Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Medium Term Note (MTN)?

Modal merupakan sumber daya yang penting bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Sebab itu, perusahaan harus memiliki modal yang cukup untuk membiayai seluruh operasionalnya. Inilah yang sering kali menjadi masalah yang dihadapi perusahaan, karena tak semua perusahaan memiliki kecukupan modal. Solusinya, perusahaan harus mencari tambahan modal dari pihak eksternal dengan menerbitkan Medium Term Note (MTN).

Apa itu Medium Term Note?

Medium Term Note (MTN) atau surat utang jangka menengah merupakan surat utang yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang membutuhkan dana pembiayaan dalam jangka waktu antara 5 (lima) hingga 10 (sepuluh) tahun, namun bisa juga masanya hanya selama 1 (satu) tahun.

Sebagai surat utang, MTN pastinya disertai dengan pengembalian bunga dalam tingkat tertentu. Tingkat bunga yang digunakan dalam MTN adalah suku bunga mengambang yang mengacu pada suku bunga yang dikenal dalam dunia keuangan internasional. MTN yang diterbitkan dalam mata uang euro menggunakan acuan suku bunga Euribor (Euro Interbank Offered Rate). Sementara di Indonesia, MTN yang diterbitkan dalam mata uang rupiah mengacu pada suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Penerbitan MTN oleh perusahaan yang terdaftar sebagai penerbit MTN bertujuan untuk memperoleh utang secara teratur dan berkesinambungan guna membiayai kebutuhan dana jangka menengahnya. Bahkan, penerbitan MTN ini menjadi program pendanaan rutin perusahaan berbiaya murah. Mengapa berbiaya murah? Perusahaan tak perlu menyiapkan dokumen-dokumen hukum secara lengkap setiap kali menerbitkan MTN.

Dalam proses penawarannya, perusahaan penerbit MTN bisa langsung menjualnya kepada investor tanpa perlu melalui pasar modal atau bursa efek. Bagi investor, MTN menjadi salah satu jenis investasi menguntungkan yang bisa dipilih untuk jangka menengah. Sebagai jenis investasi, MTN tidaklah bebas risiko, hanya saja risikonya tergolong rendah tetapi tingkat pengembaliannya cukup tinggi dari tingkat suku bunga mengambang yang digunakan sebagai acuan.

Perbedaan Medium Term Note dengan Obligasi

Surat berharga dalam jenis surat utang tak hanya MTN, tetapi ada juga obligasi. Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan jenis surat utang yang satu ini. Meski sama-sama surat utang, namun obligasi berbeda dengan MTN. Berikut beberapa hal yang membedakan antara MTN dengan obligasi.

  • Jangka waktu penarikan atau pelunasan

Jika MTN memiliki jangka waktu antara 5 hingga 10 tahun, maka jangka waktu obligasi berkisar antara 1 hingga 10 tahun. Menariknya, meski jangka waktunya 5 hingga 10 tahun, namun perusahaan penerbit MTN umumnya telah menarik kembali MTN dengan membayar pokok beserta dengan bunganya kepada investor hanya dalam jangka waktu 1 tahun. Artinya, pelunasan MTN bisa dilakukan sebelum jatuh tempo.

Lain halnya dengan obligasi, di mana perusahaan penerbit obligasi melakukan pelunasan atau pembayaran pokok dan bunga obligasi kepada investor (pemenang obligasi) sesuai dengan waktu jatuh tempo yang telah ditentukan. Dengan demikian, pelunasan obligasi tidak bisa dilakukan sebelum jatuh tempo. Meski begitu, investor bisa menjual obligasi atau memindahtangankannya kepada pihak lain sebelum jatuh tempo.

  • Proses penawaran atau penjualan

Telah disinggung sebelumnya bahwa MTN ditawarkan atau dijual langsung kepada investor tanpa melalui pasar modal. Penawaran MTN umumnya terbatas hanya kepada pihak-pihak tertentu saja. Artinya, MTN ditawarkan atau dijual secara terbatas.

Sementara penawaran obligasi dilakukan secara umum baik melalui media massa maupun pasar modal. Oleh sebab itu, penawaran obligasi cenderung lebih terbuka dibandingkan MTN.

  • Penerbit

Ditinjau dari aspek pihak yang menerbitkan surat berharga berbasis utang, MTN umumnya diterbitkan oleh perusahaan atau korporasi. Berbeda dengan obligasi, yang bisa diterbitkan oleh korporasi dan juga pemerintah.

  • Tingkat suku bunga

Tingkat suku bunga pada surat berharga berbasis utang seperti MTN dan obligasi biasa disebut dengan kupon. Besaran kupon tergantung pada jangka waktu dan rating dari perusahaan penerbit surat utang tersebut. Semakin lama jangka waktunya, besaran kupon akan semakin besar. Demikian pula semakin bagus rating dari perusahaan penerbit surat utang, maka semakin besar pula kupon atau tingkat bunga yang diberikan. Pun sebaliknya.

Jenis suku bunga yang digunakan sebagai acuan antara MTN dengan obligasi berbeda. MTN menggunakan jenis suku bunga mengambang yang mengacu pada suku bunga SBI. Sementara obligasi umumnya menggunakan suku bunga tetap (fixed rate).

Risiko Medium Term Note

MTN sebagai surat berharga berbasis utang yang sekaligus merupakan alternatif untuk berinvestasi tak lepas dari risiko. Adapun risiko dari MTN dapat diuraikan sebagai berikut.

  • Gagal bayar dari perusahaan penerbit MTN

Risiko yang mungkin terjadi dalam memilih investasi MTN adalah gagal bayar dari perusahaan penerbit MTN. Perusahaan atau korporasi menerbitkan MTN guna memenuhi pembiayaan atas proyek-proyek dalam bisnisnya. Dalam implementasinya bisa jadi perusahaan menghadapi kendala sehingga menyebabkan tingkat keuntungan atas proyek-proyek bisnis tersebut tidak maksimal bahkan tidak bisa balik modal. Akibatnya, perusahaan tak memiliki dana cukup untuk membayar modal pokok plus bunga yang dijanjikan kepada para investornya. Sebab itu, terjadilah gagal bayar.

Proses penawaran langsung kepada investor disinyalir menjadi salah satu penyebab, karena penawaran atau penjualan MTN cenderung tertutup dan tidak melibatkan pihak-pihak lain yang berwenang dalam memberikan jaminan seperti LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), sehingga prosesnya kurang transparan.

  • Tidak diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan)

Proses penawaran MTN tidak melalui pasar modal, sehingga tidak diawasi oleh OJK. Penawaran atau penjualan MTN dilakukan secara langsung oleh perusahaan penerbit MTN dengan investor, tanpa melibatkan pihak-pihak yang berwenang, termasuk OJK. Sebab itu, MTN lebih berisiko kurang aman, karena tidak memperoleh pengawasan dan pemeriksaan oleh OJK.

  • Perubahan tingkat suku bunga

Penggunaan suku bunga mengambang yang mengacu pada SBI di satu sisi menguntungkan, namun di sisi lain juga berisiko merugikan. Suku bunga mengambang artinya bunga yang diberikan kemungkinan bersifat fluktuatif mengikuti perubahan suku bunga SBI yang digunakan sebagai acuan. Jika suku bunga SBI mengalami kenaikan, tentu akan menguntungkan. Sebaliknya, apabila suku bunga acuan SBI menurun, maka tingkat pengembangan yang diperoleh investor pun rendah.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang Medium Term Note (MTN), semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Pertanyaan yang Sering Diajukan dalam Wawancara Kerja
Apa itu Cost Benefit Analysis (Analisis Biaya Manfaat)?
Hal-Hal yang Menyebabkan Orang “Gagal Kaya”
Perbedaan EBIT vs EBITDA
Hobi dan Aktivitas yang Masih Bisa Dilakukan Dengan Menjaga Jarak Selama Pandemi
Apa itu Economic Order of Quantity (EOQ)
Perbedaan Costs (Biaya) dan Expenses (Beban)
Aplikasi Untuk Kasir di Android
Perbedaan Economic Vs Finance (Ekonomi vs Keuangan)
Apa itu Middle Income Trap?


Bagikan Ke Teman Anda