terbaik Menjual?
Pantau selalu kurs Dollar AS dan harga emas global. Emas biasanya berperan sebagai safe haven. Saat kondisi ekonomi dunia tidak pasti atau inflasi melonjak, harga emas cenderung meroket. Namun, jangan reaktif terhadap fluktuasi harian. Fokuslah pada tujuan finansial awal Anda, apakah untuk dana pendidikan, naik haji, atau dana pensiun.