Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Dampak Resesi Akibat Virus Corona Terhadap Perekonomian Indonesia

Belakangan ini santer terdengar kabar bahwasanya Indonesia akan memasuki fase resesi dalam Ekonomi. Pemberitaan terdengar di mana mana dan tampak menakutkan. Namun tahukah anda apabila sebelum tahun 2020, Indonesia juga pernah mengalami resesi/kritis atau hampir masuk ke dalam sebuah krisis?

Artikel ini akan membahas hal hal mengenai resesi secara ringkas, padat dan jelas. Namun sebelum kita masuk ke dalam bagaimana resesi mempengaruhi perekonomian Indonesia serta resesi resesi yang pernah dialami oleh Indonesia, alangkah baiknya jika kita membahas tentang definisi resesi terlebih dahulu.

Definisi resesi

“Pengertian resesi adalah periode penurunan ekonomi sementara dimana perdagangan dan aktivitas industri berkurang, umumnya ditandai dengan penurunan PDB dalam dua kuartal berturut turut.”

(Tirto.co.id: 2020)

Indikator perekonomian yang menurun selama masa resesi bisa jadi tidak hanya pertumbuhan ekonomi (PDB) tetapi juga indikator ekonomi lainnya seperti peningkatan pengangguran dan angka kemiskinan atau melemahnya daya beli masyarakat (konsumsi).

Resesi yang pernah dihadapi bangsa Indonesia

Sebelum resesi karena pandemi Covid19 pada saat ini Indonesia pernah mengalami resesi dan nyaris masuk jurang resesi. Tentu kenangan mengenai penurunan Presiden Soeharto masih kuat dibenak anda bukan? Nah saat itulah Indonesia pertama kali masuk ke dalam fase resesi ekonomi.

Pada krisis moneter 22 tahun silam tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dollar anjlok dari Rp. 5.900,00 pada 2 Januari 1998 menjadi Rp. 15.250.00 pada 29 Juni 1998(katadata.co.id:2018). Diperkirakan krisis ini disebabkan oleh banyaknya pihak swasta yang melakukan pinjaman dari luar negeri dan pinjaman tersebut berupa hutang jangka pendek dan berbunga tinggi. Pinjaman yang riskan tersebut pada saat itu tidak didukung oleh cadangan devisa negara dan terpukul oleh rentetan krisis yang menjalar dari negara negara Asia lainnya seperti Thailand dan Indonesia.

Meskipun pada akhirnya bisa bangkit dari krisis, Indonesia membutuhkan waktu bertahun tahun untuk melepaskan diri dari dampak ekonomi akibat krisis tersebut. Tidak hanya presiden yang diturunkan, berbagai program restrukturisasi pun digalakkan seperti penggabungan lima bank umum menjadi satu bank Mandiri dan lain lain.

Setelah krisis 1998, Indonesia juga pernah hampir masuk ke dalam jurang resesi. Tentu anda masih ingat kasus Bailout Bank Indonesia (BLBI) yang mencatut beberapa nama besar di negeri ini bukan?. Kasus tersebut terkait penyelematan Bank Century dari resesi yang menular akibat kredit perumahan yang gagal terbayar di Amerika Serikat pada tahun 2008.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu sempat anjlok dari 6.01% pada tahun 2008 menjadi 4.63% pada tahun 2009 (bbc.com:2018). Tetapi untung saja pada waktu itu Indonesia selamat dari resesi dengan berbagai program macroprudential yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia.

Dampak resesi

Dilihat dari kacamata ekonomi pembangunan, resesi akan mengakibatkan peningkatan  rasio pengangguran, tingkat kemiskinan dan  tingkat ketimpangan pendapatan. Apabila dilihat dari sudut ekonomi makro, resesi akan meningkatkan hutang pemerintah, pengeluaran pemerintah dan penurunan harga barang barang secara serentak (deflasi). Sedangkan jika di tilik dari sisi ekonomi mikro, resesi menurunkan harga surat surat berharga (saham, obligasi dan lain lain) dan banyak perusahaan yang bangkrut atau keluar dari pasar di negara tertentu.

Semua dampak diatas saling berkesinambungan satu sama lain. Orang yang baru saja dipecat dari pekerjaannya tentu memiliki daya beli yang rendah. Daya beli ini lantas secara langsung mengakibatkan deflasi. Harga barang dan harga surat surat berharga menurun mengakibatkan produktivitas perusahaan menurun sehingga perusahaan terpaksa memotong biaya produksi salah satunya dengan memecat karyawan.

Dilihat dari sudut pandang pemerintah, kenaikan jumlah pengangguran berarti mengurangi pajak pendapatan dan pajak produksi. Padahal kenaikan pengangguran juga menuntut pemerintah untuk menyediakan ‘jaring pengaman’ agar tingkat daya beli masyarakat tetap dalam tingkat yang aman. Oleh karena itu (peningkatan kebutuhan tetapi pendapatan menurun) Pemerintah mau tidak mau harus meminjam dari luar negeri selama hutang tersebut masih dalam tingkat yang aman yaitu hutang Pemerintah maksimum 30% dari PDB.

Kelompok yang terdampak resesi

Walaupun resesi akan berdampak kepada seluruh penduduk negara yang terkena resesi, namun resesi akan meninggalkan dampak paling parah kepada sektor sektor yang berhubungan langsung dengan penyebab resesi tersebut.

Contohnya  adalah pada saat krisis moneter di Indonesia pada tahun 1998. Diukur dengan skor indeks gini, ketimpangan pendapatan masyarakat Indonesia  mencapai 34.4 per tahun 1996 namun pasca krisis ukuran ketimpangan ini justru mengecil menjadi 31.1 per tahun 1998 dan bahkan menyentuh 30.2 pada tahun 2000. Hal ini disebabkan krisis tersebut cenderung memukul sektor  ekspor impor dan perbankan yang mana pada saat itu kedua sektor tersebut masih dimiliki oleh orang orang pendapatan menengah atas di Indonesia(worldbank:2020).

Lain halnya dengan krisis yang muncul akibat Covid19 seperti saat ini. Menurut artikel dalam economicshelp.org pada maret tahun 2020, resesi akibat pandemi ini akan memukul masyarakat golongan ekonomi menengah dan menengah ke bawah terutama bagian dari masyarakat tersebut yang bekerja di sektor pariwisata.

Masih ingat dalam benak penulis banyak hotel hotel besar di Yogyakarta yang tutup pada Mei 2020 lalu. Begitu pula selama tiga bulan berturut turut tidak ada pedagang yang membuka lapak di pinggir jalan Malioboro Yogyakarta. Maka tidak mengherankan jika Yogyakarta dan Bali yang notabene adalah dua provinsi yang bertumpu pada sektor pariwisata menjadi provinsi  paling terdampak krisis akibat pandemi covid19.

Bahkan dilansir dari laporan kebijakan moneter Bank Indonesia pada triwulan pertama dan triwulan kedua tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Bali dan Yogyakarta tidak hanya sebesar 0% tetapi justru negatif. Pada triwulan pertama pertumbuhan ekonomi dari kedua provinsi ini masing masing -1.14 dan -0.17 sedangkan pada triwulan kedua angka ini semakin besar dan menjadi   -10.98 dan -6.74. Angka ini lebih besar daripada rata rata penurunan PDB indonesia yang menurun sebesar -5.32 dibanding pertumbuhan di triwulan yang sama pada tahun lalu.

Walaupun tampak menakutkan, pada dasarnya resesi adalah fase yang wajar terjadi dalam sebuah ekonomi. Sama seperti halnya bisnis tentu tidak setiap saat sebuah bisnis akan menjadi bisnis yang menguntungkan. Pasti ada saatnya bisnis tersebut merugi bukan?.

Oleh sebab itu ada baiknya dalam kondisi resesi seperti ini masyarakat Indonesia cukup hati hati saja dan tidak khawatir berlebihan. Tetap memakai masker, mengikuti protokol kesehatan, dan tetap berdoa agar pandemi dan krisis ini lekas berlalu dari Indonesia.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang dampak resesi akibat virus corona terhadap perekonomian Indonesia, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Tip Berhemat Dalam Jangka Panjang
Siapa Itu IMF dan Apa Sepak Terjangnya di Dunia dan Indonesia
Strategi Menghadapi Resesi untuk Perusahaan
Seperti Apa Struktur Organisasi Perusahaan yang Umum di Indonesia?
Faktor-faktor Penyebab Resesi
Barang-barang Berharga yang Bisa Dibarter Ketika Krisis Ekonomi
Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Tahun 2018
Yang Harus Dipersiapkan di Rumah Ketika Bertahan dalam Resesi
7 Cara Jitu Bebas Stres Saat Mengasuh Anak di Tengah Pandemi Virus Corona
Bagaimana Cara Memilih Bank di Indonesia?


Bagikan Ke Teman Anda