Kami menyediakan berbagai simulasi kredit, dari kredit mobil, kredit rumah, kpr, kartu kredit dan lain-lain. Simulasi pinjaman bisa juga dilakukan di sini.

Cara Agar Selamat Dari Jurang Resesi

Tak ada satu pun negara yang menginginkan terjadinya resesi ekonomi. Semua otoritas negara pasti berharap dan berupaya semaksimal mungkin agar perekonomiannya mengalami pertumbuhan yang positif. Namun banyak faktor yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi suatu negara terpuruk sehingga masuk dalam jurang resesi.

Tingkat utang yang tinggi, pasar yang berfluktuasi, dan harga minyak dunia yang turun drastis merupakan beberapa faktor yang turut berperan dalam kemorosotan ekonomi. Apalagi kondisi saat ini, di mana perekonomian dunia mengalami guncangan yang cukup hebat akibat terjadinya ‘bencana non-alam’ penyebaran virus corona jenis Covid-19.

Akibat virus corona, banyak negara yang berada di tepian jurang resesi yang sewaktu-waktu bisa tergelincir dan jatuh ke dalamnya. Sebut saja Australia, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Jika tidak segera diambil kebijakan solutif yang mampu memutar kembali roda perekonomian, maka kondisinya akan menjadi lebih buruk.

Resesi ekonomi sayangnya bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan dengan mudah, bahkan bisa dibilang terjadinya di luar kuasa setiap pemegang otoritas negara. Ketika resesi terjadi, imbasnya tak hanya secara nasional saja, tetapi juga domestik individu dan rumah tangga. Jika salah dalam mengelola finansial, maka keadaan akan menjadi lebih buruk, karena tidak akan bisa bertahan dari resesi.

Meski tak bisa mengendalikan resesi, namun Anda kita dapat merespon dan mempersiapkan diri dengan mengambil tindakan pencegahan guna melindungi keuangan Anda dari krisis yang melanda. Tak hanya bertahan, Anda juga bisa selamat dari jurang resesi. Berikut caranya.

  • Membangun dana darurat

Dana darurat adalah uang yang ditabung dengan tujuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari selama keuangan sedang sulit. Kesulitan keuangan ini dipicu oleh kondisi ekonomi yang mulai tidak stabil dan cenderung menurun, di mana pekerjaan dan pendapatan bisa saja terancam.

Ketika masa-masa sulit itu datang, apa yang terjadi jika Anda tidak memiliki dana darurat? Tentu saja keuangan yang memburuk, dan semakin parah apabila Anda kehilangan pekerjaan atau bisnis Anda tidak menghasilkan uang, praktis tidak akan ada pendapatan yang bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Dana darurat berfungsi sebagai jaring pengaman yang membantu Anda mengarungi ombak dan keluar dari resesi serta kembali berdiri dengan tegak.

Bagaimana membangun dana darurat? Cobalah dengan menabung sekitar tiga hingga enam bulan gaji Anda, sehingga ketika kondisi ekonomi menurun, Anda telah memiliki saldo cukup tanpa perlu beralih ke utang. Ingat bahwa menggunakan utang sebagai jaring pengaman adalah keputusan yang salah, karena bisa berimbas pada keuangan Anda selama bertahun-tahun lamanya. Selain itu, utang tidak akan pernah menjadi solusi yang baik atas permasalahan finansial, karena Anda akan membayar lebih banyak untuk itu.

Anda tidak bisa menentukan secara pasti kapan resesi akan berakhir. Bahkan, bisa jadi masa-masa sulit akan berlangsung lebih lama yang perkiraan. Sebab itu, persiapkan dana darurat sejak dini. Mulailah menabung sebelum krisis keuangan melanda, karena jika Anda menabung ketika resesi terjadi, maka hal tersebut sudah terlambat.

  • Buat anggaran dan bayar utang

Resesi merupakan suatu hantaman yang menguji seberapa kuat Anda secara finansial. Tak bisa dipungkiri bahwa ketika resesi, kehidupan menjadi lebih sulit untuk dijalani. Pekerjaan menjadi langka, pendapatan menurun bahkan tidak ada sama sekali, dan semakin parah jika Anda memiliki beban utang yang tinggi. Beban utang tersebut tentu semakin menambah tekanan dalam situasi yang penuh dengan tekanan.

Selama resesi, kebutuhan akan semakin sulit dipenuhi dan pengeluaran sehari-hari juga akan sulit ditutupi, apalagi pembayaran utang. Sebab itu, berhati-hatilah dalam mengambil keputusan terkait dengan keuangan Anda. Jangan sampai terjebak dengan utang yang semakin besar, karena berisiko tinggi. Mungkin Anda merasa masih memiliki kemampuan untuk membayarnya, tetapi jika ada sedikit saja perubahan faktor eksternal, maka dapat berpengaruh pada kemampuan Anda tersebut. Misalnya kehilangan pekerjaan, bisnis tidak menghasilkan uang, atau kenaikan suku bunga. Faktor-faktor tersebut akan mengubah situasi keuangan Anda menjadi lebih buruk.

Untuk bisa bertahan di masa resesi, buatlah anggaran yang mencerminkan aliran kas Anda secara akurat. Prioritaskan membayar utang, agar Anda dapat mengantisipasi bahkan menghindari godaan yang lebih buruk, yakni menambah utang atau membuat utang baru. Dengan anggaran tersebut, Anda dapat mengidentifikasi area pengeluaran yang mungkin untuk dikurangi, sehingga porsi uang untuk membayar utang lebih banyak. Anggaran merupakan kunci bagi pengelolaan uang yang lebih baik.

  • Menerapkan gaya hidup lebih hemat

Secara umum semakin tinggi pendapatan yang diperoleh akan memicu penerapan gaya hidup yang semakin tinggi pula, di mana pengeluaran semakin besar sehingga cenderung mengarah pada pemborosan. Selama masa resesi, gaya hidup boros jelas akan memperburuk keuangan Anda. Sebab itu, beralihkan ke gaya hidup hemat.

Belajar menerapkan gaya hidup hemat penting dilakukan. Sebab, Anda dapat mengurangi pengeluaran dan meningkatkan tabungan. Dengan finansial yang kuat, Anda tidak akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan gaya hidup baru ketika resesi melanda.

Satu hal yang perlu disadari bahwa hidup hemat bukanlah mengorbankan segala kesenangan Anda, melainkan membuat pilihan dan keputusan secara sadar untuk mengurangi pengeluaran dengan dampak minimal pada gaya hidup Anda.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menerapkan gaya hidup lebih hemat. Misalnya beralih ke angkutan umum daripada menggunakan kendaraan pribadi, menjual sebagian aset yang berlebih atau sudah tidak digunakan, memasak makanan sendiri daripada makan di luar, mengurangi pengeluaran untuk barang-barang non-kebutuhan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Meski demikian, pastikan pemotongan pengeluaran yang dilakukan tidak terlalu ekstrem, sehingga sulit dipertahankan di masa yang akan datang.

  • Diversifikasi pendapatan

Anda mungkin sudah tidak asing dengan ungkapan ‘jangan taruh semua telur dalam satu keranjang’. Meski ditujukan untuk investasi, namun ungkapan tersebut bisa juga diterapkan pada pendapatan Anda.

Jika Anda hanya memiliki satu pekerjaan, di mana seluruh pendapatan Anda berasal dari pekerjaan tersebut, maka Anda memiliki risiko yang tinggi pada finansial Anda. Sebab, ketika ekonomi merosot dan Anda kehilangan pekerjaan, otomatis Anda pun akan kehilangan sumber pendapatan satu-satunya. Akibatnya, kemampuan Anda untuk memenuhi semua kewajiban finansial juga menurun drastis.

Agar finansial Anda tidak terganggu ketika terjadi resesi, mulailah untuk mencari sumber pendapatan lainnya. Bisa dengan mencari pekerjaan sampingan, menyewakan kamar di rumah Anda, menyewakan ruang di garasi, atau yang lainnya. Apabila jam kerja dari pekerjaan Anda cukup fleksibel, Anda bisa mempertimbangkan untuk mendapatkan pekerjaan sampingan di akhir pekan. Anda juga bisa mengembangkan keterampilan dan keahlian yang dimiliki untuk meningkatkan pendapatan, misalnya menulis artikel, membuat konten blog, agen properti, dan lainnya.

  • Diversifikasi investasi

Siapa bilang investasi membutuhkan modal besar? Anda bisa mulai berinvestasi dengan modal kecil melalui produk-produk investasi yang beragam, seperti reksadana, sukuk, dan lainnya. Namun, jika Anda memiliki kecukupan modal untuk berinvestasi, maka diversifikasikan investasi tersebut. Ingat, ungkapan ‘jangan letakkan semua telur dalam satu keranjang’ jelas berlaku untuk ini. Artinya, jangan menempatkan seluruh modal Anda pada satu jenis investasi saja.

Di saat Anda memutuskan untuk berinvestasi, maka pastikan bahwa investasi tersebut tersebar di berbagai industri dengan jenis aset yang bervariasi. Hal ini untuk menghindari risiko kerugian yang lebih besar ketika pasar jatuh akibat ekonomi merosot. Jika pun ada kerugian, maka nilainya tidak terlalu besar dan Anda masih memilih aset pada jenis investasi lainnya.

Berinvestasi dalam surat berharga seperti saham membutuhkan keahlian khusus, seperti kemampuan memprediksi dan menganalisis pergerakan pasar. Untuk menghasilkan pendapatan, Anda bisa juga berinvestasi dalam obligasi. Tak hanya itu, untuk mengurangi risiko kerugian dan kerentanan terhadap penurunan ekonomi, Anda bisa melakukan diversifikasi dengan berinvestasi ke negara lain. Investasi tak harus selalu bermain surat-surat berharga seperti saham, obligasi, deposito, dan lain sebagainya. Anda bisa membeli properti berupa rumah, kondominium, atau tanah.

  • Jangan menjaminkan aset pribadi

Setiap pengajuan pinjaman atau kredit ke bank pastilah harus disertai dengan adanya agunan atau jaminan aset yang umumnya berupa sertifikat rumah atau tanah, BPKB kendaraan, surat piutang (invoice), hasil kebun atau ternak, logam mulia, mesin pabrik, dan inventori atau barang persediaan. Sayangnya, jaminan aset pribadi sering kali menjadi jerat finansial yang bisa mengakibatkan kebangkrutan.

Bagi Anda pelaku usaha atau seorang wirausahawan, pastikan bahwa aset pribadi dengan aset usaha Anda terpisah, sehingga ketika Anda membutuhkan tambahan modal dan mengajukan pinjaman ke bank, jaminan yang digunakan adalah aset usaha, bukan aset pribadi. Hal ini sebagai antisipasi agar Anda tidak kehilangan seluruh aset pribadi Anda akibat penyitaan ketika pinjaman Anda mengalami gagal bayar.

  • Kumpulkan uang tunai

Di masa resesi, uang tunai jauh lebih berharga dan dibutuhkan dibandingkan dengan jenis aset lainnya seperti properti dan surat berharga, kecuali logam mulia. Oleh sebab itu, kumpulkan uang tunai ketika gejala resesi mulai terasa. Hal ini bisa ditindaklanjuti dengan menarik uang dari tabungan atau deposito, guna mengantisipasi kegagalan bank menjaga likuiditasnya. Selain itu, bisa juga dengan menjual aset yang dimiliki seperti properti. Mungkin cukup menyakitkan, namun penjualan aset berupa properti harus dilakukan lebih awal selagi aset masih memiliki nilai. Sebab, ketika resesi terjadi umumnya harga properti menurun.

  • Merampingkan aset

Menjadi kaya dengan memiliki banyak aset bukanlah suatu kutukan, terutama bagi Anda yang memperolehnya dari harga peninggalan orang tua atau warisan. Banyaknya aset yang Anda miliki belum tentu dimanfaatkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Bahkan, kebanyakan dari aset tersebut mungkin hanya berfungsi sebagai simpanan atau investasi saja.

Ketika gejala resesi mulai dirasakan, ada baiknya Anda mulai melikuidasi aset yang tidak diperlukan, baik itu rumah atau tanah yang tidak dimanfaatkan sehingga pasif dan tidak produktif, kendaraan tambahan, barang-barang koleksi, atau yang lainnya. Dengan menjual sebagian aset pasif, Anda dapat menghemat lebih banyak untuk biaya perawatan aset-aset tersebut, sehingga di saat resesi benar-benar terjadi, Anda tidak lagi dipusingkan dengan pengeluaran untuk perawatan aset pasif tersebut.

  • Merampingkan bisnis

Memiliki bisnis yang berkembang dan sukses dengan banyak cabang tentu menjadi harapan semua pelaku bisnis. Namun, apa daya jika kondisi ekonomi mengalami keterpurukan yang berdampak pada kelancaran bisnis. Solusi yang bisa diambil agar bisa selamat dari resesi adalah dengan merampingkan bisnis. Misalnya menutup cabang-cabang yang omzetnya di bawah target. Konsekuensinya memang harus memberhentikan sebagian pekerja. Situasi yang sulit, tetapi harus dilakukan. Namun percayalah bahwa ketika kondisi ekonomi mulai membaik, akan lebih mudah dan lebih murah untuk meningkatkan bisnis di kemudian hari, yakni ketika upah tenaga kerja tidak terlalu tinggi dan pengeluaran modal menjadi lebih efektif.

Resesi sebagai kemerosotan ekonomi sebenarnya bersifat musiman. Kondisi ini terjadi karena dipicu oleh sesuatu yang luar biasa, yang mampu melumpuhkan aktivitas perekonomian secara luas. Misalnya saja perang, bencana alam, atau pandemi corona seperti yang terjadi sekarang ini. Apapun itu, kita tetap harus mempersiapkan diri agar tidak binasa dan mampu bertahan serta selamat baik secara lahiriah maupun finansial.

Artikel Terkait

Demikianlah artikel tentang cara agar selamat dari jurang resesi, semoga bermanfaat bagi Anda semua.



Cara Bank Memperoleh Keuntungan
Cara Mengatur Uang Ala Dave Ramsey
Cara Cek Tagihan Listrik di Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee
20 Cara Mengurangi Pengeluaran saat Belanja
Keuntungan / Dampak Positif dari Resesi
Cara Membuat Bisnis Level Internasional
Apa Itu EBIT dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Cara Berinvestasi Dengan Dana Yang Terbatas
Cara Mudah Memangkas Pengeluaran
Cara Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup


Bagikan Ke Teman Anda