Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Affluent Millennials?

Teknologi yang berkembang saat ini memudahkan orang untuk saling berinteraksi. Tak hanya sekadar berkomunikasi, bahkan teknologi pun memungkinkan setiap orang untuk berkreasi dan menghasilkan pundi-pundi uang. Tak heran jika saat ini banyak kaum milenial yang telah mencapai kesuksesan dengan nilai kekayaan yang fantastis.

Suatu fenomena yang cukup mengejutkan. Menjadi sukses dan kaya tak lagi didominasi oleh kaum tua yang notabene telah banyak makan asam garam. Sebab kini kaum milenial yang sering kali diidentikkan dengan hura-hura justru mampu meraih sukses dan menjadi kaya bahkan melebihi generasi sebelumnya. Fenomena kaum muda yang bergelimang harta ini dikenal dengan istilah affluent millennials.

Mengenal Affluent Millennials

Affluent millennials secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai kaum muda yang makmur. Kaum milenial sendiri sering disebut sebagai Generasi Y, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1981 hingga 1997. Jika Anda lahir dalam rentang tahun tersebut dan memiliki aset sedikitnya Rp 1 miliar, maka Anda adalah affluent millennial.

Dalam industri bisnis yang berkembang saat ini, generasi milenial menjadi salah satu generasi yang paling banyak dibicarakan. Kaum milenial menjadi salah satu segmen bisnis terbesar dan paling cepat berkembang dari basis konsumen mewah saat ini. Tak heran apabila banyak bisnis yang membidik segmen kaum milenial menjadi konsumen potensial untuk produk-produk mewah.

Mengapa banyak milenial yang mampu mencapai sukses dan menjadi kaya seolah begitu mudahnya? Generasi milenial lahir dan tumbuh di era internet dan teknologi seluler. Sebab itu, generasi ini disebut sebagai penduduk asli digital pertama. Kaum milenial dinilai paling beragam dan berpendidikan yang tumbuh dewasa di saat kemakmuran sekaligus ketidakpastian ekonomi.

Tantangan dan ancaman dari affluent millennials

Tak dipungkiri bahwa kaum milenial yang makmur secara finansial memberikan tantangan sekaligus ancaman bagi bisnis dan jasa keuangan. Berikut tantangannya.

  • Lebih senang melakukan transaksi sendiri

Generasi Y sebagai generasi milenial memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya yakni Generasi X dalam masalah kontrol keuangan. Jika pada generasi sebelumnya, transaksi keuangan lebih dipercayakan atau didelegasikan kepada orang lain, maka tidak dengan generasi milenial. Kaum milenial ini umumnya wirausaha, sehingga mereka ingin membuat keputusan dan mengelola serta melakukan transaksi keuangannya sendiri. Perbedaan karakter ini menjadikan tantangan bagi bisnis dan jasa keuangan.

Secara konvensional, bisnis dan jasa keuangan menyediakan tenaga ahli yang bekerja dengan konsumen dan melakukan transaksi keuangan atas nama mereka. Namun, model layanan ini tak lagi sesuai dengan kaum milenial. Generasi milenial makmur ini justru menginginkan konsultan keuangan yang siap membimbing mereka, namun keputusan akhir dan eksekusinya berada di tangan mereka.

  • Lebih berminat dengan layanan online daripada instansi dalam mencari solusi

Sebagai ‘penduduk asli dunia digital’, generasi milenial cenderung lebih berminat terhadap layanan online dibandingkan dengan instansi konvensional dalam mencari solusi keuangannya. Mereka lebih percaya informasi dari media sosial dan menjadikannya sebagai referensi dalam pencarian solusi keuangannya, termasuk grup online, komunitas, aplikasi, dan platform.

Lembaga keuangan seperti perbankan yang dipercaya sebagai pondasi keuangan yang kokoh oleh generasi sebelumnya, tidak dinilai sama oleh generasi milenial. Bagi generasi milenial makmur, produk dan layanan yang mampu memberikan solusi secara mandirilah yang mereka inginkan. Kaum milenial makmur ini berpandangan bahwa informasi dan transaksi keuangan akan terbangun secara eksklusif online melalui jejaring sosial.

  • Lebih terbuka dan loyal

Affluent millennials sebagai generasi muda dengan aset ‘gendut’ memiliki karakter yang lebih terbuka untuk mencoba produk dan layanan di luar industri keuangan. Mereka tidak bisa ‘berpegang teguh’ pada merek-merek jasa keuangan tradisional, tetapi selalu tertarik untuk mencoba yang baru. Jika merek produk dan layanan baru tersebut sesuai dengan yang mereka butuhkan, maka mereka tidak akan segan untuk menjadi pelanggan loyal. Hal ini menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi bisnis dan jasa keuangan. Jika tidak mampu menggaet segmen affluent millennials ini, maka mereka terancam kehilangan pelanggan secara massal.


Sikap affluent millennials terhadap investasi

Investasi menjadi salah satu langkah untuk mencapai kemandirian finansial di masa depan. Benar saja jika banyak yang tertarik menginvestasikan uangnya untuk meningkatkan kekayaannya, terutama bagi mereka yang termasuk dalam Generasi X, namun tidak bagi Generasi Y atau kaum milenial. Hal ini disebabkan adanya perbedaan cara pandang kaum milenial makmur dengan generasi sebelumnya. Akibatnya sikap yang ditunjukkan terhadap cara mengelola keuangannya pun berbeda, termasuk dalam investasi.

Investasi saham memang memiliki risiko tinggi. Meskipun demikian, investasi inipun terbukti mampu memberikan tingkat pengembalian yang tinggi pula. Namun, bukti tersebut tak cukup menarik minat kaum milenial makmur untuk ikut terlibat di dalamnya. Alasannya cukup klasik. Selain tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang investasi saham, mereka juga takut kehilangan uangnya, sehingga beranggapan investasi saham terlalu berisiko bagi mereka.

Ketidakpastian ekonomi juga mempengaruhi kaum milenial kaya dalam menyikapi investasi. Sebagai generasi yang berpendidikan dan mandiri, mereka menginginkan kebebasan dalam mengelola keuangannya sendiri. Mereka merasa bertanggung jawab atas masa depannya sendiri dengan mengelola keuangan secara benar.

Ketakutan yang dirasakan oleh kaum milenial kaya ini justru menumbuhkan kehati-hatian dalam mengelola keuangannya. Gejolak ekonomi global sering kali menimbulkan ketidakpastian ekonomi, sehingga mengingatkan kaum milenial kaya untuk menghindari keputusan keuangan yang berisiko.

Berhati-hati bukan berarti anti. Tak sedikit pula milenial kaya yang berinvestasi saham. Namun sebagian besar dari mereka menggunakan konsultan atau penasihat keuangan, agar dapat meminimalisir risiko. Konsultan ini hanya berfungsi sebagai pembimbing saja, sedangkan keputusan keuangan akhir tetap menjadi kewenangan penuh dari affluent millennial.

Bagi kaum milenial yang kaya raya, bekerja dengan profesional di bidang keuangan dapat menurunkan tingkat kecemasan ekonomi. Keberadaan konsultan keuangan di sisi affluent millennial dapat membantu menghindari kemungkinan salah langkah dan melewatkan peluang, sehingga kinerja investasi yang dihasilnya akan jauh lebih baik.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu affluent millennials, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Pertanyaan yang Sering Diajukan dalam Wawancara Kerja
Apa itu Cost Benefit Analysis (Analisis Biaya Manfaat)?
Hal-Hal yang Menyebabkan Orang “Gagal Kaya”
Perbedaan EBIT vs EBITDA
Hobi dan Aktivitas yang Masih Bisa Dilakukan Dengan Menjaga Jarak Selama Pandemi
Apa itu Economic Order of Quantity (EOQ)
Perbedaan Costs (Biaya) dan Expenses (Beban)
Aplikasi Untuk Kasir di Android
Perbedaan Economic Vs Finance (Ekonomi vs Keuangan)
Apa itu Middle Income Trap?


Bagikan Ke Teman Anda