Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

6 Alasan Kelas Menengah Tetap Kelas Menengah

Secara ekonomi dan finansial, strata masyarakat dikategorikan menjadi 3 (tiga) yaitu kelas bawah yang merepresentasikan kelompok masyarakat miskin, kelas menengah yang merepresentasikan kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi sedang, dan kelas atas yang merepresentasikan kelompok masyarakat kaya yang tentunya memiliki tingkat kemandirian finansial yang baik.

Bicara tentang strata masyarakat, terdapat satu hal yang menarik, di mana masyarakat kelas menengah akan tetap menjadi kelas menengah. Masyarakat kelas menengah adalah mereka telah melampaui batas garis kemiskinan, tetapi secara finansial mereka pun belum mencapai kemandirian secara penuh. Di sisi lain, kelompok masyarakat kelas menengah ini cenderung sulit untuk naik strata ke kelas atas atau menjadi kaya. Mengapa? Inilah beberapa alasannya.

1. Tumbuh, berkembang, dan bergaul di lingkungan sosial yang sama

Latar belakang kehidupan sosial berpengaruh terhadap perspektif seseorang dalam memandang masa depan. Masyarakat kelas menengah umumnya hidup dalam lingkungan sosial yang sama. Artinya, mereka tumbuh, berkembang, dan bergaul dalam keluarga dan lingkungan sosial yang setara. Mereka umumnya belum pernah bertemu atau mengenal seseorang yang datang dari kelas atas alias orang kaya.

Masyarakat kelas menengah biasanya melakukan aktivitas sehari-hari mulai dari sekolah hingga bekerja serta bersosialisasi dengan orang-orang dari kalangan yang sama. Intinya mereka tidak memiliki panutan orang yang kaya raya. Sebab itu, menjadi kaya tidak pernah terpikirkan dalam benak masyarakat kelas menengah, meskipun sebenarnya hal tersebut mungkin saja bagi mereka. Jika memikirkannya saja tidak pernah, maka mereka pun tak akan pernah mengambil langkah yang diperlukan guna mewujudkannya.

2. Tidak berambisi untuk menjadi kaya

Ambisi menentukan langkah seseorang untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkannya. Inilah yang tidak dimiliki oleh mereka yang datang dari golongan masyarakat kelas menengah. Meskipun mereka bergaul dengan orang-orang yang kaya dan sukses secara finansial, namun jika mereka tidak memiliki ambisi yang mendorongnya untuk mengambil keputusan dan membuat komitmen untuk melakukan sesuatu yang berbeda, maka tidak akan ada yang berubah. Sederhananya, ketika seseorang berpikir ingin menjadi kaya, dia akan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Namun jika tidak, maka dia tidak akan melakukan langkah apapun yang dapat membawa perubahan dalam dirinya.

Tidak adanya ambisi untuk menjadi kaya dalam diri kelompok masyarakat kelas menengah menyebabkan mereka tidak memiliki dorongan yang kuat untuk mengubah hidupnya menjadi kelompok masyarakat kelas atas. Mereka seakan nyaman dengan kehidupan ekonomi dan kemampuan finansial yang dimilikinya, sehingga mereka enggan untuk keluar dari zona nyaman tersebut.

3. Senang menunda-nunda pekerjaan

Orang-orang yang senang menunda-nunda suatu pekerjaan tanpa disadari terjebak dalam rencana masa depan yang tidak terbatas. Artinya, mereka tidak memiliki tenggat dalam mencapai target yang diinginkan. Celakanya, orang-orang yang suka menunda pekerjaan cenderung kurang berhasil bahkan mengalami kegagalan dalam mencapai kemandirian finansial. Sikap seperti inilah yang sering melekat pada mereka yang tergolong dalam strata kelas menengah.

Dalam memulai suatu pekerjaan atau usaha, mereka sering kali memiliki seribu satu macam alasan untuk menundanya. Entah bulan yang tidak baik, musim yang tidak tepat, kondisi fisik yang lelah, psikologi yang belum siap, peralatan yang belum lengkap, ide yang mangkrak, dan lain sebagainya. Berbagai alasan tersebut seolah memadamkan semangat yang awalnya membara. Bahkan penundaan yang mereka lakukan terkesan takut mengambil risiko.

Tanpa disadari waktu terus berjalan dan mereka terus menunda-nunda. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun berganti tahun, mereka tetap berada pada titik atau level yang sama, tidak ada peningkatan secara finansial, bahkan tidak menutup kemungkinan justru mengalami penurunan.

4. Sulit untuk menunda kesenangan dan kepuasan

Salah satu hal yang membedakan orang kelas menengah dengan orang kaya adalah gaya hidup. Logikanya, orang-orang kaya cenderung bergaya hidup mewah karena mereka memiliki kemandirian finansial, sehingga mampu membeli apapun yang diinginkan. Namun faktanya tidak selalu demikian. Kebanyakan orang kaya justru hidup sederhana. Sebaliknya, orang-orang kelas menengah yang notabene belum memiliki kemandirian finansial ‘secara sempurna’, justru merekalah yang sering kali terjebak dalam gaya hidup mewah.

Orang-orang kelas menengah tetap menjadi kelas menengah sebab mereka sulit untuk menunda kesenangan dan kepuasan. Mereka sering kali tak mampu menahan diri untuk menghabiskan setiap rupiah yang dimilikinya guna membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Selain itu, mereka juga mudah terpengaruh dengan godaan jerat utang dan jual beli secara kredit. Sebab itulah, mereka sulit untuk mencapai kemandirian finansial dan naik level menjadi orang kaya.

5. Enggan untuk keluar dari zona nyaman

Telah disinggung sebelumnya bahwa perasaan nyaman secara psikologis akan kondisi ekonomi dan finansial saat ini menjadikan seseorang enggan untuk melakukan perubahan. Keengganan untuk keluar dari zona nyaman inilah yang menyebabkan orang-orang dari kelas menengah tetap menjadi kelas menengah dan tidak berubah menjadi kaya.

Di beberapa negara kelompok masyarakat kelas menengah memiliki kehidupan yang cukup baik, di mana mereka memiliki daya beli yang cukup memadai untuk barang-barang kebutuhan seperti makanan, pakaian, bahkan tempat tinggal. Sebab itu, mereka merasa sudah nyaman dengan kondisinya sehingga enggan keluar dari zona tersebut dan melakukan perubahan meski dengan tujuan untuk mencapai kemandirian finansial.

6. Terjebak utang

Tak banyak yang menyadari bahwa godaan utang sejatinya merupakan jebakan yang akan menjerat kehidupan seseorang secara finansial tanpa batas waktu. Ironinya, jebakan utang ini justru digemari oleh masyarakat dari golongan kelas menengah ke bawah. Sebab itulah, masyarakat kelas menengah sulit untuk menjadi golongan masyarakat kaya.

Masyarakat kelas menengah tanpa pikir panjang mengandalkan utang untuk memenuhi biaya hidupnya, seperti membeli perabotan, kendaraan, rumah, bahkan pendidikan. Seolah tak menyadari atau bahkan mengabaikan bahwa membeli barang apapun secara kredit justru akan menggandakan harganya. Mereka akan selalu terbelit dengan bunga utang yang umumnya cukup besar. Secara lebih lanjut mereka akan bermudah-mudah dalam berutang untuk menutup sebagian utang yang lain dengan membuat utang baru.

Rayuan bankir memang melenakan. Masyarakat kelas menengah seolah dibuat tak sadar dengan jeratan utang yang ditawarkan. Predikat utang lancar, kredit bagus, atau nasabah teladan yang disematkan sebagai status atau performa pinjaman nasabah yang tidak bermasalah disambut sebagai penghargaan (reward) yang membanggakan. Lagi-lagi masyarakat kelas menengah tak menyadari bahwa mereka telah menghabiskan uang bahkan sebelum mereka mendapatkannya.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang 6 alasan kelas menengah tetap kelas menengah, semoga bermanfaat bagi Anda semua



Nasehat Keuangan untuk Orang yang Belum Mandiri
Cara Menabung yang Benar dan Mudah untuk Masa Depan
Apa Itu Hedonisme dan Mengapa Tak Baik untuk Keuangan Keluarga
Nasihat Keuangan untuk Anak Muda Zaman Now
Persiapan Menghadapi Krisis Keuangan Pribadi
Dasar-dasar Pengelolaan Finansial Pribadi
Inilah Alasan Keanggotaan Gym Merupakan Pemborosan
5 Tip Menabung untuk Wanita
10 Cara Berhemat yang Salah
10 Tips Mengatur Uang Ala Orang Tiongha


Bagikan Ke Teman Anda