Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa itu Rasio Profit Margin?

Tujuan utama dari perusahaan adalah memperoleh laba sebesar-besarnya. Segala usaha akan dilakukan untuk meningkatkan laba perusahaan tersebut. Dalam memonitoring laba yang didapat, ada suatu indikator yang bernama rasio profit margin. Rasio profit margin merupakan nilai perbandingan antara total penjualan perusahaan terhadap laba bersihnya. Rasio profit margin berguna untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba.

Soemarso (2002) membagi laba menjadi empat  jenis, diantaranya:

1. Laba kotor

Laba kotor merupakan jenis laba yang diperoleh dari perhitungan penjualan bersih dikurangi dengan harga pokok penjualan. Laba kotor bisa dimaksimalkan dengan cara meningkatkan penjualan serta penurunan biaya produksi.

2. Laba Operasi

Laba operasi memiliki nama lain yaitu laba usaha. Laba operasi diperoleh dari selisih nilai laba bruto dan biaya usaha, atau hasil penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan dan biaya operasi. Dengan kata lain, laba operasi adalah pendapatan bersih dari operasi yang dilakukan.

3. Laba Bersih

Laba bersih atau net income merupakan jenis laba yang diperoleh dari selisih lebih seluruh pendapatan dan keuntungan terhadap seluruh biaya dan kerugian. Laba bersih kemudian dbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Laba bersih sebelum pajak, yang diperoleh dari selisih lebih pendapatan dan keuntungan terhadap semua biaya dan kerugian sebelum dikurangi pajak.
  2. Laba bersih setelah pajak, yang diperoleh dari selisih lebih pendapatan atas biaya-biaya yang dibebankan setelah dikurangi pajak.

4. Laba ditahan

Laba ditahan diperoleh dengan cara menjumlahkan secara akumulatif laba bersih perusahaan dikurangi dengan distribusi laba.

Berkaitan dengan rasio profit margin, ada 3  jenis rasio profit margin, diantaranya:

1. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Margin laba kotor atau gross profit margin merupakan salah satu ukuran laba yang digunakan untuk menilai perbandingan antara laba kotor terhadap pendapatan yang dihasilkan dari penjualan. Ukuran laba ini juga digunakan untuk mengukur efisiensi perhitungan harga pokok atau biaya produksi. Semakin besar nilai margin laba kotor, maka semakin efisien kegiatan operasional suatu perusahaan, dan semakin kecil nilai margin laba kotor, maka semakin buruk biaya operasional perusahaan.

Rumus margin laba kotor adalah:

Gross Profit Margin = Laba Kotor / Total Pendapatan x 100%

Contoh Perhitungan:

PT. Dirga Dewantara pada tahun 2008 memperoleh laba kotor sebesar Rp 48.000.000. Sementara itu, total pendapatan yang diterima perusahaan tersebut sebesar Rp 55.000.000. Berpakah nilai gross profit margin PT. Dirga Dewantara?

Jawab:

Gross profit margin = Rp 48.000.000 / Rp 55.000.000 × 100%

Gross profit margin = 87%

2. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)

Berbeda dengan margin laba kotor, margin laba bersih atau net profit margin  merupakan ukuran perbandingan antara laba yang telah dikurangi pajak terhadap pendapatan yang dihasilkan dari penjualan. Semakin besar nlai net profit margin, maka semakin baik pula operasi suatu perusahaan.

Margin laba bersih didapatkan melalui rumus:

Contoh perhitungan:

Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak / Pendapatan Penjualan x 100%

Sebuah perusahaan memiliki nilai pendapatan penjualan bersih sebesar Rp 27.063.310.000, dan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 2.064.650.000. Berapa nilai margin laba bersih perusahaan tersebut?

Jawab:

Margin laba bersih = (laba bersih setelah pajak / pendapatan penjualan bersih) × 100%

Margin laba bersih = (Rp 2.064.650.000 / Rp 27.063.310.000) × 100%

Margin laba bersih = 7,63%

Margin laba bersih dari perusahaan tersebut bernilai kecil, maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa pengeluaran biaya operasional dari perusahaan dikatakan buruk.

3. Margin Laba Opersi (Operating Profit Margin)

Rasio margin laba operasi merupakan ukuran untuk menghtung seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba operasi dari penjualan bersih perusahaan. Laba operasi perusahaan merupakan laba bersih sebelum pajak dan bunga. Laba operasi juga biasa disebut dengan laba usaha.

Rasio margin laba operasi dapat dihitung dengan rumus:

Operating Profit Margin ­= Laba Bersih Sebelum Pajak dan Bunga / Penjualan Bersih × 100%

Contoh perhitungan:

Pada tahun 2018, PT. Setia Jalan mempunyai laba operasi sebesar Rp 7.939.401.000. di samping itu, penjualan bersih dari perusahaan sebesar Rp 36.484.030.000. Berapakah nilai operating profit margin perusahaan tersebut?

Jawab:

Operating profit margin ­= laba bersih sebelum pajak dan bunga / penjualan bersih × 100%

Operating profit margin ­= Rp 7.939.401.000 / Rp 36.484.030.000 × 100%

Operating profit margin ­= 21,76%

Selain tiga ukuran rasio profit margin tersbut, ada beberapa margin profitabilitas yang dapat menggambarkan nilai laba dari sebuah perusahaan. Margin-margin profitabilitas tersebut adalah:

1. Rasio Pengembalian Aset (Return on Assets Ratio)

Ukuran ini merupakan ukuran yang menggambarkan perbandingan laba yang diperoleh perusahaan dibanding dengan sumber daya atau total aset perusahaan. ukuran ini berguna untuk melihat efiseiensi perusahaan dalam mengelola asetnya.

Rumus untuk menghitung rasio pengembalian aset adalah:

ROA = Laba Bersih / Total Aset x 100

2. Rasio Pengembalian Ekuitas (Return on Equity Ratio)

Return on Equity Ratio atau ROE merupakan ukuran untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari investasi pemegang saham. Ukuran ini diukur melalui perbandingan antara laba bersih setelah pajak terhadap modal yang diinvestasikan pemegang saham perusahaan.

Rumus menghitung ROE adalah:

ROE = Laba Bersih Setelah Pajak / Ekuitas Pemegang Saham x 100

3. Pengembalian Modal yang Digunakan (Return on Capital Employed)

Return on Capital Employed atau ROCE merupakan ukuran yang mencerminkan efisiensi dan profitabilitas modal atau investasi. Ukuran ini didapat dari hasil menghitung keuntungan perusahaan terhadap modal yang dipakai. Nilai ROCE dihitung melalui rumus:

ROCE = Laba Sebelum Pajak dan Bunga / Modal Kerja x 100

Atau

ROCE = Laba Sebelum Pajak dan Total (Aset – Kewajiban) x 100

4. Return on Investment (ROI)

ROI meruakan ukuran untuk menunjukkan kemampuan suatu perusahaan menghasilkan keuntungan terhadap jumlah aktiva pada perusahaan. Ukuran ini didapatkan dengan cara menghitung perbandingan antara laba bersih setelah dikurangi pajak dengan total aktiva. Berikut ini rumusnya:

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu rasio profit margin, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Cara Menghitung Quick Ratio
Apa itu Variable Cost? Definisi Variable Cost
Apa itu Inventory Turn Over? Definisi Inventory Turn Over
Apa itu Rekonsiliasi Bank? Definisi Rekonsiliasi Bank
Apa Itu Depresiasi? Definisi Depresiasi
Apa itu Utang Jangka Pendek?
Apa itu Debt to Equity Ratio?
Apa Itu Utang Jangka Panjang?
Apa itu Price to Book Value?
Cara Menghitung Weighted Average Cost


Bagikan Ke Teman Anda