Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Toxic Leader dan Destructive Behaviour dalam Organisasi

Setiap manusia pada dasarnya terlahir sebagai seorang pemimpin. Setidaknya, mereka harus bisa memimpin diri sendiri untuk mencapai tujuan atau visi yang mereka impikan.

Sayangnya, tak semua orang memiliki jiwa kepemimpinan yang diperlukan untuk memimpin suatu kelompok, baik dalam skala kecil maupun besar. Padahal peranan seorang pemimpin dalam suatu kelompok organisasi sangatlah penting.

Seorang pemimpin dengan jiwa kepemimpinan yang baik dapat mengayomi, mengenali potensi yang terdapat dalam diri masing-masing anggota, dan menyatukan kekuatan tersebut untuk membawa organisasi ke arah yang lebih baik.

Sebaliknya, seorang pemimpin dengan jiwa kepemimpinan yang buruk merupakan awal kehancuran sebuah organisasi. Oleh sebab itu, organisasi perlu mempertimbangkan sifat dan kepemimpinan pada kandidat pemimpin yang akan dipilih.

Pertanyaannya, apa sajakah ciri-ciri pemimpin yang buruk dan perlu diwaspadai, serta bagaimanakah kepemimpinan yang buruk dapat menghancurkan organisasi? Yuk, simak bersama pembahasan berikut!

Definisi Pemimpin dan Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan suatu pencapaian tujuan yang dapat terwujud melalui adanya arahan dari seseorang yang disebut pemimpin.

Dengan kata lain, pemimpin adalah seseorang yang berhasil mengatur setiap anggota dalam organisasi untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang dapat mencapai tujuan organisasi dan mempertahankan kinerja tim setiap waktu, terlepas dari apapun situasi yang tengah dihadapi organisasi.

Lebih lanjut, seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang tidak haus kekuasaan dan menghindari tindakan kekerasan terhadap anggota maupun klien dalam mencapai tujuan organisasi.

Seorang pemimpin berperan penting dalam menentukan tujuan organisasi, menyusun rencana untuk mencapai tujuan tersebut, memotivasi masing-masing anggota yang dipimpin, serta menyatukan kekuatan atau bekerjasama untuk mencapai tujuan melalui pembagian tugas yang jelas dan terstruktur.

Mendeteksi Toxic Leader dalam Organisasi

Meskipun pada dasarnya setiap manusia terlahir sebagai seorang pemimpin, nyatanya tidak semua orang memiliki kapasitas untuk memimpin sekelompok orang dalam organisasi. Tak heran jika tak sedikit orang menjumpai atau bahkan bekerja di bawah pimpinan yang kurang mampu menjalankan perannya dengan baik.

Tipikal pemimpin yang kurang dapat menjalankan perannya terlihat dari minimnya pemahaman tentang peranan seorang pemimpin yang disebabkan oleh kurangnya pengenalan dan pengalaman kerja bersama anggota dalam organisasi.

Umumnya hal ini dialami oleh para pemimpin yang terpilih berdasarkan pengalaman kerja di organisasi lain atau mereka yang ditunjuk lantaran memiliki hubungan pertemanan atau kekerabatan dengan para petinggi perusahaan.

Tipikal pemimpin seperti ini biasanya akan mengalami beberapa permasalahan, mulai dari kesulitan mendefinisikan tujuan tim atau organisasi, menyusun strategi, hingga membagi penugasan sesuai porsi masing-masing anggota dalam organisasi.

Ketika seorang pemimpin kurang mampu menghidupkan nilai-nilai dan standar kinerja organisasi sebagai acuan, maka ia akan cenderung berperilaku destruktif. Pemimpin seperti ini juga dikenal sebagai toxic leader.

Adapun ciri-ciri toxic leader antara lain:

  • Merasa lebih superior dibanding para anggotanya, sehingga enggan mendengarkan atau mempertimbangkan masukan yang diberikan oleh anggotanya
  • Sering melakukan multitasking ketimbang mendelegasikan tugas kepada anggotanya, karena ia tidak mengenal masing-masing anggota dan potensi apa yang mereka miliki
  • Kurang komunikasi dalam tim, sehingga anggota tidak mempelajari hal baru dan cenderung mengulangi kesalahan yang sama
  • Tidak mau mengakui kesalahan dan selalu melempar kesalahan pada anggotanya
  • Memiliki ekspektasi yang tinggi bahkan cenderung kurang realistis apabila dibandingkan dengan efektivitas kinerja yang dimiliki.

Bagaimanakah Seorang Toxic Leader Menghancurkan Organisasi?

Seorang toxic leader membawa dampak yang beragam bagi kelangsungan organisasi tergantung pada seberapa besar skala tim yang ia pimpin. Hal tersebut disebabkan oleh perilaku destruktif yang dilakukan oleh toxic leader.

Einarsen, dkk (2007) dalam artikel ilmiah berjudul Destructive leadership behaviour: A definition and conceptual model menyebutkan bahwa perilaku destruktif merupakan sebuah tindakan pelanggaran terhadap kepentingan organisasi yang dilakukan secara sistematis dan berulang oleh seorang pemimpin. Perbuatan tersebut meliputi beberapa hal diantaranya.

  • Penyalahgunaan tujuan dan sumber daya organisasi, misalnya meminta anggota organisasi untuk bekerja lebih lama dari jam kerja seharusnya tanpa uang lembur, atau pemberian tugas yang tidak berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi;
  • Kekerasan secara fisik maupun verbal terhadap anggota organisasi yang dipimpin;
  • Tidak adanya sikap toleransi ketika seorang anggota melakukan kesalahan atau penghargaan apabila anggotanya melakukan kinerja yang baik; dan
  • Mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan anggota dan organisasi.

Selain itu, perilaku destruktif yang kerap dilakukan oleh toxic leaders seperti membuat kesalahan prioritas dalam pengerjaan tugas, memberi perlakuan yang tidak adil antar anggota tim, hingga tidak memberikan teladan yang baik dalam menyelesaikan tugas.

Beberapa toxic leaders mengambil alih seluruh penugasan ketimbang mendelegasikan tugas sesuai porsi masing-masing anggotanya, namun beberapa toxic leaders memilih untuk melimpahkan seluruh tanggung jawab penugasan pada anggotanya tanpa mengetahui porsi masing-masing anggotanya.

Apabila dibiarkan terus-menerus, organisasi bisa saja mengalami kerugian yang diakibatkan oleh perilaku destruktif toxic leader, seperti:

  • Kegagalan tim dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi;
  • Penurunan motivasi dan kepuasan kerja yang dapat berdampak terhadap efektivitas dan efisiensi kinerja masing-masing anggota organisasi, misalnya merasa takut salah atau bahkan membuat kesalahan berulang kali di tempat yang sama;
  • Hilangnya ide-ide baru yang sangat diperlukan untuk pengembangan organisasi;
  • Merusak tatanan moral, nilai-nilai, dan budaya organisasi yang sudah ada; serta
  • Kerugian lain yang berdampak fatal dan dapat menyebabkan kehancuran organisasi.

Dalam rangka mengantisipasi dan meminimalisir perilaku destruktif yang dilakukan oleh para toxic leader maka setiap organisasi sebaiknya mengadakan program pelatihan khusus untuk memberikan wawasan mengenai organisasi sekaligus mengembangkan jiwa kepemimpinan yang dimiliki oleh kandidat pemimpin.

Selain itu, organisasi juga harus membuka kesempatan bagi para anggota agar dapat melaporkan perilaku destruktif yang mereka jumpai atau alami secara pribadi. Hal tersebut sebaiknya dijadikan salah satu aspek penilaian kinerja para pemimpin agar mereka tidak bertindak sewenang-wenang terhadap anggota yang mereka pimpin.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang toxic leader dan destructive behaviour dalam Organisasi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Seperti Apa Struktur Organisasi Perusahaan yang Umum di Indonesia?
Perbedaan Organisasi Non Profit Dengan Organisasi Profit
Jenis-Jenis Restoran yang Menguntungkan
Kejadian Luar Biasa: Definisi, Kriteria dan Tindakan Penanggulangannya
Inilah 10 Jenis Ikan Hias Air Tawar Yang Cukup Langka
Mengapa Gunung Kawi Terkenal?
Mengapa Secara Umum Kedai Kopi Susah Untuk Survive/Bertahan?
Apa Itu Prospek?
Apa Itu Harga Eceran Tertinggi?
Ini Dia Contoh Bank Digital Di Indonesia


Bagikan Ke Teman Anda