Apa yang Terjadi dengan Kebangkrutan Evergrande?

Perkembangan ekonomi China memang tak pernah lepas dari sorotan dunia. Apalagi setelah salah satu perusahaan properti terbesar di China, Evergrande, mengalami masalah keuangan yang tidak hanya berdampak pada perekonomian China melainkan juga perekonomian global.
Sebenarnya hal apa yang terjadi pada Evergrande dan apa saja dampaknya bagi perekonomian global, serta bagaimana peranan Pemerintah China dalam mengatasi permasalahan tersebut? Yuk, simak bersama pembahasan berikut!
Mengenal Evergrande Lebih Dekat
Evergrande Real Estate atau lebih dikenal dengan sebutan Heng Da Group, merupakan salah satu perusahaan pengembang properti yang memiliki angka penjualan terbesar kedua di China. Perusahaan ini disebut telah menjalankan lebih dari 1300 proyek pembangunan pada lebih dari 280 kota.
Didirikan oleh Xu Jiayin, seorang miliarder asal China pada tahun 1996, Evergrande tak hanya mengembangkan sayap di bidang properti. Perusahaan ini juga turut berinvestasi dalam berbagai industri lain seperti bisnis makanan dan minuman, kendaraan listrik, taman hiburan, hingga bidang olahraga dengan membeli sebuah klub sepakbola, Guangzhou FC.
Tahun kemarin, Evergrande berencana untuk membangun sebuah stadion sepak bola yang didesain berbentuk bunga teratai dengan kapasitas 100 ribu orang yang memakan biaya hingga 1,7 miliar dollar.
Selain proyek tersebut, Evergrande juga menjalankan proyek pembangunan sebuah pulau buatan yang memiliki beberapa mall, museum, dan taman hiburan. Proyek tersebut rencananya akan rampung dan siap dikunjungi wisatawan pada akhir tahun 2021.
Kesuksesan Evergrande menjadikan perusahaan ini lebih dari layak untuk menjadi bagian dari Global 500. Pasalnya selain meningkatkan daya tarik wisatawan yang dapat menambah pundi-pundi devisa negara, Evergrande juga membantu Pemerintah China dalam mempertahankan lebih dari 3,8 juta lapangan pekerjaan setiap tahunnya.

Penyebab Evergrande Kolaps
Siapa sangka, gemilangnya kesuksesan Evergrande dan perkembangan bisnis yang merambah ke segala bidang justru malah mendatangkan petaka bagi perusahaan?
Evergrande kini menjelma menjadi perusahaan developer dengan jumlah hutang terbanyak, yakni sebesar 300 miliar dollar. Besarnya jumlah hutang yang dimiliki oleh perusahaan diakibatkan oleh besarnya jumlah investasi Evergrande terhadap bidang-bidang industri lain yang sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan industri utama.
Mencuatnya isu permasalahan arus kas sebagaimana temuan para investor juga diperkirakan dapat meningkatkan potensi gagal bayar hutang perusahaan.
Selain menumpuknya hutang yang dibarengi dengan kesalahan manajemen arus kas, kebijakan yang diberlakukan oleh Pemerintah China juga diprediksi dapat memperparah masalah keuangan Evergrande.
Baru-baru ini Presiden Xi Jinping menyatakan bahwa China perlu mengalihkan fokus untuk meningkatkan kualitas dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi guna menaikkan pertumbuhan pendapatan domestik, salah satunya dengan cara meminimalkan jumlah hutang.
Hal tersebut secara tidak langsung memaksa perusahaan-perusahaan real estate harus mengurangi jumlah hutang mereka untuk menjaga kestabilan keuangan.
Dilansir dari CNN, hutang obligasi Evergrande sebesar 83,5 juta dollar dilaporkan telah jatuh tempo pada bulan September. Bunga atas hutang obligasi Evergrande senilai 50 juta dollar juga dilaporkan jatuh tempo satu hari sebelumnya.
Pada 14 September, Evergrande mengumumkan pihaknya telah menugaskan penasihat keuangan untuk membantu menilai kondisi keuangan perusahaan. Kendati demikian, perusahaan masih belum menjamin pihaknya mampu menyelesaikan pembayaran hutang sebagaimana mestinya.
Evergrande juga mengumumkan pihaknya berencana menjual sebagian sahamnya pada bank lokal senilai 1,5 miliar dollar untuk mencukupi kebutuhan kas perusahaan.

Dampak terhadap Perekonomian Global dan Peranan Pemerintah China
Dilansir dari The Guardian, kepala investasi di Rockefeller Global Family Office – Jimmy Chang, berpikir bahwa permasalahan keuangan yang dialami oleh Evergrande ini mungkin akan berdampak serius terhadap perekonomian global.
Kendati belum ada ekonom yang sanggup memprediksi sebesar apa dampak kejatuhan Evergrande terhadap perekonomian global, namun Evergrande diperkirakan telah kehilangan 85% nilai sahamnya tahun ini.
Hal tersebut disebabkan oleh kekhawatiran investor lokal China maupun investor asing mengenai dampak kejatuhan Evergrande yang dinilai dapat menjadi penyebab melambatnya laju pertumbuhan ekonomi di China.
Tak main-main, kekhawatiran investor mengenai kejatuhan Evergrande bahkan sampai menggoyahkan pasar saham di Hongkong, China, dan New York.
Jika terus dibiarkan, kejatuhan Evergrande dapat menjadi pukulan telak bagi pertumbuhan ekonomi China. Apalagi belakangan ini China telah bersusah payah membangun kembali perekonomian negara pasca pandemi COVID-19 yang turut menjadi penyebab memburuknya hubungan geopolitik dengan negara-negara barat.
Lantas, langkah apakah yang diambil oleh Pemerintah China untuk mencegah skenario terburuk kejatuhan Evergrande?
Belakangan ini, Bank Sentral China dikabarkan telah menyuntikkan dana sebesar 100 miliar yuan atau setara dengan 15,5 miliar dollar guna menjaga likuiditas perusahaan di sektor real estate. Upaya tersebut dilakukan sebagai wujud komitmen Bank Sentral dalam menjaga perkembangan pasar real estate sekaligus melindungi hak dan kepentingan konsumen.
Tak hanya itu, Pemerintah China juga meminta agar lembaga-lembaga terkait bekerjasama dengan Pemerintah daerah dalam rangka menjaga stabilitas harga tanah dan rumah, serta menjaga agar iklim bisnis real estate tetap kondusif.
Sayangnya, upaya Pemerintah China untuk mempertahankan raksasa real estate tersebut menuai pandangan skeptis dari para ahli ekonomi. Mereka menilai tindakan Pemerintah China sudah sangat terlambat untuk menyelamatkan Evergrande dari kehancuran.
Beberapa media China bahkan menyebut masalah keuangan Evergrande sebagai lubang hitam yang telah menelan seluruh perusahaan, sehingga berapapun besar dana yang disuntikkan oleh bank sentral tidak akan dapat menyelamatkan Evergrande.
Hu Xijin, seorang editor The Global TImes, mengungkapkan bahwa Evergrande tidak seharusnya mengharapkan bantuan Pemerintah China untuk menyelesaikan permasalahan keuangan perusahaan. Bagaimanapun caranya, Evergrande tetap harus mengambil langkah sendiri untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi apapun konsekuensinya.
Artikel Terkait
- Apa Kabar Panama Papers?
- Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan Contohnya
- Apa Itu White Collar Crime? Definisi, Pemicu Hingga Jenisnya
- Alasan Benur Diselundupkan Dan Kebijakan Larangan Ekspor Benur
Demikianlah artikel tentang kebangkrutan Evergrande, semoga bermanfaat bagi Anda semua.










