Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Bahaya Dari Deepfake

Kehidupan manusia modern saat ini didukung dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Segala sesuatu kini telah terkomputerisasi dan serba digital. Teknologi digital ini menciptakan berbagai perangkat lunak dan layanan yang mudah diakses untuk berbagai kepentingan.

Sayangnya, kecanggihan teknologi saat ini tak selalu memiliki dampak yang positif bagi kehidupan dan peradaban manusia. Bahkan, tak jarang kecanggihan teknologi justru menimbulkan masalah. Salah satunya adalah deepfake.

Apa itu deepfake?

Deepfake merupakan teknologi yang memungkinkan penyuntingan foto menjadi gambar bergerak sehingga tercipta suatu video yang menampilkan sang tokoh dalam foto hidup. Istilah deepfake gabungan dari dua kata deep yang artinya pembelajaran mendalam, dan fake yang berarti palsu. Teknologi deepfake adalah salah satu bentuk kecerdasan buatan.

Secara istilah, deepfake dipahami sebagai video palsu yang dibuat melalui pembelajaran mendalam, yang menjadi bagian dari AI (Artificial Intelligence), dan mengacu pada pengaturan algoritme yang dapat mempelajari serta membuat keputusan cerdas sendiri.

Teknologi deepfake pada awalnya ditujukan untuk menggantikan tokoh nyata yang tidak bisa hadir dalam suatu acara atau pembuatan film. Tak hanya itu, deepfake juga digunakan sebagai hiburan. Namun seiring dengan kepopulerannya, penggunaan deepfake menjadi semakin luas, bahkan untuk hal-hal yang negatif dan merugikan pihak-pihak tertentu.

Cara Kerja Deepfake

Deepfake sebagai sistem pembelajaran mendalam dapat menghasilkan gambar bergerak atau video palsu persuasif. Teknologi ini mempelajari foto dan video seseorang yang menjadi sasaran dari berbagai sudut, kemudian meniru perilaku dan pola bicaranya. Model pembelajaran yang menghasilkan pemalsuan persuasif ini dikenal sebagai GAN (Generative Adversarial Networks) atau jaringan permusuhan generatif.

GAN berupaya mendeteksi kekurangan dalam pemalsuan, yang mengarah pada perbaikan atas kekurangan tersebut. Jaringan ini bekerja ketika model generator berlatih pada kumpulan data dan membuat konten palsu. Model generator mencoba mendeteksi segala sesuatu yang tidak nyata dan belajar serta mengolahnya sedemikian rupa sehingga menghasilkan konten yang tampak semakin realistis.

Bahaya dari Video Deepfake

Meski awalnya, teknologi deepfake dibuat untuk tujuan penelitian dan menghasilkan video sebagai hiburan saja, namun tanpa disangka kini justru menimbulkan banyak masalah, sehingga berbahaya. Teknologi deepfake justru digunakan untuk menyebarkan berita palsu (hoax) bahkan menyerang orang-orang yang menjadi lawan baik dalam bisnis maupun politik. Sebab itu, deepfake dinilai berbahaya karena berisiko merugikan pihak-pihak yang dijadikan ‘objek’ dalam pemalsuan konten video yang dianggap sebagai fakta. Adapun bahaya dari deepfake sebagai berikut.

  • Bisa dijadikan sebagai barang bukti di pengadilan

Seseorang berseteru dengan orang lain dengan berbagai sebab merupakan hal yang biasa, karena tak semua orang memiliki pendapat, pola pikir, dan keinginan yang sama. Ketika terjadi pertentangan sehingga timbul perselisihan, hal tersebut umum terjadi baik di lingkungan sosial, kerja profesional, bisnis, politik, dan lainnya. Bahkan perselisihan tak hanya selesai dengan adu mulut atau fisik saja, tetapi ada juga yang sampai ke ranah hukum.

Ketika dua orang berseteru dan berurusan dengan hukum, tentu masing-masing pihak akan mengajukan bukti yang menunjukkan kesalahan lawan untuk melemahkan posisi lawan di mata hukum. Parahnya, video deepfake yang memuat konten palsu pun bisa diajukan sebagai bukti di pengadilan.

Video deepfake bisa dibuat untuk menunjukkan adanya ancaman atau apa pun yang terkesan menyudutkan lawan. Sebagai bukti di persidangan, hakim atau profesional hukum lainnya dapat menegaskan bahwa mereka melihat seseorang di layar dalam video dan mendengarnya, sehingga rekaman tersebut seolah menjadi lebih autentik, padahal palsu. Sebab itu, deepfake bisa mengakibatkan orang yang tidak bersalah dijebloskan ke dalam penjara.

  • Bisa merusak reputasi seseorang

Reputasi bagi kebanyakan orang sangatlah penting, apalagi mereka yang merupakan tokoh-tokoh yang dikenal masyarakat atau public figure. Banyaknya beredar video-video palsu yang diolah dengan teknologi deepfake mendorong banyak orang atau perusahaan yang mengkhususkan diri membuat video klarifikasi sebagai sanggahan atas video-video tersebut.

Deepfake lebih banyak disalahgunakan untuk merusak reputasi seseorang. Hal ini dilakukan oleh banyak kalangan untuk menjatuhkan wibawa dan merusak nama baik orang yang dianggap pesaing atau ‘musuhnya’. Misalnya saja para selebriti, tokoh politik, pengusaha sukses, dan lain sebagainya.

Tujuannya adalah menjegal langkah para pihak tersebut agar tidak mencapai kesuksesan. Caranya adalah menyebar video palsu dengan konten bohong dari tokoh yang bersangkutan. Dengan begitu, publik akan berpikir bahwa para tokoh tersebut tidak sebaik yang mereka pikirkan selama ini. Akhirnya, publik tak lagi mempercayai tokoh yang menjadi korban dari deepfake ini.

Teknologi deepfake sangat efektif untuk merusak reputasi seseorang. Sebab publik sering kali mudah percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya, tanpa memverifikasi keakuratan dan kebenarannya. Publik seolah mudah ‘memakan’ umpan hoax dalam bentuk video palsu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan dan dikatakan oleh ‘korban’ dalam kehidupan nyata.

  • Video deepfake sulit dideteksi

Saking miripnya gaya bicara dan suaranya, banyak yang tidak bisa membedakan apakah video yang beredar itu asli atau palsu. Sebab, memang video deepfake sulit untuk dideteksi. Inilah yang mengkhawatirkan dari teknologi deepfake.

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini banyak beredar video palsu dari beberapa tokoh dunia yang diduga sebagai konten deepfake. Video-video tersebut merupakan konten palsu yang diolah sedemikian rupa, yang seakan-akan memang dilakukan oleh tokoh dalam video tersebut.

Publik yang melihatnya tentu akan percaya bahwa video tersebut asli, padahal tidaklah demikian. Bahkan ketika ‘korban’ membantah bahwa konten video deepfake tersebut tidaklah benar, namun publik kadung percaya dengan video yang dilihatnya. Inilah bahaya dari deepfake, karena memang keaslian dan akurasinya sulit untuk dideteksi.

  • Disalahgunakan untuk melakukan penipuan

Konten deepfake tak hanya berupa video saja, tetapi juga audio, di mana seseorang membuat rekaman suara dari tokoh-tokoh penting untuk melakukan penipuan. Hal ini menjadi metode penipuan yang paling menonjol.

Jika dulu penipu berusaha membujuk karyawan organisasi dengan email palsu untuk mentransfer sejumlah uang, kini penipuan dilakukan dengan melakukan panggilan di saluran telepon dengan suara yang terdengar sama dengan pimpinan perusahaan.

Modus penipuan dengan panggilan suara palsu tak hanya menyasar karyawan perusahaan saja, tetapi juga perorangan. Korban penipuan ditelepon seseorang yang mengaku sebagai salah satu anggota keluarganya dengan suara yang terdengar sama, sehingga si korban tidak menyadari bahwa itu hanyalah panggilan palsu.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang apa itu deepfake, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Contoh Crowdfunding: Pesawat R80 Rancangan Habibie
Trend Teknologi Tahun 2018? Ini Prediksinya!
Review Aplikasi Trello
Apa Itu Cryptoart?
Bagaimana Cara Mencegah Cyber Bullying?
Trend Digital Marketing Tahun 2019
9 Hal yang Harus Dimiliki Founder Startup Berbasis Teknologi
Trend Teknologi 2019 Menurut Para Pakar
Apa itu DuckDuckGo?
Apa Perbedaan Crowdsourcing vs Crowdfunding?


Bagikan Ke Teman Anda