Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Arti Swasembada Pangan Dan Pengaruh Covid-19 Terhadap Ketahanan Pangan Indonesia

Ekonomi nasional sangat membutuhkan peranan sektor pertanian dalam hal penyediaan pangan dan bahan baku industri. Pertumbuhan penduduk yang terus bertambah menuntut ketersediaan pangan yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Program swasembada pangan menjadi langkah pembangunan yang strategis di sektor pertanian. Ketersediaan pangan yang cukup, kualitas bahan pangan yang baik, dan memiliki nilai gizi yang tinggi akan memberi dampak yang luas bagi perekonomian dan mutu sumber daya manusia. Beras sebagai bahan pangan pokok Indonesia menjadi sasaran utama pemerintah untuk mencapai swasembada.

Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) menjelaskan, bahwa swasembada pangan merupakan kemampuan suatu negara dalam memenuhi kebutuhan pangan negaranya dari produksi dalam negerinya sendiri. Terdengar sederhana, namun belum tentu semua memahami konsep swasembada pangan yang sesungguhnya.

Katakanlah total produksi pangan dalam negeri melebihi total konsumsi, tapi jika sebagian besar pangan yang diproduksi di ekspor, swasembada belum tentu akan tercapai. Lembaga Pertanian dan Pangan Dunia FAO pada tahun 1984 menetapkan, bahwa suatu negara akan dikatakan swasembada pangan saat produksi pangannya mencapai 90% dari kebutuhan nasional.

Luthfiati Makarim, S.S., M.M. sebagai koordinator Kelompok Subtansi Layanan Koleksi Monograf Berkala Langka (Klasika), dalam Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) seri keenam pada 29 Juli 2021 lalu mengatakan, bahwa ketersediaan pangan sangat penting terutama dalam situasi dan kondisi pandemi Covid-19 sekarang. Negara yang tidak mampu mencukupi pangan dikhawatirkan akan sangat rentan terhadap gejolak yang terjadi. Kemampuan swasembada pangan memang menjadi tumpuan kedaulatan suatu negara.

Indonesia sendiri pernah mengalami puncak swasembada pangan pada tahun 1984 dibawah kepemimpinan presiden Soeharto. Kala itu konsumsi nasional hanya sebesar 25 juta ton, hingga terdapat surplus mencapai 2 juta ton. Bahkan, Indonesia mampu memberikan bantuan 100 ribu ton padi untuk korban kelaparan ke berbagai negara.

Padahal, sebelum mencapai puncak swasembada, Indonesia merupakan pengimpor beras dengan jumlah yang cukup besar, yakni kisaran 2 juta ton per tahun. Namun, dimasa kejayaan produksi beras di tanah air, Indonesia mampu mengekspor beras ke Vietnam yang kala itu tengah kesulitan beras. Serta membantu negara di Afrika yang tengah mengalami kesulitan pangan.

FAO sebagai organisasi pangan dunia juga mengakui akan swasembada yang berhasil dicapai Indonesia. Dan Indonesia berhasil mendapatkan penghargaan dari Saoma atas nama FAO berupa medali emas bergambar timbul Soeharto di satu sisi dan gambar petani tengah menanam padi dengan tulisan “From Rice Importer to Self Sufficience”.

Lalu bagaimana program swasembada pangan Indonesia sekarang? Apakah Covid-19 memberi dampak pada ketahanan pangan di Indonesia?

Sebelum muncul Covid-19, ketahanan pangan di Indonesia telah lama menjadi sumber kekhawatiran. Karena ketergantungan negara pada bahan pangan impor untuk memenuhi kebutuhan domestik akan komoditas. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika dampak Covid-19 yang luas terhadap ekonomi mendorong kembali isu ketahanan pangan ke dalam wacana politik Indonesia.

Isu ketahanan pangan di Indonesia kembali mengemuka di tingkat nasional pada 28 April 2020 lalu, dalam konferensi video bersama para menteri kabinet, pemimpin daerah, dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, presiden Jokowi mengumumkan bahwa provinsi di seluruh negeri mengalami defisit bahan pangan utama seperti beras, bawang putih, gula, cabai, telur, dan jagung. Dalam upaya menekan isu defisit yang terjadi, presiden Jokowi mengutip pengamatan yang dilakukan oleh FAO terkait klaim mereka tentang gangguan global yang disebabkan oleh Covid-19 akan dapat menyebabkan kekurangan pangan di seluruh dunia. Dengan mengidentifikasi masalah pasokan, distribusi, dan harga yang terjadi kala itu menunjukkan bahwa kelangkaan pangan yang mengancam Indonesia sangat nyata.

Di Indonesia, pasokan pangan dalam negeri telah lama diisi oleh impor meski sudah lama ada imbauan untuk swasembada. Ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan impor ini sebagian besar disebabkan oleh produksi dalam negeri yang buruk, serta gagal mengimbangi populasi negara yang meningkat.

Contohnya beras yang merupakan bahan pangan pokok masyarakat Indonesia, dapat dilihat bahwa produksi tahunan beras di Indonesia telah menurun sejak 2016. Pada tahun 2019, produksi beras dalam negeri mencapai 31,31 juta ton, jumlah ini melampaui permintaan sebesar 29,6 juta ton. Sehingga membutuhkan surplus stok yang harus di impor dari Vietnam, India, dan Myanmar.

Pandemi Covid-19 yang terjadi telah membatasi akses jalur impor, karena gangguan pada rantai pasokan dan jaringan distribusi internasional. Apalagi beberapa pasar pemasok impor Indonesia, seperti Vietnam dan India yang melakukan pembatasan ekspor di awal pandemi Covid-19.

Sementara pemerintah Indonesia menghadapi tantangan serius seputar pasokan, kondisi pendistribusian pangan negara saat ini juga menimbulkan risiko serius bagi ketahanan pangan Indonesia. Penerapan social distancing yang ketat di seluruh negara Indonesia telah mengganggu jaringan logistik dan distribusi negara. Hal ini membuat pusat produksi, pergudangan, dan distribusi mengalami kelebihan pasokan karena mereka harus berjuang untuk mengangkut bahan pangan ke pasar akibat kurangnya personel logistik yang tersedia serta penutupan jalan yang luas. Akibatnya, baik pangan produksi dalam negeri maupun yang di impor, harus berjuang untuk mencapai pusat-pusat kota di Indonesia.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang swasembada pangan, Semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Pengertian Perjanjian Bilateral Dan Contohnya
Arti Swasembada Pangan Dan Pengaruh Covid-19 Terhadap Ketahanan Pangan Indonesia
Arti Dan Tugas Penyuluh Perikanan
Mengapa Harga Tinta Printer Mahal?
Begini 9 Cara Menurunkan NPL yang Terbukti Efektif
Apa itu Pahlawan Ekonomi Digital?
Apa itu Konservasi Penyu?
Apakah TV Digital Pilihan Yang Tepat? – Kelebihan TV Digital Dibanding TV Analog
Apa Itu Local Currency Settelement (LCS)?
Apa itu Akumulasi Penyusutan?


Bagikan Ke Teman Anda