Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Itu Remittance? Definisi Remittance

Remittance merupakan istilah yang tidak asing lagi di dunia perbankan. Bank tertentu menyediakan layanan remittance untuk mempermudah urusan nasabahnya. Sayangnya masih banyak diantara kita yang belum paham istilah ini, padahal remittance adalah bagian dari aktivitas keuangan yang cukup menguntungkan bila dikelola dengan baik.

Apa Itu Remittance?

Remittance merupakan pengiriman atau transfer dana dari pengirim yang biasanya berada di luar negeri. Biasanya, dana ini dikirimkan oleh pekerja yang bekerja di luar negeri untuk keluarga yang tinggal di negara asalnya. Pengiriman remittance bisa dilakukan menggunakan transfer antar rekening, wesel, atau cek.

Remittance biasanya banyak digunakan di negara berkembang. Umumnya, penduduk negara berkembang banyak yang pergi ke luar negerinya untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan yang lebih layak. Penghasilan tersebut akan ia kirimkan ke negara asalnya melalui remittance.

Untuk negara berkembang, yang banyak mengirimkan tenaga kerja ke negara lain, remittance memberikan banyak keuntungan bagi pendapatan negara. Negara yang tercatat paling banyak menerima remittance yaitu India. Selain itu, ada pula China, Filipina, dan Meksiko.

Menurut data Bank Dunia pada tahun 2018, remittance sebanyak 466 miliar dollar dikirimkan ke negara berkembang. Apabila digabung dengan negara maju, total remittance yang diterima yaitu sebanyak 613 miliar dolar.

Di tahun 2019, diperkirakan jumlah remittance ini akan berkembang sebanya 3,7 %. Bagi negara berkembang yang memiliki penghasilan rendah, remittance memang menyumbang porsi besar bagi pendapatan negara.

Sejarah Remittance

Manusia telah mengenal migrasi atau berpindah ke wilayah lain sejak jaman dulu. Banyak dari manusia jaman dulu yang terbiasa untuk pindah ke negara lain dengan tujuan mencari penghasilan.

Pada abad 19 dan abad 20, beberapa negara di Eropa seperti Spanyol, Irlandia, dan Italia banyak menerima remittance dari warganya yang bekerja di luar negeri. Bahkan di Spanyol, pada pertengahan abad ke 20, sekitar 21% pendapatannya berasal dari remittance.

Dikarenakan pentingnya remittance bagi negara-negara tersebut, mereka mulai berinisiatif untuk membuat peraturan khusus mengenai remittance. Pada tahun 1901, Italia merupakan negara pertama yang membuat peraturan untuk melindungi remittancenya.

Sedangkan pada tahun 1960, Spanyol dan Argentina merupakan negara pertama yang menandatangani perjanjian kerjasama internasional untuk menurunkan biaya remittance.

Di awal tahun 2000an, remittance mulai banyak digunakan di seluruh dunia. Sehingga pada September 2008 Bank Dunia membuat database internasional yang berisikan biaya remittance.

Database ini berisi biaya untuk mengirim dan menerima remittance dari dan ke sekitar 200 negara di seluruh dunia. Database ini dibuat dengan tujuan agar bisa dibandingkan, untuk pengembangan, memudahkan pengguna dalam membuat pilihan, dan mendorong penyedia jasa untuk meningkatkan layanannya.

Manfaat Remittance

Bagi beberapa negara di dunia, adanya remittance begitu penting bagi kehidupan negara. Remittance bisa menjadi sumber pendapatan negara dengan jumlah yang sangat banyak. Hal ini dapat membantu negara-negara tersebut untuk keberlangsungan negara dan pertumbuhan ekonominya. Di beberapa negara, bahkan jumlah remittance yang diterima dapat mencapai sepertiga dari pendapatan kotornya.

Adanya remittance, bagi pengirim dan penerimanya, mampu membuat mereka lebih sadar terhadap fasilitas perbankan. Hal ini akan membuat jumlah pemilik rekening bank meningkat sehingga lebih banyak orang yang memiliki akses terhadap layanan keuangan. Hal ini dipercaya dapat mendukung perkembangan ekonomi di negaranya.

Remittance memang dapat menjadi sumber pendapatan kotor suatu negara. Jumlah yang didapatkan dari remittance memang bervariasi, namun cenderung agak stabil setiap tahunnya.

Di masa-masa krisis atau penurunan perkembangan keekonomian negara, pendapatan dari remittance akan selalu ada dan jumlahnya cukup stabil. Hal ini dikarenakan selalu ada pekerja dari negara tersebut yang bekerja di luar negaranya. Mereka akan terus mengirimkan pendapatannya ke keluarga di negara asalnya.

Dari sudut pandang makroekonomi, memang belum ditemukan korelasi antara remittance dengan produk domestik brutonya. Dampak yang terlihat langsung dari adanya remittance yaitu meningkatnya aktivitas perekonomian di suatu negara tersebut.

Potensi Kekhawatiran yang Dapat Ditimbulkan Remittance

Remittance dapat menjadi sumber pendapatan yang cukup signifikan. Pada masa krisis pun dana dari remittance dapat dimanfaatkan. Meskipun memiliki banyak manfaat, adanya remittance juga dapat menimbulkan beberapa kekhawatiran.

Adanya proses remittance salah satunya dikhawatirkan dapat menjadi sarana untuk praktek pencucian uang. Untuk menghindari hal ini, memang data remittance harus dilaporkan. Namun pada kenyataannya, menurut Bank Dunia, beberapa negara tidak melaporkan data remittancenya. Upaya untuk mengurangi potensi adanya pencucian uang juga membuat biaya untuk remittance menjadi lebih tinggi.

Dari beberapa negara yang melaporkan data remittancenya, bahkan data tersebut juga bisa jadi berbeda dengan kenyataannya. Setiap negara memiliki caranya masing-masing untuk mengumpulkan data tersebut.

Biasanya, data ini diambil oleh Bank Sentral masing-masing negara dengan mengambil laporan dari bank-bank komersial. Namun metode ini tidak mencakup data remittance yang menggunakan operator transfer atau kantor pos.

Hal-hal yang Dapat Dilakukan untuk Mengatasi Dampak Negatif Remittance

Dari penjelasan sebelumnya, diketahui bahwa remittance memang dapat menyebabkan berbagai kekhawatiran dan dampak negatif. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan berbagai upaya. Upaya ini harus konsisten dijalankan oleh semua negara dan lembaga yang terlibat.

Pertama, berkaitan dengan tenaga kerja yang bekerja di luar negeri. Meskipun remittance dapat meningkatkan pendapatan negara, perlu dipertimbangkan lagi agar tidak banyak tenaga ahli yang lebih memilih untuk bekerja di luar negeri. Bukan tidak mungkin apabila pekerja ahli tersebut bekerja di negara asalnya, ia akan lebih bisa memajukan negaranya sehingga pendapatan negara malah menjadi jauh lebih tinggi lagi.

Terkait dengan transparansi data, hal ini juga harus diperhatikan. Selama ini belum semua negara yang terlibat melaporkan data remittancenya. Seharusnya, semua negara yang terlibat memiliki dan melaporkan data remittancenya. Untuk laporan dari beberapa negara yang sudah ada juga dikhawatirkan memiliki data yang tidak lengkap.

Terkait kekhawatiran adanya pencucian uang, biasanya pelaku akan menggunakan jasa yang tidak terlacak. Hal ini perlu diselidiki lebih lanjut. Perlu juga adanya penelitian mengenai jumlah pekerja yang bekerja di luar negeri dengan pendapatan negara melalui remittance.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu remittance, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Cara Membuka Tabungan lewat BCA Mobile
Apa itu Rasio Kecukupan Modal – Capital Adequacy Ratio (CAR)?
Perbedaan GPN, Visa, dan Mastercard Serta Dampaknya pada Perdagangan Internasional
Apa Itu Mutual Saving Bank?
Pentingnya Mengenali Nasabah dalam Sektor Perbankan
Fungsi dan Tugas Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia
Perbedaan LDR (Loan to Deposit Ratio) vs FDR (Financing to Deposit Ratio)
10 Krisis Perbankan Abad 21
Definisi Walk In Costumer
List Produk Tabungan Haji dari Bank-bank Syariah di Indonesia


Bagikan Ke Teman Anda