Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Efek Resesi?

Resesi ditandai dengan terjadinya penurunan PDB (Produk Domestik Bruto) secara signifikan selama dua kuartal lebih. Menurut para ahlil, ciri khas resesi terlihat dari adanya penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan dan tersebar di seluruh sendi perekonomian yang berlangsung lebih dari beberapa bulan.

Selama resesi terjadi, angka pengangguran yang naik menjadi pusat perhatian. Selain itu, pendapatan juga turut menurun secara drastis, diiringi dengan penurunan tingkat produksi manufaktur dan industri. Disertai penurunan daya beli masyarakat. Efek dari resesi ini hampir berimbas ke semua segi kehidupan, baik dari sisi ekonomi keluarga hingga bisnis baik dalam skala kecil maupun besar.

Berikut beberapa efek dari resesi yang berdampak luas di masyarakat, tak cuma dari sisi perekonomian tetapi juga cara berinteraksi secara mendalam. Dampak dari adanya resesi sangat berbantung dari berapa lama resesi tersebut terjadi. Semakin lama resesi berlangsung, maka efek buruknya akan semakin meluas. Agar lebih jelas, simak ulasan berikut selengkapnya.

1. Angka Pengangguran Meningkat

Penurunan output ekonomi akan menyebabkan angka pengangguran semakin meningkat. Hal ini terjadi karena sejumlah alasan, di antaranya.

  • Beberapa perusahaan mengalami kebangkrutan yang berarti pekerja akan kehilangan pekerjaan mereka.
  • Perusahaan akan memberhentikan pekerja agar bisa mengurangi biaya dan beban produksi.
  • Perusahaan akan mengurangi pekerja dan memilih mempekerjakan pekerja baru.

Dalam resesi yang terjadi di tahun 2009, pengangguran di Inggris naik hingga lebih dari 2,6 juta. Namun, di Eropa, banyak negara melihat adanya peningkatan angka pengangguran yang sangat besar. Bahkan berada di angka 20% lebih, terutama di negara-negara seperti Yunani, Spanyol dan Portugal.

Angka-angka pengangguran yang terdata mungkin berada di bawah angka yang sebenarnya. Misalnya, dalam resesi, pengusaha mungkin pendapatannya mengalami penurunan dramatis, namun masih belum bisa digolongkan sebagai pengangguran.

Hal tersebut terjadi sebagai imbas dari adanya penurunan daya beli dan faktor produksi yang menurun. Sehingga, perusahaan atau pengusaha berusaha mengurangi para pekerjanya untuk bisa bertahan di situasi yang berat saat resesi.

Kehilangan pekerjaan bisa mempengaruhi stabilitas keluarga dan individu. Dari mulai kesehatan, dan kesejahteraan sebuah keluarga bisa secara drastis berubah saat kehilangan pekerjaan.

Sementara banyak pengangguran lain yang kehilangan pekerjaan mulai menggunakan waktunya untuk eksplorasi dan berkembang ke arah lebih baik. Namun banyak juga yang mengalami depresi, kecanduan alkohol, hingga penyangkalan.

Dengan tingkat pengangguran yang sangat tinggi selama resesi terjadi, individu dan keluarga mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan baru untuk membayar tagihan setiap bulan. Ketidakmampuan tersebut bisa membuat seseorang frustrasi, ketakutan, depresi, dan bahkan dapat menyebabkan lebih banyak masalah.

Dalam resesi, ketidaksetaraan dan kemiskinan relatif juga akan semakin memburuk. Ini terjadi karena adanya pengangguran yang menjadi penyebab utama kemiskinan baru.

2. Penurunan Upah

Efek selanjutnya dari adanya resesi ialah penurunan tingkat upah yang menjadi lebih rendah. Pada saat resesi, perusahaan juga akan mencoba menekan biaya produksi dengan membuat biaya upah pekerja tetap rendah.

Beberapa pekerja (terutama pekerja sementara tanpa kontrak bisa saja mengalami pemotongan upah). Selain penurunan upah, resesi juga berimbas pada kenaikan biaya hidup. Seperti pajak yang turut naik dan harga-harga bahan pokok semakin melambung tinggi.

Penyebab lainnya dari upah yang lebih rendah ialah waktu kerja yang berkurang. Beberapa pekerja mungkin mempertahankan pekerjaan mereka, tetapi jam kerja mereka menjadi berkurang. Dibanding bekerja penuh waktu, mereka memilih menjadi pekerja paruh waktu (misalnya. 20 jam seminggu).

Hal ini berarti bahwa kenaikan pengangguran dapat diredam, namun banyak pekerja melihat penurunan pendapatan secara signifikan. Wiraswasta juga sangat rentan mengalami imbas negatif dari adanya resesi.

Dalam penurunan tingkat ekonomi, para wiraswasta sangat mungkin mengalami kekurangan arus kas dengan sangat cepat dan berjuang cukup pelik untuk bisa memenuhi kebutuhan.

3. Meningkatkan Utang Pemerintah

Dari sisi pemerintah, akibat dari menurunnya upah para pekerja maka berimbas menurunnya pendapatan pajak sebagai bagian dari resesi. Penghasilan laba dari perusahaan juga menurun bahkan banyaknyang merugi, karenanya pendapatan pajak korporasi juga turut menurun sangat signifikan.

Meningkatnya pengeluaran pemerintah untuk pembayaran kesejahteraan rakyat, seperti tunjangan pengangguran, tunjangan perumahan dan dukungan pendapatan lainnya juga menambah daftar panjang imbas dari resesi. Karena penurunan pendapatan pajak dan meningkatnya pembayaran kesejahteraan, resesi cenderung menyebabkan defisit anggaran belanja pemerintah semakin meningkat.

Di banyak negara defisit anggaran yang meningkat secara tajam paska krisis di tahun 2008 karena mengandalkan pendapatan pajak dari properti dan sektor keuangan. Jatuhnya pasar properti memukul pendapatan pajak cukup keras dan mengakibatkan penerimaan PPN cenderung menurun.

Defisit anggaran juga dapat meningkat karena pemerintah memutuskan untuk melakukan kebijakan fiskal yang ekspansif. Serta berupaya merangsang kegiatan ekonomi. Sebagai contoh, pada tahun 2010, pemerintah Inggris melakukan pemotongan PPN.

4. Penurunan Harga Aset dan Saham

Dalam resesi global, cenderung terjadi penurunan harga minyak karena permintaan yang turun. Coronavirus 2020 menyebabkan harga minyak dan juga saham mengalami penurunan yang cukup tajam. Ini merupakan indikasi sejauh mana para analis memperkirakan resesi akan berkurang.

Turunnya harga aset berkontribusi pada adanya spiral ekonomi yang juga mengalami penurunan. Hal ini menciptakan efek buruk pada kekayaan, bahkan membuat kepercayaan diri berkurang hingga menyebabkan menurunkan daya beli. Termasuk harga aset di tahun ini juga akan mengalami penurunan secara signifikan.

Selain aset berharga seperti rumah dan properti lainnya, resesi juga berimbas pada penurunan harga saham. Hal ini pun juga membuat dividen merosot, atau bahkan hilang seluruhnya. Pemegang saham perusahaan mungkin akan melakukan gugatan untuk merombak dan mengajukan penggantian pimpinan baru pada perusahaan.

Ketika saham pabrikan jatuh dan dividen menurun atau terhenti, investor institusional yang memegang saham tersebut dapat menjual dan menginvestasikan kembali hasilnya ke dalam saham yang memiliki kinerja lebih baik. Ini selanjutnya akan membuat harga saham perusahaan merosot. Aksi jual dan penurunan bisnis juga akan berdampak pada kontribusi pemberi kerja terhadap rencana bagi hasil atau rencana pemberian manfaat pensiun pada karyawannya.

5. Imbas pada Perusahaan

Perusahaan akan mengalami penurunan permintaan sehingga pada pendapatan laba yang menjadi lebih rendah. Beberapa perusahaan mungkin akan mulai merugi, bangkrut dan akhirnya gulung tikar. Ini bisa terjadi pada banyak perusahaan maupun pengusaha bisnis yang tak dapat segera melakukan efisiensi pada bisnisnya.

Resesi akan memukul beberapa perusahaan lebih dari yang lain. Dalam resesi, ada penurunan besar pada permintaan untuk barang mewah, mobil sport top-end dan perusahaan-perusahaan atau bisnis ini akan jauh lebih rentan terkena imbasnya.

Jika sebuah perusahaan memiliki cadangan besar maka ia akan dapat keluar dari resesi bahkan jika itu membuat kerugian sementara. Resesi dapat menyebabkan perusahaan melakukan perang harga dan pemotongan biaya produksi. Berikut penjelasannya.

  • Perang Harga

Perusahaan sering berusaha untuk menggantungkan diri pada pangsa pasar. Ini mengarah pada pemotongan harga secara agresif, yang selanjutnya mengurangi profitabilitas bisnis.

  • Pemotongan Biaya Produksi

Dampak menurunnya profitabilitas akan membuat perusahaan dipaksa untuk melakukan efisiensi dengan pengurangan biaya produksi. Bahkan mungkin akan menutup area bisnis yang kurang memberikan keuntungan. Perusahaan mungkin terpaksa akan memberhentikan para pekerjanya dalam upaya untuk mengurangi biaya produksi.

6. Efek Buruk pada Pekerja

Pengangguran dapat memberikan dampak negatif yang bertahan cukup lama. Pertama, pengangguran bisa meningkatkan stres dan dapat merusak moral orang tersebut, hingga berpengaruh pada kesehatannya.

Daerah dengan tingkat pengangguran yang tinggi cenderung mengalami lebih banyak masalah sosial. Pengangguran yang tinggi dapat menjadi faktor dalam menciptakan ketidakstabilan sosial, yang mengarah ke masalah seperti kerusuhan dan vandalisme. Pengangguran massal bahkan dapat mengancam tatanan sosial di sebuah negara.

Seorang pengangguran akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keterampilan dan pelatihan di tempat kerja. Menjadi pengangguran dalam jangka panjang dapat mempersulit seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di masa depan.

Bahkan dapat menyebabkan seseorang menyerah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Selanjutnya, efek negatif dari resesi bisa mengakibatkan seorang pengangguran depresi berkepanjangan yang memicu tindakan tidak masuk akan seperti bunuh diri.

7. Mengubah Cara Pemasaran

Kerap dipandang sebagai barang mewah bagi perusahaan, pemasaran sering kali menjadi salah satu kegiatan pertama yang harus dilakukan efisiensi ketika bisnis mengalami masalah anggaran.

Khususnya di perusahaan yang memiliki basis pelanggan yang mapan atau produk unik yang tak memiliki banyak kompetitor.  Bisnis seperti ini dimungkinkan untuk dikelola tanpa adanya pemasaran atau iklan selama beberapa bulan pada suatu waktu.

Ini mungkin merugikan dalam jangka panjang karena tidak ada pelanggan baru yang datang. Efek riak dari hal ini ialah bahwa media periklanan dapat menaikkan suku bunga agar bisa menutupi biaya produksi mereka dalam ketiadaan bisnis yang cukup.

Sehingga menjadikannya semakin sulit untuk bisnis atau perusahaan kecil untuk melanjutkan pemasaran pada saat ekonomi mulai membaik. Banyak usaha kecil yang mulai mengatasi hal ini dengan menemukan teknik pemasaran baru yang lebih kreatif dan tak membutuhkan biaya yang besar untuk bisa mengimplementasikannya.

8. Terjadi Gangguan Kredit

Salah satu dampak resesi bisa berimbas cukup besar pada bisnis, sehingga cenderung membuat kondisi kredit terganggu. Di awal resesi, suku bunga mungkin akan mengalami kenaikan pada awalnya, kemudian turun ketika keadaan terlihat mulai membaik. Namun, di sepanjang resesi, untuk pinjaman di pasar cenderung menjadi lebih ketat, dan pemberi pinjaman akan lebih selektif karena melihat risiko yang cukup tinggi.

Bahkan bisnis besar mungkin akan menghadapi kesulitan untuk bisa mengatasi utangnya. Ini karena sebagian besar bisnis bergantung pada dana pinjaman untuk membiayai operasional yang sedang berlangsung. Resesi juga akan meredam piutang perusahaan serta meningkatkan masalah likuiditas yang berdampak pada konsumen dan bisnis di seluruh supplay chain.

Pelanggan yang berutang pada perusahaan akan melakukan pembayaran lebih lambat, atau bahkan tidak membayar sama sekali. Kemudian, dengan pendapatan yang berkurang, perusahaan yang terkena dampak yang membuatnya mengalami keterlambatan pembayaran tagihannya sendiri.

Mengalami keterlambatan pembayaran atau tertunggak akan membuat penilaian hutang, obligasi, dan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan pendanaan menjadi berkurang. Kemampuan perusahaan untuk melunasi utangnya juga dapat mengalami penurunan, sehingga mengakibatkan gagal bayar pada obligasi dan utang lainnya. Sehingga akan semakin merusak peringkat kredit sebuah perusahaan maupun individu.

9. Kualitas Produk dan Layanan Menurun

Aspek sekunder dari barang dan jasa yang diproduksi oleh produsen yang terkena dampak resesi juga mungkin akan sangat menderita. Dalam upaya untuk mengurangi biaya produksi agar bisa memperoleh laba, perusahaan akan mengurangi kualitas produksi dan juga layanannya.

Seperti maskapai penerbangan, misalnya, dapat menurunkan standar pelayanannya. Mereka mungkin memasang lebih banyak kursi di tiap pesawat, lebih lanjut hal ini akan membuat penumpang kurang nyaman. Atau, beberapa rute penerbangan yang sepi atau tidak menguntungkan akan ditutup sementara atau bahkam dihapuskan.

Resesi bisa saja datang dan pergi, beberapa kondisi justru akan semakin parah dan bertahan jauh lebih lama dibanding sebelumnya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa resesi akan berakhir, dan ketika hal tersebut terjadi, masa pemulihan ekonomi bisa dilakukan bersama.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa efek resesi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Apa Hubungan Inflasi dan Resesi?
Mengapa & Apa Efek Lehman Brothers Bangkrut
Apakah Penyebab Resesi?
Cara Menghasilkan Keuntungan Bisnis Di Masa Resesi
Apa Efek Ekonomi Melambat?
Isu Resesi Menyeruak Akibat Pandemi Corona, Ini 6 Tandanya!
Dampak Resesi Akibat Virus Corona Terhadap Perekonomian Indonesia
Memahami Sistem Barter dan Efek Penerapannya di Zaman Modern
Pekerjaan yang Masih Bisa Bertahan Ketika Resesi
Keuntungan / Dampak Positif dari Resesi


Bagikan Ke Teman Anda