Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Perbedaan Antara Investasi Aktif Dengan Pasif

Investasi sebaiknya dilakukan sejak dini, agar kemandirian finansial di masa depan dapat dicapai secara terstruktur dan terencana. Berinvestasi tak harus menunggu tua. Meski Anda masih muda tetapi memiliki kemampuan finansial yang memadai, tidak ada salahnya berinvestasi.

Pada prinsipnya investasi adalah memanfaatkan dana atau modal yang dimiliki untuk ditempatkan pada suatu kegiatan usaha lain yang bertujuan untuk memperoleh passive income atau penghasilan tambahan. Sebab itu, syarat utama untuk melakukan investasi adalah kepemilikan dana atau modal.

Ada banyak jenis investasi yang bisa dipilih. Sebut saja saham, obligasi, sertifikat deposito, reksa dana, dan lain sebagainya. Namun, sebelum memutuskan untuk menempatkan modal yang dimiliki pada salah satu jenis investasi, ada baiknya jika Anda mengetahui strategi investasi yang digunakan.

Bicara tentang strategi investasi, terdapat dua strategi yang umum digunakan, yaitu investasi aktif dan pasif. Kedua strategi investasi ini lebih mengarah pada pendekatan atau metode yang digunakan dalam pengelolaan dana investasi.

Definisi investasi aktif dan investasi pasif

  • Investasi aktif

Investasi aktif merupakan strategi investasi yang menggunakan pendekatan langsung yang mengharuskan investor bertindak sebagai seorang manajer portofolio. Tujuan utama dari strategi investasi aktif ini adalah untuk mengalahkan tingkat pengembalian rata-rata pasar saham dan memanfaatkan fluktuasi harga jangka pendek guna mencapai keuntungan penuh.

Strategi investasi aktif membutuhkan kemampuan untuk menganalisis secara mendalam dan keahlian mengetahui waktu yang tepat untuk membeli atau melepas aset, baik dalam bentuk saham, obligasi, atau yang lainnya. Sebagai pengelola dana investasi, seorang manajer portofolio melakukan fungsi pengawasan terhadap tim analisnya dalam melihat faktor kualitatif dan kuantitatif. Tak hanya itu, manajer portofolio juga menentukan kapan dan dimana harga akan mengalami perubahan.

Dalam pendekatan strategi investasi aktif, investor harus memiliki keyakinan dan kemampuan melihat situasi dan perubahan pasar sehingga bisa mengetahui waktu yang tepat untuk membeli atau menjual aset dalam bentu surat berharga. Oleh sebab itu, seorang manajer investasi aktif yang sukses harus mampu mengambil keputusan yang benar dan tepat serta meminimalisir kesalahan.

Sesuai dengan namanya, strategi investasi aktif ini sangat agresif. Manajer portofolio dari pendekatan strategi ini akan mendapatkan informasi dan masukan dari tim analisnya yang masing-masing memiliki spesialisasi di sektor yang berbeda. Strategi ini secara khusus mencatat nilai, pertumbuhan, profitabilitas, dan karakteristik hasil suatu saham. Segenap pihak yang terlibat, baik investor maupun manajer portofolio beserta tim analisnya akan mempelajari lingkungan kompetitif dan pasar yang menjadi target operasi perusahaan. Tak hanya itu, faktor-faktor ekonomi makro yang dapat mempengaruhi perusahaan pun tak lepas dari pantauannya.

Pendekatan yang digunakan untuk mencapai tujuan investasi aktif ini sering kali sulit untuk diukur atau divalidasi dengan bukti empiris. Oleh sebab itu, strategi investasi aktif lebih sering dikaitkan dengan individu kunci. Artinya, investor cenderung lebih mempercayai manajer portofolio yang memiliki reputasi dan kinerja yang baik, dibandingkan dengan proses atau pendekatan yang dilakukan.

Dana investasi yang dikelola secara aktif umumnya dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama, reksa dana yang dikelola secara aktif dipasarkan ke investor ritel. Kedua, dana terpisah yang dipasarkan ke individu-individu dengan banyak aset dan institusi kecil. Ketiga, dana pensiun pada lembaga besar yang mempekerjakan manajer aktif untuk mengelola dana internal.

  • Investasi pasif

Investasi pasif merupakan suatu strategi investasi yang diterapkan dengan membatasi jumlah perputaran dana. Strategi ini cocok untuk diterapkan oleh investor yang ingin berinvestasi dalam jangka panjang. Investor pasif akan membatasi jumlah pembelian dan penjualan dalam portofolionya. Meski tampak sederhana, namun strategi ini membutuhkan mentalitas yang kuat dalam membeli dan menahan portofolio. Artinya, investor harus mampu menahan godaan untuk bereaksi terhadap situasi dan perubahan pasar yang berpengaruh pada pasar saham.

Pendekatan pasif dalam berinvestasi dapat dicontohkan dengan pembelian reksa dana indeks yang mengikuti salah satu indeks utama, seperti IDX30 atau LQ45. Setiap kali terjadi peralihan konstituen, reksa dana indeks secara otomatis akan mengikutinya dengan menjual saham yang keluar dan membeli saham yang menjadi bagian dari indeks.

Sebagai investor pasif, jika Anda memiliki ribuan lembar saham dengan nilai yang kecil, maka Anda hanya akan mendapatkan pengembalian dengan ikut berpartisipasi dalam lintasan kenaikan laba perusahaan dari waktu ke waktu melalui pasar saham secara menyeluruh. Seorang investor pasif yang sukses akan lebih memperhatikan keuntungan jangka panjang dibandingkan kerugian atau bahkan penurunan tajam dalam jangka pendek.

Dana yang dikelola secara pasif disebut dengan dana indeks. Sementara dana indeks pertama adalah reksa dana. Strategi investasi pasif bergantung pada reputasi atau kinerja saham itu sendiri. Ketika dalam suatu indeks terdapat saham yang memiliki kinerja baik, maka bobotnya dalam investasi akan tumbuh. Sebaliknya, apabila kinerja saham buruk, maka akan berdampak pada menurunnya kinerja investasi.

Perbedaan antara investasi aktif dengan investasi pasif

Dari namanya jelas investasi aktif berbeda dengan investasi pasif. Perbedaan ini tentu tak hanya sekadar dari istilah saja, tetapi juga tujuan dan pendekatannya. Secara prinsip perbedaan investasi aktif dengan investasi pasif tampak dari kekuatan dan kelemahan dari masing-masing strategi investasi tersebut.

Berdasarkan kekuatan dan kelemahan dari investasi aktif dan pasif, perbedaan keduanya ditunjukkan dalam beberapa aspek berikut.

  • Fleksibilitas

Dari aspek fleksibilitas dalam berinvestasi, investasi aktif cenderung lebih fleksibel dibandingkan dengan investasi pasif. Investor atau manajer portofolio aktif memiliki keleluasaan dalam berinvestasi. Artinya, dalam strategi investasi aktif, investor atau manajer portofolio tidak dibatasi ruang geraknya untuk mengikuti indeks tertentu. Mereka dapat membeli dan melepas saham kapan saja secara bebas. Selama mereka meyakini bahwa suatu saham mengalami pertumbuhan dan memiliki kinerja yang baik, maka mereka bebas untuk membeli saham tersebut. Terkait dengan hal tersebut, investasi aktif melibatkan beragam strategi atau pendekatan mulai dari derivatif, lindung nilai, leverage, arbitrase, dan lain sebagainya.

Lain halnya dengan strategi investasi pasif. Fleksibilitas investasi pasif cenderung rendah. Sebab, strategi investasi pasif terbatas pada indeks tertentu atau serangkaian investasi yang telah ditentukan. Strategi investasi ini melibatkan pembelian dan penjualan yang didasarkan pada perubahan dalam komposisi indeks. Tak heran jika strategi investasi pasif kerap mengalami volativitas pasar karena keterbatasan penggunaan strategi. Investor pasif terbelenggu dalam kepemilikan portofolio jangka panjang, sehingga tidak reaktif terhadap segala perubahan yang terjadi di pasar.

  • Perlindungan investasi

Perlindungan investasi disebut juga dengan istilah hedging, yakni strategi untuk membatasi atau melindungi dana investasi dari fluktuasi nilai tukar mata uang yang dinilai tidak menguntungkan. Sebagai strategi, hedging memberikan peluang kepada investor atau manajer portofolio untuk melindungi modal dari kemungkinan kerugian (loss) meski di saat transaksi sedang berlangsung.

Dilihat dari sisi perlindungan investasi atau hedging, investasi aktif cenderung lebih protektif dibandingkan dengan investasi pasif. Seorang investor atau manajer aktif dapat melakukan lindung nilai terhadap investasi mereka dengan menggunakan berbagai teknik seperti penjualan pendek atau opsi put. Selain itu, mereka juga dapat keluar dari saham atau sektor tertentu yang diketahui memiliki risiko terlalu besar.

Sementara investasi pasif tidaklah demikian. Perlindungan investasi pasif cenderung rendah, karena investor atau manajer pasif terjebak dalam saham yang dilacak oleh indeks, tanpa mempertimbangkan apalagi mengevaluasi kinerjanya.

  • Tingkat pengembalian

Dari aspek tingkat pengembalian, investasi aktif lebih tinggi daripada investasi pasif. Tujuan utama dari investasi aktif adalah mengalahkan kinerja pasar, sehingga berfokus pada pengembalian absolut. Dengan keleluasaan strategi, investor atau manajer aktif dapat memperoleh pengembalian yang tinggi.

Investasi pasif memiliki tingkat pengembalian yang rendah atau kecil. Hal ini dipengaruhi oleh tujuan investasi pasif yakni untuk menyesuaikan dengan kinerja pasar atau indeks terlacak. Artinya, investasi pasif tidak akan pernah mengalahkah pasar, karena kepemilikan terkunci dari pelacakan pasar. Meski terkadang investasi pasif dapat mengalahkan pasar, namun hal tersebut tidak pernah menghasilkan keuntungan besar seperti yang diinginkan oleh investor atau manajer aktif.

  • Manajemen pajak

Satu hal yang menjadi tujuan dalam berinvestasi adalah untuk mendapatkan keuntungan modal atau yang disebut dengan capital gain. Capital gain merupakan keuntungan yang diperoleh dalam berinvestasi, di mana aset modal memiliki harga jual yang lebih tinggi dari harga belinya.

Strategi investasi aktif berpotensi memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi. Hal ini pun dapat memicu pajak capital gain. Meskipun demikian, investor atau manajer aktif dapat menyesuaikan strategi manajemen pajak, misalnya dengan menjual investasi yang berisiko rugi atau tidak mengalami pertumbuhan sebagai akibat kinerjanya yang kurang baik. Langkah ini bisa dilakukan untuk mengimbangi pajak.

Berbeda dengan investasi pasif. Pada strategi investasi ini justru bisa mencapai efisiensi pajak, karena strategi pembelian dan tahan untuk tidak melepas atau menjual saham umumnya tidak menghasilkan pajak capital gain.

  • Biaya operasional

Strategi investasi aktif menciptakan biaya operasional yang tinggi atau mahal. Hal ini disebabkan oleh aktivitas pembelian dan penjualan sekuritas secara aktif memicu biaya transaksi. Tak hanya itu, investasi aktif juga menanggung beban biaya berupa upah atau gaji tim analis yang melakukan penelitian dan pemilihan ekuitas. Tingginya biaya investasi ini justru berisiko mengikis tingkat keuntungan atau pengembalian.

Sementara strategi investasi pasif cenderung berbiaya rendah dalam operasionalnya. Sebab, dalam penerapan strategi investasi ini tidak ada tim analis yang bekerja menganalisis dan mengevaluasi pergerakan sekuritas, sehingga biaya pengawasannya jauh lebih murah. Dalam operasionalnya, investasi pasif hanya cukup mengikuti indeks yang digunakan sebagai patokan.

  • Frekuensi transaksi

Aktivitas jual beli sekuritas dalam investasi aktif jelas lebih sering dilakukan dibandingkan investasi pasif. Oleh sebab itu, frekuensi transaksi pada investasi aktif lebih tinggi dari investasi pasif. Peralihan kepemilihan pada investasi pasif didasarkan pada perubahan dalam komposisi indeks.

  • Jangka investasi

Investasi aktif menyasar kinerja pasar untuk bisa dikalahkan. Artinya, investasi aktif beroperasi atas dasar pergerakan pasar saham. Investor atau manajer aktif tidak bisa lepas dari mekanisme pasar sehingga mereka membutuhkan informasi terkait dengan kondisi pasar dan perubahannya setiap saat. Atas kondisi pasar yang terus mengalami perubahan, investasi aktif cenderung mengambil keuntungan dari fluktuasi harga jangka pendek. Harga yang berfluktuasi ini sangat berpengaruh pada tingkat pengembalian dan juga keputusan aktivitas beli atau lepas sekuritas dalam investasi aktif.

Berbeda halnya dengan investasi pasif yang mengabaikan fluktuasi jangka pendek. Aktivitas investasi pasif lebih ditekankan pada investasi jangka panjang. Oleh sebab itu, investor atau manajer pasif cenderung tidak terlalu banyak bekerja, karena hanya berpatokan pada indeks saja. Selain itu, investasi pasif tidak terlalu dipengaruhi oleh pergerakan atau perubahan pasar saham.

  • Keahlian yang dibutuhkan

Agar strategi investasi aktif mampu mencapai sasaran dan menghasilkan tingkat pengembalian tinggi sebagaimana yang diharapkan, dibutuhkan keterampilan dan keahlian yang memadai dalam menganalisis pasar saham. Mulai dari pergerakan harga hingga penentuan keputusan yang tepat untuk membeli sekuritas yang menguntungkan atau melepas sekuritas yang berisiko menimbulkan kerugian. Untuk bermain dalam investasi aktif, investor atau manajer portofolio harus memiliki keterampilan yang unggul dalam mengidentifikasi perbedaan harga, peluang arbitrase, penilaian fundamental atau teknis dari saham, dan lain sebagainya. Dengan berbagai keterampilan tersebut, investor atau manajer aktif dapat mengambil keputusan yang tepat kapan harus membeli atau melepas saham.

Tak serumit investasi aktif, untuk menerapkan strategi investasi pasif tidak dibutuhkan keterampilan dan keahlian yang mendalam tentang cara berinvestasi. Bahkan, bagi investor pemula yang belum berpengalaman dan tidak memiliki dasar ilmu di bidang investasi pun bisa memainkannya. Dalam strategi investasi pasif umumnya hanya membutuhkan sedikit pengambilan keputusan, dan itu pun dilakukan oleh seorang manajer investasi.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang perbedaan antara investasi aktif dengan pasif, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Bayar Hutang atau Investasi, Mana yang Harus Didahulukan?
Kesalahan Umum Dalam Investasi Cryptocurrency
Perbedaan Konsolidasi, Merger, dan Akuisisi
Apa Itu Margin Trading?
Apa Perbedaan MBA vs Eksekutif MBA?
Apa itu Akad Wakalah/Sukuk Wakalah?
Apa Perbedaan Reseller vs Dropshipper?
Waspada Investasi Bodong GCG Asia
Tips Menghindari Penipuan Investasi
Apa itu SBR007?


Bagikan Ke Teman Anda