Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Apa Itu Risk Based Capital?

Peraturan Risk Based Capital modal berbasis risiko adalah aturan yang menetapkan minimum regulasi modal untuk lembaga keuangan. Risk Based Capital yang biasa disingkat dengan RBC ini dibuat untuk melindungi lembaga keuangan, para investornya, klien, dan sektor perekonomian secara umum.

Peraturan ini berisi persyaratan yang memastikan bahwa setiap lembaga keuangan punya modal yang cukup untuk bisa tetap beroperasi. Dengan begitu, meski lembaga keuangan mengalami kekurangan operasional, pasar tetap bisa ditangani dengan efisien dan perusahaan tetap aman. RBC bisa digunakan sebagai cadangan untuk melindungi perusahaan dari gagal bayar.

Perusahaan Apa yang Harus Menggunakan Risk Based Capital?

Semua perusahaan yang merupakan lembaga penyimpanan uang, perusahaan keuangan non bank, dan perusahaan saham. Perusahaan yang bergerak di bidang tersebut memiliki banyak nasabah dan investor. Agar para nasabah dan investor bisa menaruh kepercayaan kepada perusahaan, maka perlu diketahui sehat atau tidaknya kondisi finansial perusahaan tersebut.

RBC memang merupakan salah satu metode untuk mengukur kesehatan keuangan sebuah perusahaan. Meskipun bukan satu-satunya cara mutlak, tapi metode ini penting digunakan untuk ketiga jenis perusahaan di atas. Semakin besar nilainya, artinya kondisi keuangan perusahaan tersebut semakin sehat.

Hubungan Risk Based Capital dengan Perusahaan Asuransi

Apa hubungan RBC dengan perusahaan asuransi? Perusahaan asuransi pada dasarnya menginvestasikan pemasukan yang mereka dapat. Memang seperti inilah cara kerjanya agar uang berputar. Hanya saja, kalau sebuah perusahaan asuransi membuat investasi terlalu banyak, ini bisa berujung tidak baik. Kemungkinan perusahaan mengalami gagal bayar atau bangkrut pun terbuka.

Perusahaan asuransi umumnya memiliki banyak nasabah yang bergantung pada klaim asuransi. Karena itu sangat penting bagi perusahaan asuransi untuk mempunyai batas minimal RBC. Jumlah modal ini bisa didapat berdasarkan risiko aset perusahaan, risiko kredit, risiko ketidakseimbangan, dan risiko jaminan.

Perusahaan asuransi menjual produk berupa jaminan atas berbagai hal yang dijaminkan pemegang polis asuransi. Bisa asuransi kesehatan, pendidikan, ataupun harta benda. Bagaimana calon naabah bisa mempercayai asuransi tersebut mampu membayar? Salah satunya adalah dengan melihat kesehatan finansial perusahaan.

Sebuah perusahaan asuransi yang terbukti kondisi keuangannya sehat akan lebih dipercaya mampu membayar jaminan atau klaim asuransi nasabahnya. Ini berarti perusahaan asuransi tersebut memiliki modal dan aset yang cukup. Sehingga perusahaan tetap bisa menjalankan tanggung jawab mereka.

Apa Tujuan Risk Based Capital?

Secara keseluruhan, metode RBC digunakan untuk mengetahui sehat atau tidaknya kondisi keuangan suatu perusahaan. Selain itu, ada lagi kegunaan lain dari RBC. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa didapat dari metode RBC:

  • Untuk mengetahui kebutuhan modal sebuah perusahaan berdasarkan tingkat risiko yang dihadapi perusahaan dalam mengoperasikan aset dan kewajibannya.
  • Untuk mengukur kondisi kesehatan finansial sebuah perusahaan
  • Untuk mengurangi risiko perusahaan mengalami gagal bayar (kondisi pailit)
  • Untuk mengurangi risiko perusahaan mengalami kebangkrutan
  • Untuk membantu pemerintah mengukur nilai ekuitas
  • Sebagai cara untuk mengantisipasi masalah keuangan di masa datang
  • Sebagai data bagi publik untuk mengetahui lembaga keuangan atau perusahaan asuransi yang bisa dipercaya.

Peraturan Terkait dengan Risk Based Capital di Indonesia

Dengan begitu banyak lembaga yang bergerak dibidang keuangan di Indonesia, jelas RBC perlu untuk diatur. Misalnya pada perusahaan dibidang asuransi. Demi tujuan untuk melindungi para nasabah asuransi di Indonesia, sekaligus agar semakin banyak perusahaan asuransi yang tumbuh di Indonesia untuk menyeimbangkan sektor ekonomi, maka dibuatlah peraturan. Pada tanggal 7 Oktober 1999, Departemen Keuangan menetapkan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Keuangan No. 481/KMK/017/1999 tentang kesehatan perusahaan asuransi dan reasuransi.

Undang-undang ini kemudian diperbaharui di tahun 2003. Tepatnya adalah Keputusan Menteri Keuangan No.424/KMK.06/2003 tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi.

Selain Departemen Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memiliki ketentuan khusus yang berkaitan dengan RBC. Ini tercantum pada Peraturan OJK No. 71/POJK.05/2016. Berdasarkan aturan ini, RBC minimum jumlahnya sebesar 120%. Artinya, perusahaan harus memiliki aset sisa minimal sebesar 120% setelah memenuhi berbagai kewajiban mereka.

Bukan hanya menetapkan minimum RBC saja, OJK juga meminta perusahaan asuransi untuk meningkatkan RBC-nya bila perlu. Perusahaan asuransi juga wajib memenuhi RBC yang telah ditentukan. Jika perusahaan tidak memenuhinya, maka akan dilarang untuk membayar dividen atau memberi imbalan kepada para pemegang saham.

Selain itu, OJK juga mewajibkan perusahaan asuransi untuk melaporkan rasio RBC mereka kepada pemerintah secara berkala. Bila rasio perusahaan tersebut kurang dari 100%, maka akan dinyatakan mengalami kesulitan keuangan. Selain itu, perusahaan harus mengikuti upaya penyehatan kembali. OJK memperketat aturan ini agar perusahaan memprioritaskan pencapaian target dan menjamin kondisi keuangan mereka sehat.

Komponen Penting dalam Menghitung Risk Based Capital

Penetapan RBC dengan nilai sekian persen tidak dibuat secara asal-asalan. Melainkan didasarkan pada beberapa pertimbangan. Ada 4 komponen dalam penghitungan RBC. Keempatnya adalah:

  1. Gagal Aset (Asset Default)

Ini merupakan penghitungan jumlah modal yang diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya penurunan nilai aset dan/atau hilangnya pendapatan yang berhubungan dengan aset tersebut.

  1. Ketidaksesuaian Mata Uang (Currency Mismatch)

Ini adalah menghitung jumlah modal yang diperlukan untuk menagantisipasi risiko bila terjadi naik turun mata uang. Fluktusiasi mata uang bisa memicu jumlah kewajiban yang harus dibayar sebuah perusahaan.

  1. Jumlah Klaim Lebih Buruk dari Perkiraan (Claim Experience Worse Than Expected)

Yakni penghitungan jumlah modal apabila terjadi risiko jumlah klaim yang diperkirakan lebih banyak dari yang diajukan.

  1. Risiko Reasuransi (Reinsurance Risk)

Ini adalah tahap penghitungan modal terhadap risiko perusahaan mengalami gagal bayar.

Risk Based Capital tidak hanya bagus untuk pertumbuhan perusahaan yang bergerak dibidang keuangan, tetapi juga bagus dalam membangun kepercayaan dengan para konsumen.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu risk based capital, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Butuh Modal Cepat? Gadai BPKB Mobil Bisa Jadi Pilihan?
Cara Memulai Bisnis dengan Modal Dengkul
Macam Usaha Kuliner yang Menguntungkan dan Modal Kecil
Apa itu Capital Loss? Definisi Capital Loss
Jadi Freelance Luar Negeri Tanpa Modal
Resiko Investasi di Bidang Properti
Apakah Bisa Memulai Bisnis dengan Modal Dengkul?
Apa itu Basis Point?
Sejarah Dogecoin, Berawal dari Meme
10 Perbedaan Manager Vs Leader


Bagikan Ke Teman Anda