Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan

Ekonomi memiliki cakupan yang begitu luas. Ketika bicara tentang ekonomi pastilah tak lepas dari permintaan dan penawaran. Ketika ada permintaan selalu akan diiringi dengan penawaran. Permintaan dapat dipahami sebagai sejumlah barang dan jasa yang diinginkan dan dapat dibeli oleh konsumen pada tingkat harga tertentu. Dari pemahaman ini jelas bahwa permintaan berkaitan erat dengan kebutuhan atau keinginan konsumen akan suatu barang atau jasa yang ingin dipenuhi. Berkenaan dengan permintaan konsumen akan barang dan jasa ini, kecenderungannya tidak terbatas.

Ukuran tinggi rendahnya tingkat permintaan konsumen sering kali digambarkan dalam kurva permintaan, yang mencerminkan hubungan antara jumlah barang atau jasa dengan harga. Jumlah barang atau jasa direpresentasikan oleh sumbu X (horisontal), sedangkan tingkat harga direpresentasikan oleh sumbu Y (vertikal). Hubungan antara jumlah atau kuantitas barang dan jasa dengan tingkat harga ini sifatnya tidak statis. Artinya bisa saja mengalami pergeseran, karena dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti pendapatan, perubahan harga itu sendiri, dan lain sebagainya.

Hukum permintaan

Kehidupan manusia tidak lepas dari aktivitas ekonomi. Adanya kebutuhan yang harus dipenuhi memunculkan adanya permintaan akan suatu barang dan jasa. Guna memenuhi permintaan tersebut, mala muncul pulalah penawaran.

Meski secara konsep tampak sederhana, namun faktanya aktivitas ekonomi bisa menjadi begitu kompleks. Ketika permintaan akan suatu barang dan jasa muncul, akan diikuti dengan penawaran dari banyak produsen. Hal ini menyebabkan barang dan jasa yang ditawarkan lebih variatif, sehingga menciptakan pasar.

Permintaan memiliki kaidah yang menjadikannya sebagai hukum yang mencerminkan hubungan antara jumlah atau kuantitas barang dan jasa dengan tingkat harga. Definisi dari hukum permintaan itu sendiri adalah suatu kaidah yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat negatif antara tingkat harga dengan jumlah atau kuantitas barang dan jasa. Jika harga naik, maka jumlah barang dan jasa yang diminta akan menurun. Sebaliknya, apabila harga turun, maka jumlah barang yang diminta akan mengalami kenaikan.

Hubungan negatif antara harga dengan jumlah barang dan jasa menunjukkan bahwa pada hukum permintaan berlaku asumsi ceteris paribus. Artinya, hukum permintaan berlaku apabila faktor-faktor selain harga tidak mengalami perubahan atau dianggap tetap. Ketika faktor-faktor lain mengalami perubahan, maka hukum permintaan dengan asumsi ceteris paribus tidak berlaku.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan

Permintaan terhadap barang dan jasa sifatnya relatif. Artinya, permintaan tersebut fluktuatif sehingga mengalami perubahan setiap saat, kadang naik kadang juga turun. Perubahan terhadap permintaan barang dan jasa dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya sebagai berikut.

  • Pendapatan

Tingkat pendapatan mencerminkan kemampuan atau daya beli konsumen. Semakin tinggi tingkat pendapatan konsumen, maka daya belinya terhadap barang dan jasa juga tinggi. Demikian pula sebaliknya. Tinggi rendahnya permintaan akan barang dan jasa juga tergantung pada pendapatan konsumen. Ketika pendapatan konsumen semakin besar, maka semakin besar permintaan mereka.

Meskipun demikian, pengaruh perubahan pendapatan pada permintaan tergantung pada jenis barang dan jasanya. Jika jenis barang adalah normal atau bersifat primer dan kualitas barang bagus, maka peningkatan pendapatan akan mendongkrak peningkatan permintaan. Sementara untuk jenis barang inferior, semakin tinggi pendapatan maka permintaan justru akan semakin menurun. Sebab, konsumen yang pendapatannya semakin tinggi, mereka akan beralih pada barang-barang dengan kualitas yang lebih baik. Sebaliknya, ketika pendapatan menurun, permintaan terhadap barang-barang inferior ini justru akan meningkat.

Sebagai contoh komoditas susu krimer dengan susu kental manis (full cream). Dilihat dari kandungan susunya, susu full cream lebih banyak dibandingkan dengan krimer. Oleh sebab itu, susu krimer termasuk barang inferior, sedangkan susu full cream adalah barang normal atau primer. Dari harganya, jelas susu full cream lebih mahal daripada krimer. Ketika pendapatan konsumen rendah atau turun, permintaan susu full cream akan menurun dan sebaliknya permintaan susu krimer akan lebih banyak atau meningkat. Namun, pada saat pendapatan konsumen lebih tinggi, maka permintaan terhadap susu full cream cenderung naik, sedangkan permintaan untuk susu krimer akan menurun. Intinya, semakin tinggi pendapatan yang diperoleh konsumen, kecenderungan untuk memiliki barang dan jasa yang lebih baik kualitasnya pun akan semakin tinggi.

Pendapatan memiliki kaitan yang erat dengan angkatan kerja. Artinya, semakin banyak lapangan kerja yang tersedia, maka semakin banyak pula pekerja yang berpeluang memperoleh pendapatan tetap. Secara kumulatif, pendapatan yang diterima oleh pekerja secara otomatis akan meningkatkan daya belinya. Daya beli yang semakin tinggi akan meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa dengan kualitas yang lebih baik. Berkenaan dengan hal tersebut, laporan tingkat pengangguran bulanan menjadi salah satu indikator utama ekonomi yang memberikan petunjuk terkait dengan permintaan barang konsumen.

Tingkat upah atau pendapatan berpengaruh pada pengeluaran konsumen. Ketika upah atau pendapatan semakin meningkat, konsumen akan memiliki lebih banyak pendapatan untuk dibelanjakan. Sebaliknya, apabila upah turun bahkan hilang, maka mengindikasikan banyaknya pengangguran, sehingga permintaan terhadap barang dan jasa cenderung mengalami penurunan.

  • Harga

Pengaruh harga terhadap permintaan barang dan jasa tergolong kuat. Pada kurva permintaan, perubahan harga akan menyebabkan pergerakan di sepanjang kurva. Ketika harga suatu barang atau jasa naik, maka akan ada penurunan permintaan terhadap barang atau jasa tersebut. Sebab itu, harga memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap permintaan barang dan jasa.

Meski demikian, pengaruh harga pada permintaan juga tergantung pada jenis barang dan jasanya. Untuk barang atau jasa yang sifatnya primer atau kebutuhan utama dan penting, maka perubahan harga akan menggeser permintaan walau hanya sedikit. Misalnya, apabila harga beras mengalami kenaikan, penurunan permintaan terhadap komoditas tersebut cenderung sedikit karena beras merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

Lain halnya jika kenaikan harga terjadi pada produk-produk fashion branded, baik baju, tas, sepatu, dan lain sebagainya. Kenaikan harga pada barang-barang tersebut akan menyebabkan penurunan permintaan yang signifikan, karena bukan barang kebutuhan yang mendesak untuk segera dipenuhi. Selain itu, konsumen akan beralih ke barang-barang pengganti yang lebih murah.

Harga dipengaruhi oleh tingkat inflasi, sehingga berdampak signifikan pada pengeluaran konsumen untuk barang dan jasa. Sebab itulah indeks harga produsen dan indeks harga konsumen dijadikan sebagai indikator ekonomi yang utama. Tingkat inflasi yang tinggi berisiko mengikis daya beli, sehingga kecil kemungkinan konsumen memiliki pendapatan lebih untuk dibelanjakan setelah digunakan untuk menutupi pengeluaran dasar seperti makanan dan perumahan.

  • Suku bunga

Apa hubungannya permintaan dengan suku bunga? Suku bunga sebenarnya melekat pada harga barang yang diperjualbelikan secara kredit. Semakin tinggi tingkat suku bunga yang dibebankan atas pembelian barang secara non-tunai atau kredit, maka harga barang secara akumulatif juga akan semakin tinggi. Sederhananya, barang yang dibeli secara kredit, harganya akan lebih mahal dibandingkan dengan harga barang yang dibeli secara tunai.

Adanya suku bunga tentu akan berdampak pada tingkat pengeluaran untuk barang-barang konsumsi secara substansional. Banyak barang konsumen yang umumnya dibeli secara kredit, misalnya motor, mobil, rumah, smartphone, barang-barang elektronik, laptop, dan lain sebagainya. Suku bunga yang tinggi akan berdampak pada harga barang yang lebih tinggi, sehingga ‘memaksa’ konsumen untuk merogok kocek lebih dalam. Harga barang yang tinggi akibat suku bunga yang tinggi akan menghalangi pengeluaran konsumen, sehingga tingkat permintaan terhadap barang-barang tersebut cenderung menurun.

Tak hanya itu, suku bunga yang lebih tinggi menyebabkan persyaratan pengajuan permohonan kredit atau pembiayaan menjadi lebih ketat, sehingga menyulitkan konsumen untuk mendapatkan pembiayaan yang diperlukan guna membeli barang yang diinginkannya. Akibatnya, konsumen memilih untuk menunda pembelian barang hingga persyaratan kredit yang lebih menguntungkan tersedia, atau tingkat suku bunga mengalami penurunan.

  • Harga barang substitusi dan komplementer

Barang substitusi atau pengganti merupakan produk atau layanan yang memiliki kesamaan atau kemiripan fungsi dengan produk lain. Ketika harga barang substitusi mengalami kenaikan, akan menyebabkan tingkat permintaan terhadap komoditas yang memiliki fungsi sama semakin tinggi. Demikian pula sebaliknya.

Contohnya minuman kopi menjadi substitusi dari minuman teh. Apabila harga minuman kopi semakin mahal, maka permintaan terhadap minuman teh akan meningkat. Sebaliknya, jika harga minuman teh lebih tinggi, maka permintaan terhadap minuman kopi akan lebih banyak. Dengan demikian, permintaan komoditas tertentu secara langsung dapat dipengaruhi oleh perubahan harga dari barang substitusinya.

Hal yang sama terjadi pada barang komplementer atau pelengkap. Barang komplementer dapat dipahami sebagai barang atau jasa yang digunakan secara bersama-sama dengan barang atau layanan lain sebagai pelengkapnya. Biasanya, barang komplementer cenderung kurang memiliki nilai ketika dikonsumsi sendiri. Namun, saat dikombinasikan dengan barang atau layanan lain, akan menambah nilai keseluruhan dari barang tersebut.

Misalnya susu menjadi barang komplementer dari kopi. Susu dan kopi masing-masing memiliki nilai tersendiri, dan ketika keduanya digabung maka kombinasinya akan bernilai lebih tinggi. Namun, peningkatan harga barang komplementer menyebabkan penurunan permintaan terhadap komoditas tertentu. Pada contoh kopi susu, ketika harga susu naik akan menyebabkan harga kopi susu menjadi lebih mahal. Akibatnya, permintaan terhadap kopi menjadi turun. Jadi, permintaan akan komoditas tertentu juga dipengaruhi perubahan harga barang komplementer atau pelengkap.

  • Jumlah konsumen

Semakin banyak populasi di suatu wilayah, peluang pasar akan semakin besar. Artinya, tingkat permintaan terhadap barang dan jasa juga semakin tinggi. Jangkauan pasar yang semakin luas, berpotensi meningkatkan permintaan.

Populasi yang bertumbuh dan berkembang memang memiliki dampak negatif, terutama dalam hal peningkatan kesejahteraan. Sebab, jumlah populasi yang semakin banyak akan meningkatkan kepadatan penduduk, persaingan kerja, dan kerawanan sosial karena gesekan sosial yang memicu tindak kriminalitas semakin besar.

Namun di sisi ekonomi, jumlah populasi yang bertambah justru memberikan peluang terciptanya pasar baru dengan jangkauan yang lebih luas. Semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi mengindikasikan akan semakin banyak permintaan akan barang dan jasa. Hal ini tentu menjadi peluang bagi para produsen untuk bersaing merebut pasar dengan memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan atau diminta pasar. Jadi, jumlah konsumen yang semakin banyak berpengaruh terhadap tingkat permintaan yang semakin tinggi.

  • Selera dan preferensi konsumen

Kebanyakan konsumen akan tertarik untuk membeli barang atau jasa yang sedang tren. Di Indonesia pernah booming tanaman hias dan batu akik yang begitu diincar dan digilai oleh banyak konsumen, meskipun harganya melonjak tinggi di luar kewajaran. Inilah yang dimaksudkan dengan selera dan preferensi konsumen.

Ketika suatu barang sedang ­ngetrend digunakan oleh public figure, maka akan memicu gelombang permintaan yang tinggi terhadap barang tersebut. Tak heran jika produsen memanfaatkan ketenaran tokoh-tokoh tertentu seperti selebritis untuk mendongkrak penjualan produknya. Tujuan jelas untuk meningkatkan permintaan sehingga volume penjualannya pun meningkat. Namun, ketika konsumen tidak memiliki selera atau preferensi terhadap produk yang ditawarkan, maka permintaan terhadap produk tersebut akan menurun.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Faktor Apa yang Membuat Entrepreneur Sukses?
Apa itu Elastisitas Permintaan dan Penawaran?
Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tutupnya Mal di Berbagai Negara
Faktor Apa yang Menyebabkan UMKM Gagal?
Faktor Ini Perlu Menjadi Pertimbangan Sebelum Membeli Rumah!
Faktor-faktor Penyebab Resesi
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penawaran
Harga Minyak Minus, Apa Faktor dan Bagaimana Sejarahnya Terjadinya?
Apa itu Elastisitas Permintaan?
Untung Rugi Devaluasi, Mengapa Negara Perlu Melakukanya?


Bagikan Ke Teman Anda