Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Inilah Alasan Mengapa Banyak BPR Dilikuidasi

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan salah satu jenis bank yang ada di Indonesia. Kebanyakan BPR dimiliki oleh pihak swasta mengingat bank swasta seperti BPR ini membutuhkan modal besar dari investor perseorangan. Sayangnya meskipun memiliki investor sendiri BPR (Bank Perkreditan Rakyat) tidak selamanya bisa berjalan lancar.

Bahkan pada tahun 2018 lalu saja dari Bulan Januari hingga Bulan Oktober LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) sudah melikuidasi sedikitnya 5 BPR di seluruh Indonesia. Angka yang cukup banyak tentunya untuk penutupan sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang bergerak untuk mensejahterakan rakyat ini. Akan tetapi LPS pasti punya alasannya sendiri.

Alasan Banyak BPR Dilikuidasi

Likuidasi pada BPR tidak hanya di lakukan oleh LPS saja namun juga oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Indonesia. Di Bulan April tahun 2016 silam OJK sempat melikuidasi dua Bank Perkreditan Rakyat yaitu BPR Dana Niaga Mandiri yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan di tanggal 13 April 2016.

Serta BPR Syariah Al Hidayah yang berasal dari Jawa Timur di tanggal 25 April 2016. Akan tetapi ternyata di tahun yang sama namun di Bulan Januari, OJK sudah terlebih dahulu melikuidasi dua BPR. Bank Perkreditan Rakyat yang dilikuidasi oleh OJK ini adalah BPR Agra Arthaka Mulya yang berasal dari Yogyakarta dan BPR Mitra Bunda Mandiri yang berasal dari Sumatera Barat.

Lantas apa sebenarnya alasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini melikuidasi banyak Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia? Mari simak penjelasannya berikut ini.

1. Adanya fraud atau kecurangan

Sempat di wawancarai perihal mengapa banyak BPR yang dilikuidasi namun OJK dan LPS enggan menjawabnya. Akan tetapi santer terdengar jika alasan utama dari beberapa BPR yang kena likuidasi ini karena adanya fraud atau kecurangan dalam sistem manajemn Bank Perkreditan Rakyat tersebut. Biasanya kecurangan ini bisa berasal dari salah satu manajemen saja ataupun dari semua manajemen yang mengatur BPR tersebut.

Sebelum sebuah Bank Perkreditan Rakyat di buka pasti pemilik akan di beri tahu mengenai GCG (Good Cooporate Governance). GCG merupakan sistem tata peraturan sebuah bank yang harus di terapkan agar bank tersebut bisa berjalan dengan lancar dan tidak ada kesalahan di dalamnya. Namun BPR yang terlibat fraud ini biasanya tidak mengindahkan perihal GCG yang sudah di beritahukan.

Alhasil sistem manajemen di dalam bank menjadi tidak teratur dan cenderung berantakan karena tidak adanya sistem GCG dalam perusahaan. Hal ini juga sesuai dengan yang di katakan oleh Budi Armanto selaku Pengawas Perbankan II OJK yaitu,  “Tidak adanya penerapan GCG dan manajemen risiko membuat banyak BPR melakukan kecurangan atau fraud sehingga banyak BPR yang ditutup operasinya,”

Fraud yang terjadi di sistem manajemen BPR bisa mengakibatkan penurunan aset perusahaan hingga perusahaan tersebut gulung tikar karena tidak bisa membayar pajak yang sudah di tetapkan.

Contohnya seperti BPR Dana Niaga Mandiri yang asetnya sempat turun drastis dari angka Rp. 26,78 Milyar menjadi Rp. 17,28 Milyar.

Hal serupa juga dialami oleh BPRS Al Hidayah yang semula aset perusahaannya di angka Rp. 22,81 Milyar turun sangat tajam mencapai angka Rp. 5,71 Milyar. Dari data ini bisa diambil kesimpulan jika fraud memang bisa sangat berbahaya untuk berdirinya sebuah perusahaan.

2. Kalah dalam persaingan

Selain karena fraud, faktor lain yang bisa menyebabkan sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dilikuidasi karena kalah dalam persaingan. Di Indonesia ada banyak sekali BPR yang sudah berdiri dan saling bersaing. Dimana persaingan ini bisa sangat ketat antar bank mengingat penggunanya juga semakin meningkat.

Bahkan Bank Perkreditan Rakyat tidak hanya harus bersaing dengan sesama BPR namun juga harus bersaing dengan bank umum yang ada di Indonesia. Besaran bunga bank dan fasilitas yang disediakan oleh bank tersebut menjadi hal yang sangat penting. Apabila perusahaan mengabaikan fasilitas yang akan mereka tawarkan untuk nasabah maka BPR jenis ini harus siap gulung tikar.

Biasanya ketika sebuah BPR sudah kalah dalam bersaing maka bank ini tidak bisa mengembalikan dana nasabah yang sudah masuk ke perusahaannya. Bisa jadi dana nasabah yang sudah masuk habis untuk biaya operasional perusahaan namun tidak ada investor yang tertarik untuk menanam saham di dalam bank tersebut. Alhasil BPR tadi akan dilikuidasi dari daftar BPR yang ada.

3. Tidak mampu membayar pajak yang ada

Sebelum sebuah BPR didirikan maka akan di evaluasi atau di cek terlebih dahulu oleh OJK dan juga LPS. Dimana pengecekan ini bertujuan untuk melihat apakah BPR yang akan di buat bisa membayar pajak yang di tetapkan. Sehingga tidak sembarang pihak bisa membuat sebuah Bank Pekreditan Rakyat.

Harus ada modal awal yang dimiliki seseorang untuk bisa membuat sebuah BPR nantinya. Setelah BPR di buat maka pemilik harus bisa mengatur manajemen bank tadi dengan sebaik mungkin. Karena jika BPR tidak mampu membayar pajak yang sudah di tetapkan sebelumnya maka OJK ataupun LPS berhak menutup BPR tersebut.

Nah itu tadi beberapa alasan mengapa saat ini banyak BPR di Indonesia yang dilikuidasi baik oleh OJK atupun oleh LPS. Namun diantara alasan-alasan tersebut alasan yang paling utama dari hilangnya sebuah BPR di Indonesia adalah adanya fraud di perusahaannya. Fraud ini bisa di sebabkan oleh pemilik, staff, maupun jajaran direksi yang ada di Bank Perkreditan Rakyat tersebut.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang alasan mengapa banyak BPR dilikuidasi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Bahaya Kredit Tanpa Agunan (KTA) Bagi Kesehatan Bank
Perbedaan KlikBCA Individual Vs KlikBCA Bisnis
Apa yang Dimaksud Fee Based Income?
Alasan Mengapa Kita Harus Bertanggung Jawab
Tempat Beli Kartu Brizzi (BRI emoney)
Cara Membuka Tabungan lewat BCA Mobile
10 Alasan Mengapa Kita Harus Belajar Filosofi
Apa itu Remittance?
Alasan Mengapa Kita Perlu Belajar ke Luar Negeri?
Perbedaan Transfer Uang Via LLG, RTGS, dan ATM Bersama


Bagikan Ke Teman Anda