Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Barang-barang Berharga yang Bisa Dibarter Ketika Krisis Ekonomi

Perekonomian merupakan fondasi dari kehidupan suatu negara. Ketika ekonomi suatu negara bertumbuh secara positif, maka ada jaminan kehidupan rakyat yang makmur dan sejahtera. Sebaliknya, jika pertumbuhan ekonomi melaju secara negatif, artinya ekonomi negara tersebut mengalami keterpurukan bahkan runtuh. Akibatnya, tak ada jaminan kemakmuran dan kesejahteraan bagi kehidupan rakyatnya.

Banyak faktor yang menyebabkan perekonomian suatu negara tidak stabil dan berakhir dengan resesi atau bahkan depresi. Sebut saja tingginya tingkat suku bunga, defisit neraca perdagangan, utang luar negeri yang ugal-ugalan, tingkat inflasi yang tinggi, dan lain sebagainya. Tak sedikit negara yang pernah mengalami keterpurukan ekonomi, seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Yunani, China, Peru, Zimbabwe, Venezuela, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di saat ekonomi runtuh, uang yang berfungsi sebagai alat tukar atau alat pembayaran tak lagi bernilai dan berharga. Apalagi jika runtuhnya ekonomi disebabkan oleh tingkat inflasi yang sangat tinggi atau yang sering disebut dengan hiperinflasi. Seperti yang pernah terjadi di Zimbabwe pada tahun 2008, di mana mata uang negara tersebut tidak lagi berharga. Hal ini disebabkan oleh terjadinya hiperinflasi dan untuk mengatasinya bank sentral negara tersebut justru mencetak uang terus-menerus guna menutup defisit anggaran.

Hal yang sama juga terjadi di Venezuela. Hiperinflasi yang terjadi di negara tersebut mengakibatkan ekonomi runtuh, harga barang dan jasa melonjak tajam, dan terjadi kelangkaan stok barang sehingga memicu timbulnya kelaparan. Untuk mengatasinya, presiden yang berkuasa saat itu, yakni Nicolas Maduro menerbitkan mata uang kipto (crypto currency). Namun, upaya tersebut tidak mampu mendongkrak kembali perekonomian negara yang mengalami krisis berkepanjangan.

Barter menjadi solusi di kala krisis

Tak bisa dipungkiri bahwa di saat ekonomi runtuh terjadi banyak hal buruk. Daya beli yang rendah, tingkat harga yang tinggi, terjadi kelangkaan barang, kelaparan, kriminilitas meningkat, bahkan kerusuhan massa dan penjarahan. Berbagai dampak buruk baik secara ekonomi maupun sosial ini dipicu oleh dorongan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Dalam kondisi ekonomi yang sedang runtuh, harga barang-barang kebutuhan pokok umumnya melonjak tinggi. Sebab daya beli yang rendah, masyarakat tak memiliki uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli barang-barang kebutuhan tersebut. Uang yang beredar tak lagi memiliki nilai, sehingga tak berharga.

Ketika uang tak lagi berharga, lantas bagaimana masyarakat mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya? Solusinya adalah barter. Barter dapat dipahami sebagai suatu bentuk perdagangan yang dilakukan dengan cara saling bertukar barang.

Sebagai suatu bentuk perdagangan, barter bukanlah hal baru. Bahkan barter merupakan pola perdagangan pertama kali yang telah dilakukan pada masa prasejarah, di mana pada masa itu belum ada uang yang digunakan sebagai alat tukar.

Meski merupakan bentuk perdagangan kuno, namun barter tetap relevan diterapkan pada saat ini, terutama ketika ekonomi sedang dalam kondisi terpuruk. Barang-barang kebutuhan sehari-hari mulai dari bahan pangan hingga tissue toilet memiliki nilai yang lebih tinggi dan berharga dibandingkan dengan uang tunai fisik.

Cara melakukan barter

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda tentang barter? Sekadar bertukar barang dengan orang lain yang kebetulan membutuhkan barang yang Anda miliki, dan Anda juga membutuhkan barang yang dimiliki orang tersebut tanpa memperhitungkan nilainya?

Jika memang demikian, maka Anda salah. Barter bukan hanya sekadar menukarkan barang yang saling dibutuhkan oleh masing-masing pihak. Bentuk perdagangan ini memiliki tata cara atau aturan yang melindungi kedua belah pihak dari risiko kerugian. Meski barter dilakukan dengan saling menukarkan barang, namun dalam perdagangan ini juga memperhitungkan nilai barang.

Seperti perdagangan pada umumnya, barter pun memiliki risiko baik kerugian, pencurian maupun penipuan. Untuk menghindari berbagai risiko tersebut dan barter dapat dilakukan dengan aman, maka berikut tips melakukan barter.

  • Perluas jangkauan barter

Barter bisa dilakukan dengan orang-orang di lingkungan terdekat, seperti teman atau tetangga. Namun tidak tertutup kemungkinan juga dilakukan pada pasar yang lebih luas. Hal ini mungkin dilakukan apabila didukung dengan adanya pemasaran yang mampu menjangkau pasar secara lebih luas. Pemasaran ini bagus, karena bisa menyiarkan kabar bahwa Anda memiliki stok barang yang bisa jadi dibutuhkan oleh banyak orang.

  • Simpan barang secara benar dan aman

Dalam masa keruntuhan ekonomi, pastikan Anda menyimpan barang-barang dengan benar dan aman. Hal ini untuk menghindari risiko pencurian dan penjarahan dari masyarakat yang kelaparan dan putus asa. Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi ekonomi yang sedang terpuruk menciptakan tingkat kemiskinan yang semakin tinggi. Masyarakat tak memiliki daya beli terhadap barang-barang bahkan kebutuhan pokok sekalipun. Akibatnya, mereka akan melakukan berbagai cara untuk mengisi perutnya, bahkan dengan mencuri atau melakukan tindak kriminal lainnya.

  • Lakukan barter di ruang publik

Barter tak selalu menguntungkan bagi masing-masing pihak, karena ada saja risiko kerugian akibat penipuan. Orang yang memiliki niat jahat tentu akan memiliki kesempatan untuk mengintimidasi, mengancam, atau mencoba taktik tipuannya apabila transaksi dilakukan di tempat sepi, jauh dari keramaian, dan Anda sendirian. Oleh sebab itu, pastikan Anda melakukan barter di ruang publik seperti pasar, jalanan yang ramai, atau di mana pun intinya di tempat yang ramai. Selain itu, dalam melakukan barter Anda juga bisa meminta orang lain untuk menemani Anda bertransaksi.

  • Ketahui nilai barang

Barter harus dilakukan secara adil. Artinya, nilai barang yang dipertukarkan harus sama atau kurang lebih sama. Misalnya barang yang dibarter adalah beras dengan kurma, maka keduanya harus memiliki nilai yang sama, seperti sekilo kurma dibarter dengan beras sebanyak 2 kg. untuk itu, pastikan Anda mengetahui nilai barang yang akan diperdagangkan. Jika Anda tidak tahu nilai barang tersebut, maka Anda bisa meminta seseorang yang berkompeten untuk menaksirnya.

Dalam melakukan barter dibutuhkan kejelian dan kehati-hatian agar tidak mengalami kerugian. Sebab, pada kondisi ekonomi yang terpuruk, harga barang akan terus mengalami perubahan karena belum stabil. Anda harus rajin meng-update perubahan harga-harga barang, agar Anda dapat menjual barang dengan harga pasaran terbaru. Jika tidak, maka orang lain akan membeli barang Anda dengan harga murah dan menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi.

  • Pastikan Anda membutuhkan barang yang dibarter

Syarat utama melakukan barter adalah ada dua objek barang yang dipertukarkan. Berkenaan dengan hal itu, pastikan bahwa barang yang akan dibarter adalah barang yang Anda butuhkan sehari-hari. Misalnya Anda membutuhkan susu, maka carilah orang yang memiliki susu dan kebetulan sedang membutuhkan barang yang Anda miliki untuk ditukarkan. Anda bisa menyimpan barang-barang yang tidak lagi Anda butuhkan untuk ditukarkan dengan barang-barang yang dibutuhkan dan berguna bagi kelangsungan hidup Anda bersama keluarga.

Barang berharga yang bisa dibarter ketika krisis ekonomi

Jika Anda memiliki lahan yang cukup, bisa Anda manfaatkan untuk menanam sayuran, buah-buahan, atau rempah-rempah yang masuk dalam kategori apotik hidup. Tak hanya tanaman, Anda pun bisa memelihara hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing, atau bahkan sapi. Anda juga bisa memelihara ikan yang bisa dikonsumsi seperti nila, bawal, lele, dan gurame. Berbagai tanaman dan hewan ternak tersebut akan sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup Anda dan keluarga, bahkan ketika terjadi krisis ekonomi.

Tak hanya bahan makanan, Anda pun bisa menyimpan barang-barang bekas pakai yang sudah tidak digunakan lagi. Memang akan cukup menyita ruang untuk menyimpannya, namun kelak barang-barang tersebut bisa saja menyelamatkan hidup Anda. Ketika ekonomi runtuh, harga barang melonjak tak terkendali, maka solusi untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan adalah dengan cara barter.

Dalam barter, bisa jadi barang yang tak lagi berharga bagi Anda tetapi berharga bagi orang lain yang membutuhkannya. Demikian pula sebaliknya. Lantas, apa saja barang berharga yang bisa dibarter di kala ekonomi runtuh? Berikut beberapa di antaranya.

  • Makanan

Setiap orang butuh makan. Sebab itulah makanan menjadi barang yang paling banyak dibutuhkan di pasar. Pentingnya makanan menjadikan barang ini banyak diminati sebagai barang barter ketika krisis melanda bahkan saat bencana sekalipun. Jenis-jenis makanan yang tidak busuk memiliki nilai tinggi dan paling berharga, misalnya makanan dalam kemasan kaleng seperti sarden, kornet beef, dan lainnya, tepung, snack, beras, madu, dan sebagainya.

  • Obat-obatan

Ketika ekonomi runtuh, harga-harga barang menjadi tidak stabil, bahkan terjadi kelangkaan barang. Hal ini juga terjadi pada jenis barang obat-obatan yang mencakup antibiotik, penghilang rasa sakit, obat alergi, dan lainnya. Persediaan obat-obatan harus cukup agar setiap pribadi atau pasien yang membutuhkan bisa ditolong lebih cepat.

  • Filter atau pemurni air

Air sama pentingnya dengan makanan. Tanpa air, maka kehidupan manusia dan makhluk di bumi ini akan terganggu. Ketika bencana alam termasuk krisis ekonomi terjadi, pasokan air bersih terbatas sehingga setiap orang dan keluarga membutuhkan water purifier atau pemurni air. Alat ini berfungsi untuk memurnikan air dari bakteri dan kuman-kuman penyakit yang terkandung di dalam air sehingga layak untuk konsumsi. Sebab itu, filter atau pemurni air akan sangat bernilai dan banyak dibutuhkan ketika krisis ekonomi menghadang.

  • Bahan bakar

Meski ekonomi runtuh, tetap saja akan ada pergerakan atau mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat yang lain. Untuk mobilitas ini tentunya dibutuhkan kendaraan dan bahan bakar. Dalam situasi ekonomi yang terpuruk, pastilah pasokan bahan bakar pun terbatas, karena stasiun bahan bakar ditutup. Maka dari itu, bahan bakar sangat dibutuhkan dan begitu berharga.

  • Baterai

Dalam kondisi normal, baterai mungkin merupakan barang yang tidak terlalu dibutuhkan sehingga keberadaannya disepelekan. Namun, ketika krisis ekonomi melanda, barang yang satu ini bisa menjadi barang yang begitu berharga dan dibutuhkan sehari-hari. Baterai dapat digunakan sebagai sumber daya berbagai peralatan rumah tangga, seperti alat penerangan senter, radio, dan lain sebagainya. Perlu dipahami, di kala krisis bisa saja pasokan listrik juga mengalami kendala sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan listrik seluruh masyarakat.

  • Alat penerangan

Jaringan listrik hancur sehingga tak mampu meyalurkan listrik ke rumah-rumah warga. Inilah yang terjadi di Venezuela yang mengalami krisis ekonomi berkepanjangan. Di saat seperti ini, alat penerangan akan sangat berharga karena dibutuhkan, baik lilin, senter, maupun lampu bertenaga surya. Meski tak bisa menyala terang benderang, namun lilin setidaknya bermanfaat untuk menerangi rumah sehingga tidak tampak gelap gulita.

Selain lilin, bisa juga menggunakan senter. Hanya saja, untuk menyalakannya dibutuhkan baterai sebagai sumber dayanya. Agar senter menyala terus, tentu dibutuhkan baterai dalam jumlah banyak, karena sifat daya baterai cepat habis, kecuali yang bisa diisi ulang.

Lebih berharga lagi lampu tenaga surya. Pada kondisi normal, harganya cukup terjangkau. Namun, ketika krisis alat penerangan ini akan berharga tinggi karena merupakan komoditas bagus. Lampu tenaga surya dapat disimpan dan menyerap tenaga surya pada siang hari, kemudian bisa digunakan pada malah hari. Bagaimana dengan ketahanannya? Tenang saja, karena dayanya akan lebih kuat dibandingkan dengan baterai.

  • Persediaan medis

Selama masa krisis ekonomi tak ada jaminan Anda selalu dalam kondisi sehat. Bisa saja suatu hal terjadi sehingga mengakibatkan Anda cedera, sehingga membutuhkan persediaan medis. Sebut saja alkohol. Tak hanya bisa digunakan sebagai campuran makanan dan minuman, alkohol bisa juga untuk sanitizer dan disinfektan guna menjaga lingkungan tetap higienis.

Bagaimana dengan perban? Perban sebenarnya tidak terlalu penting, karena dalam kondisi mendesak pun bisa menggunakan kain atau pakaian sebagai penggantinya. Persediaan medis lain yang lebih penting adalah antiseptik, plester, krim antibakteri, alat jahit luka, dan P3K seperti bethadin dan lainnya.

  • Hewan ternak

Hewan ternak seperti ayam akan sangat bermanfaat ketika ekonomi runtuh. Tak hanya telur, dagingnya pun dapat dikonsumsi. Jika dipelihara dengan baik, ayam akan menghasilkan telur yang bisa dijual atau dikembangbiakan sehingga jumlahnya semakin banyak. Anda bisa mendapatkan makanan bergizi dari telur ayam. Hasil ternak tersebut dapat dijual atau ditukar dengan barang lain yang Anda butuhkan.

  • Persediaan kebersihan diri

Krisis ekonomi tentu bukan alasan untuk bermalas-malasan membersihkan diri, justru kebersihan tubuh harus senantiasa terjaga agar tidak mudah terserang penyakit. Berkenaan dengan hal tersebut, barang-barang pribadi seperti tampon atau pembalut wanita, sabun, shampo, sikat dan pasta gigi, bahkan tissue toilet akan begitu berharga.

Di setiap krisis atau panic buying, tissue toilet menjadi komoditas yang begitu diburu oleh masyarakat, terutama di negara-negara yang tidak menggunakan air untuk bersuci atau membasuh kotoran, seperti Amerika, Australia, termasuk negara-negara di Eropa. Tissue toilet menjadi rebutan, karena komoditas ini tidak bisa digantikan oleh majalah dan koran atau kertas biasa.

  • Vitamin

Dalam kondisi normal, Anda mungkin tidak membutuhkan vitamin karena bisa mengonsumsinya langsung dari buah-buahan dan sayuran. Namun ketika ekonomi runtuh, akan terjadi kelangkaan komoditas buah dan sayur, sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan pola makan. Orang akan makan dalam porsi yang lebih sedikit, agar bisa tetap menghemat bahan makanan. Untuk memenuhi kebutuhan gizi, maka dibutuhkan suplemen atau vitamin agar tubuh tetap fit.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang barang-barang berharga yang bisa dibarter ketika krisis ekonomi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa Itu Stabilitas Sistem Keuangan?
Faktor-faktor Penyebab Resesi
Perbedaan Economic Vs Finance (Ekonomi vs Keuangan)
Pelajaran dari Krisis di Zimbabwe
Apa itu Concentration Ratio?
Pelajaran dari Krisis Yunani, Cara Bertahan Saat Krisis Ekonomi
Skill Berharga dalam Kehidupan, Pastikan Anda Memilikinya
Apa Efek Ekonomi Melambat?
Apa itu Ekonomi Perang?
7 Pelajaran Berharga Yang Wajib Diketahui Pebisnis Pemula


Bagikan Ke Teman Anda