Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, rumah, hingga generator nama usaha.

🪙 Kalkulator Dana Darurat & Kebutuhan Hidup

Rencanakan keuangan Anda dengan tepat untuk masa depan yang lebih baik

1

Data Pribadi & Pengeluaran

Usia saat ini dalam tahun
Termasuk diri sendiri, pasangan, dan anak
Total pengeluaran rutin per bulan (makan, transport, tagihan, dll)
Pengeluaran tahunan seperti asuransi, pajak, liburan, dll
2

Data Dana Darurat

Karyawan tetap: 3-6 bulan. Wiraswasta: 6-12 bulan
Asuransi dapat mengurangi kebutuhan dana darurat

💡 Tips: Dana darurat sebaiknya disimpan dalam instrumen likuid seperti tabungan atau deposito yang mudah dicairkan.

3

Data Kebutuhan Hidup (Pensiun)

Rata-rata harapan hidup di Indonesia sekitar 70-75 tahun
% dari pengeluaran saat masih aktif bekerja (biasanya 70-80%)
Rata-rata inflasi tahunan di Indonesia 3-5%
Return investasi rata-rata per tahun (setelah inflasi)

📊 Hasil Perhitungan

📋 Ringkasan Data Input

Usia Saat Ini: 30 tahun
Pengeluaran Bulanan: Rp 10.000.000
Status Pekerjaan: Karyawan Tetap
Jumlah Tanggungan: 2 orang

💼 Dana Darurat yang Dibutuhkan

Rp 0

Langkah Perhitungan:

1. Total Pengeluaran Bulanan
Rp 0
2. Bulan Dana Darurat yang Direkomendasikan
0 bulan
3. Dana Darurat yang Dibutuhkan
Rp 0
4. Dana Darurat yang Sudah Tersedia
Rp 0
5. Kekurangan Dana Darurat
Rp 0

📌 Dana darurat ini sebaiknya disimpan dalam bentuk likuid (tabungan/deposito) yang mudah dicairkan saat diperlukan.

👴 Kebutuhan Dana Pensiun

Rp 0

Langkah Perhitungan:

1. Sisa Tahun Menuju Pensiun
0 tahun
2. Lama Tahun Pensiun
0 tahun
3. Pengeluaran Bulanan Saat Pensiun (nilai sekarang)
Rp 0
4. Pengeluaran Tahunan Saat Pensiun (disesuaikan inflasi)
Rp 0
5. Total Kebutuhan Dana Pensiun
Rp 0
6. Nilai Masa Depan Dana yang Sudah Tersedia
Rp 0
7. Kekurangan Dana Pensiun
Rp 0
8. Tabungan Bulanan yang Diperlukan
Rp 0

📌 Mulailah berinvestasi secara rutin untuk memenuhi kebutuhan pensiun. Investasi jangka panjang seperti reksadana saham atau obligasi dapat memberikan return yang lebih baik.

📚 Panduan Perencanaan Keuangan

Mengapa Dana Darurat Sangat Penting?

Dana darurat adalah fondasi keuangan pribadi yang sering diabaikan banyak orang. Fungsi utamanya adalah sebagai penyangga keuangan saat terjadi situasi tak terduga seperti PHK, sakit keras, atau kebutuhan mendesak lainnya.

Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hanya 30% penduduk Indonesia yang memiliki dana darurat memadai. Padahal, tanpa dana darurat, seseorang bisa terpaksa berutang dengan bunga tinggi saat menghadapi keadaan darurat.

Idealnya, dana darurat disimpan dalam rekening terpisah dari rekening sehari-hari. Bentuknya harus likuid, artinya mudah dicairkan kapan saja. Tabungan atau deposito dengan fitur pencairan cepat adalah pilihan tepat.

Strategi Membangun Dana Pensiun yang Cukup

Mulai merencanakan pensiun sejak dini adalah kunci keberhasilan. Efek compounding (bunga berbunga) akan bekerja maksimal jika kita memulai lebih awal. Memulai investasi pensiun di usia 25 tahun membutuhkan setoran bulanan yang jauh lebih kecil dibandingkan mulai di usia 40 tahun untuk target yang sama.

Diversifikasi portofolio investasi sangat penting untuk pensiun. Alokasikan dana ke berbagai instrumen seperti reksadana, saham blue chip, obligasi, dan emas. Seiring bertambahnya usia, alokasi ke instrumen risiko tinggi sebaiknya dikurangi.

Jangan lupa mempertimbangkan faktor inflasi dalam perhitungan. Uang Rp 10 juta hari ini tidak akan memiliki daya beli yang sama 20 tahun mendatang. Itulah mengapa return investasi harus lebih tinggi dari tingkat inflasi.

Kesalahan Umum dalam Perencanaan Keuangan

Banyak orang menunda-nunda membuat dana darurat dengan alasan penghasilan belum cukup. Padahal, mulai dari jumlah kecil secara konsisten lebih baik daripada tidak sama sekali. Sisihkan 5-10% dari penghasilan bulanan untuk dana darurat sampai target tercapai.

Kesalahan lain adalah mengandalkan hanya satu sumber pendapatan. Di era ekonomi yang tidak menentu, memiliki multiple income streams (sumber pendapatan beragam) menjadi semakin penting. Bisa dari investasi, usaha sampingan, atau keahlian khusus yang dapat menghasilkan.

Terakhir, banyak yang lupa memproteksi diri dengan asuransi. Asuransi kesehatan dan jiwa yang tepat dapat melindungi keuangan keluarga dari risiko bencana medis atau kehilangan pencari nafkah utama.