Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Middle Income Trap?

Middle income trap atau jebakan pendapatan kelas menengah mengacu pada sebuah fenomena di mana ekonomi yang tumbuh dengan cepat mengalami stagnasi pada tingkat pendapatan menengah dan gagal untuk beralih ke tingkat ekonomi berpenghasilan tinggi. Ada sejumlah faktor yang dapat menyebabkan suatu negara jatuh ke dalam jebakan middle income trap yang merugikan.

Lantas apakah yang dimaksud dengan middle income trap yang sesungguhnya? Dan bagaimana pula langkah yang harus diambil untuk bisa menghindari jebakan tersebut? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Middle Income Trap

Jebakan pendapatan kelas menengah atau populer disebut dengan Middle Income Trap merupakan sebuah situasi dimana negara-negara berpendapatan menengah ke bawah tidak bisa naik ke status sebagai negara berpendapatan lebih tinggi karena berbagai faktor merugikan.

Untuk memahami Middle Income Trap, maka lebih dulu harus memahami klasifikasi negara sesuai pendapatan per-kapita menurut Bank Dunia. Bank Dunia telah mengklasifikasikan negara sesuai dengan pendapatan per kapita-nya. Negara-negara dengan pendapatan per kapita kurang dari USD$ 1.025 – 3.995 disebut sebagai negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Sementara, untuk kategori menengah ke atas ialah negara-negara yang pendapatan per kapita-nya antara USD$ 3.996 hingga USD$ 12.375. Middle Income Trap sendiri merupakan fenomena ekonomi yang hingga saat ini terjadi dimana-mana. Dimana sebuah negara mengalami stagnasi pada tingkat pendapatan menengah ke bawah dan gagal naik kelas.

Pergeseran status dari sebelumnya negara dengan penghasilan rendah kemudian naik ke kelas menengah, membuat jumlah agregat permintaan serta penawaran di negara tersebut menjadi meningkat.

Di level tertentu, negara dengan pendapatan menengah kemudian menjadi kurang kompetitif di sektor industri yang bernilai tambah atau value added industries, misalnya saja seperti di sektor manufaktur.

Beberapa industri yang padat karya kemudian akan mulai memindahkan operasinya ke negara lain yang berupah kebih rendah. Hal ini kemudian membuat pertumbuhan ekonomi di negara tersebut cenderung stagnan bahkan bisa jadi malah mengalami penurunan.

Negara dengan penghasilan menengah kemudian tak hanya mengalami kesulitan dalam bersaing dengan negara berupah rendah (low-wage countries). Baik dalam hal ekspor, terutama produk manufaktur.

Namun juga kesulitan dalam bersaing dengan negara berteknologi tinggi (high-technology countries). Nah, fenomena tersebut yang kemudian dikenal dengan sebutan perangkap pendapatan kelas menengah atau Middle Income Trap.

Faktor Penyebab Terjadinya Middle Income Trap

Ada sejumlah faktor yang membuat sebuah negara berada dalam Middle Income Trap. Beberapa studi menyebut ada sejumlah faktor penyebab, diantaranya dukungan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur yang lemah, kurang mampu membangun kemandirian dan ketahanan pangan hingga jaminan perlindungan sosial juga birokrasi, maupun penegakan hukum yang jadi faktor penentu. Berikut ulasannya.

  1. Sektor Manufaktur

Salah satu alasan mengapa sebuah negara terjebak dalam situasi Middle Income Trap ada pada pengembangan di sektor-sektor seperti manufaktur. Ini menciptakan kelompok-kelompok kepentingan yang kuat yang mungkin mencoba untuk menghalangi reformasi kebijakan yang dirancang untuk melanjutkan proses transformasi.

Mungkin dengan menentang penghapusan subsidi dan perlindungan. Perlawanan juga dapat datang dari pekerja dan serikat pekerja, negara-negara terkemuka yang mencoba dan mempertahankan sektor padat karya dengan biaya upah yang tinggi.

  1. Transformasi Ekonomi

Selanjutnya, transformasi ekonomi juga memakan biaya cukup mahal untuk dipertahankan. Sektor-sektor manufaktur yang muncul dalam LIC cenderung dimulai sebagai pembeli bersih barang-barang setengah jadi yang diimpor.

Jika sektor-sektor ini tidak dapat segera bersaing secara kompetitif dalam internasional untuk ekspor. Atau negara tidak mengembangkan sumber barang setengah jadi domestik, maka transformasi ekonomi menjadi sangat mahal secara keseluruhan.

Terlebih lagi adanya masalah dalam menjaga stabilitas makro-ekonomi. Negara-negara berkembang begitu cepat terutama dalam peningkatan inflasi yang tinggi.

Ditambah lagi, gelembung kredit dapat berkembang di saat investasi spekulatif tengah berlangsung. Hal ini lah yang membuat banyak negara terjebak dalam Middle Income Trap dan tak kunjung bisa keluar dari situasi tersebut.

  1. Kurangnya Dukungan Kebijakan dan SDM

Banyak negara berhasil mencapai status sebagai dengan pendapatan menengah menggunakan alat kebijakan industri khusus seperti subsidi. Negara-negara tersebut tidak melakukan upaya yang cukup untuk membuat kebijakan yang mampu meningkatkan pengetahuan dan inovasi.

Kemungkinan terjadinya kegagalan sebuah negara hingga terjebak dalam Middle Income Trap ialah karena gagalnya berinvestasi di sumber daya manusia. Pertumbuhan awal cenderung didorong oleh input dibandingkan dengan tingkat produktivitas. Selain itu, teknologi juga perlu menjadi lebih canggih.

  1. Masalah Birokrasi

Instansi pemerintahan yang tak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama dengan ekonomi yang semakin kompleks. Banyak negara berpenghasilan menengah menghadapi masalah korupsi dan akuntabilitas yang buruk terkait dengan inefisiensi birokrasi.

Akhirnya, banyak negara yang gagal ‘mengunci’ beberapa reformasi dalam bentuk perjanjian internasional karena terjebak dalam Middle Income Trap. Meskipun banyak dari negara-negara tersebut berpartisipasi dalam perjanjian perdagangan.

Hingga membuat sebuah megara gagal dalam menciptakan komitmen kelembagaan dan kebijakan yang memberikan sinyal komitmen jangka panjang terhadap strategi transformasi.

  1. Biaya Produksi dan Upah Meningkat

Meningkatnya upah atau biaya tenaga kerja per unit juga menjadi faktor mengapa sebuah negara terjebak dalam Middle Income Trap. Selain itu, pasokan surplus tenaga kerja juga mengalami keterbatasan.

Ditambah lagi adanga migrasi tenaga kerja dari desa ke kota besar membuat lapangan kerja berkurang. Hingga penurunan pertumbuhan populasi alami serta keuntungan dalam pertumbuhan produktivitas juga terjadi perlambatan.

  1. Inovasi Sektor Swasta

Beberapa sektor swasta mungkin memgalami beberapa kesulitan untuk mengembangkan inovasi. Pasalnya, inovasi mampu menciptakan barang dan jasa dibanding sekedar mendapatkan harga yang lebih tinggi di pasar dunia. Selain itu, inovasi lebih sulit dibanding sekadar meniru apa yang sudah dilakukan beberapa negara kaya lain lakukan.

Belajar dari Negara Lain

Transformasi ekonomi menyiratkan peningkatan produktivitas sumber daya yang tersedia. Dan dengan adanya transisi ke status pendapatan menengah umumnya ditandai oleh pergerakan sumber daya di samping kegiatan.

Tetapi beralih ke status berpendapatan tinggi biasanya berarti bahwa produktivitas melebih kapasitas di seluruh perusahaan dalam sektor. Karena perusahaan yang kurang produktif ditutup atau peningkatan produksi terjadi di semua perusahaan. Jadi sebagian besar pertumbuhan produktivitas terjadi dalam sektor-sektor tertentu.

Anda dapat melihat kondisi ini terjadi di Argentina dan Afrika Selatan, dua negara tersebut terjebak dalam Middle Income Trap dan keduanya mengalami proses transformasi yang serupa. Kedua negara tadi kemudian mengadopsi kebijakan dari tahun 1950-an hingga 1970-an.

Meskipun kebijakan tersebut cukup mahal, namun tetap memfasilitasi pengembangan berbagai kegiatan manufaktur dalam negeri. Mulai dari baja dan aluminium hingga manufaktur mobil. Negara-negara tersebut juga mengembangkan sektor manufaktur MIC yang khas seperti tekstil, garmen dan plastik.

Dan di saat yang sama juga turut meningkatkan tingkat produktivitas di sektor tradisional seperti pertanian. Tetapi pertumbuhan produktivitas baru-baru ini di kedua negara sedikit melambat, dan sebagian besar terjadi di sektor-sektor tertentu. Bagi Argentina, ini juga sangat dipengaruhi oleh siklus ekonomi makro yang tidak stabil.

Kesalahan utama yang dibuat oleh kedua pemerintah tadi ialah gagal dalam menerapkan kebijakan aktif terhadap perubahan sektor produktif mereka. Yaitu dari sektor domestik ke sektor yang berorientasi ekspor, serta keterampilan sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya.

Struktur produktif di kedua negara tersebut ditandai dengan adanya kombinasi perusahaan yang sangat produktif dan kompetitif di sektor tertentu, dan produktivitas yang sangat rendah di negara lain.

Kedua negara berupaya keluar dari situasi tersebut. Meskipun berjuang disaat harga minera jatuhl, namun kebijakan Afrika Selatan menekankan pada limpahan dan berupaya mendukung pengembangan sektor padat karya dan berorientasi ekspor.

Sedangkan di Argentina memiliki peraturan tersendiri yang bertujuan untuk meningkatkan persaingan, meningkatkan integrasi dengan berbagai nagara di seluruh dunia, mengurangi harga konsumen dan meningkatkan kualitas pekerjaan.

Jadi apa yang bisa dipelajari oleh negara-negara berpenghasilan mengengah ke bawah dari pengalaman tersebut?

Bagaimana Menghindari Middle Income Trap

Kunci untuk menghindari terjadinya Middle Income Trap, agar setiap negara menemukan perpaduan kebijakan yang tepat. Baik antara permintaan maupun kebijakan dari sisi penawaran. Hal tersebut dilakukan demi mempertahankan pendapatan per kapita serta untuk mencapai pertumbuhan seimbang. Baik yang bersumber dari pasar domestik maupun luar negeri.

Setiap negara memiliki keadaan ekonomi, sosial, budaya, demografi, dan politik yang berbeda sehingga tidak ada kebijakan yang spesifik yang bisa digunakan secara tepat untuk menghindari Middle Income Trap. Namun beberapa pendekatan bisa dilakukan dalam rangka menjauhkan efek negatif yang mungkin bisa terjadi.

Seperti halnya di beberapa negara lain yang mempertahankan pertumbuhan tinggi dan naik kelas ke status penghasilan tinggi. Kenaikan ekonomi yang begitu cepat telah menghasilkan tantangan baru yang memerlukan perhatian terus-menerus dari para pembuat kebijakan dari setiap negara.

Ketika LIC (Low Income Coutry) atau negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah merencanakan transisi mereka ke status negara berpendapatan menengah ke atas. Negara-negara tersebut harus berpikir jauh ke depan agar bisa mencapai status negara dengan penghasilan tinggi.

Hal ini benar-benar penting, dan karenanya harus menginformasikan setiap kebijakan yang mereka terapkan sejak awal kepada semua pihak. Jadi, ketika merancang kebijakan industri sebagaimana yang ditargetkan misalnya, maka harus mengalokasikan dukungan dan sumber daya ke sektor prioritas.

Kebijakan tersebut harus mencakup “Sunset Clause” dengan ketentuan tanggal akhir yang jelas. Serta menjelaskan kepada semua pemangku kepentingan bahwa dukungan ini tidak dimaksudkan untuk bersifat permanen.

Produksi di sektor yang ditargetkan juga harus berorientasi pada pasar ekspor, sebab ukuran pasar domestik di negara-negara Low Income cenderung terbatas. Sedangkan, persaingan asing sangat ketat baik untuk pertumbuhan produktivitas yang berkelanjutan maupun untuk merangsang inovasi.

Akhirnya, negara-negara terutama yang termasuk dalam Low Income Country (LIC) sangat perlu berinvestasi dalam mengubah sistem pendidikan mereka dengan cara yang akan melengkapi angkatan kerja untuk terus beradaptasi dengan berbagai perkembangan yang ada.

Ada korelasi kuat antara kualitas pendidikan dan kinerja ekonomi – pendidikan. Yakni area di mana Korea Selatan dan industrialis lainnya di Asia sukses dan berhasil unggul, terutama di bidang sains dan matematika. Pada saat yang sama, sistem pendidikan perlu merangsang kreativitas yang mendorong proses inovasi.

Mengubah struktur produktif suatu negara memang tidaklah mudah, apalagi melakukannya dengan cara yang tak biasa dan belum teruji demi status berpenghasilan menengah ke atas tentu jauh lebih sulit.

Tetapi dengan belajar dari keberhasilan dan juga kegagalan yang pernah dialami oleh negara-negara lainnya yang mampu keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah dan kini sudah menyandang status negara berpenghasilan tinggi.

Maka akan bisa situasi yang menjebak tersebut bisa teratasi sedikit demi sedikit. Meskipun bukan hal yang mudah, namun dengan kerja keras semua pihak, mulai dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan, para industrialis, pengusaha dan masyarakat luas maka akan tercipta kondisi yang lebih baik.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu middle income trap, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Pertanyaan yang Sering Diajukan dalam Wawancara Kerja
Apa itu Cost Benefit Analysis (Analisis Biaya Manfaat)?
Hal-Hal yang Menyebabkan Orang “Gagal Kaya”
Perbedaan EBIT vs EBITDA
Hobi dan Aktivitas yang Masih Bisa Dilakukan Dengan Menjaga Jarak Selama Pandemi
Apa itu Economic Order of Quantity (EOQ)
Perbedaan Costs (Biaya) dan Expenses (Beban)
Aplikasi Untuk Kasir di Android
Perbedaan Economic Vs Finance (Ekonomi vs Keuangan)
Apa itu Middle Income Trap?


Bagikan Ke Teman Anda